Tuesday , October 15 2019
Home / BERITA / Nihaal, Buyut Imam Lapeo Wakili Sulbar Lomba Hifzil Qur’an Tingkat Nasional
NIHAAL Buyut KH. Muhammad Thahir Imam Lapeo yang menjadi pemenang juara satu lomba Hifzil Qur'an Juz 30 tingkat Provinsi Sulawesi Barat beberapa waktu yang lalu

Nihaal, Buyut Imam Lapeo Wakili Sulbar Lomba Hifzil Qur’an Tingkat Nasional

POLMAN, TAYANG9- Nihaal, salah satu Buyut KH. Muhammad Thahir Imam Lapeo akhirnya keluar sebagai juara satu lomba Hifzil Qur’an tingkat Provinsi Sulawesi Barat dan mengantarnya sebagai pemenang yang berhak melenggang ke ajang nasional lomba Hifzil Qur’an tingkat nasional yang akan digelar dalam pekan depan ini di Makassar.

Nihaal yang kini berusia 11 tahun kepada media ini di rumahnya di Desa Lapeo Kecamatan Campalagian Polewali Mandar mengatakan, keikutsertaannya menuju ajang tingkat nasional itu berkat usaha dan peran serta dorongan sejumlah pihak.

“Salah satu yang memberikan dorongan kepada saya itu ayah dan ummi saya, juga guru saya di Masjid Imam Lapeo yang selama ini membimbing saya dalam belajar hingga akhirnya diperkenankan untuk mengikuti lomba,” ujarnya dalam bahasa yang datar layaknya anak-anak seusianya.

Didampingi Fahruddin Wahid ayahnya dan Sitti Nur Amilan, A.Ag. M.Pd umminya malam kemarin, Sabtu 05 Oktober 2019 Nihaal mengatakan, dirinya awalnya malu-malu dan tidak terlalu percaya diri.

“Namun karena dorongan dari Ayah dan Ummi juga ustadz guru mengaji dan guru-guru di sekolah, utamanya keluarga akhirnya saya mau ikut lomba dan alhamdulillah berkat doa semua pihak saya dapat juara,” ujar Nihaal yang merupakan santriwati Pondok Tahfidz Qur’an Masjid Nuruttaubah KH Muhammad Thahir Imam Lapeo.

Senada dengan Nihaal, sang ayah Fahruddin Wahid mengatakan, keikutsertaan anak kedua yang juga anak bungsu dari dua anaknya itu, aslinya agak pemalu, “tapi kami selalu meyakinkan bahwa lomba yang diikuti itu juga adalah bahagian dari belajar juga akan menjadi ibadah jika berangkat dari niat yang ikhlas,” beber Fahruddin.

NIHAAL duduk di tengah diapit oleh Fahruddin Wahid Ayahnya dan Sitti Nur Amilan, A.Ag. M.Pd Umminya (dok. pribadi photo keluarga)

 

Sementara itu, Sitti Nur Amilan, umminya juga mengakui bahwa Nihaal anaknya yang tercatat sebagai murid kelas 6 SDN Inp. 028 Lapeo itu adalah anak masih senang bermain, namun dirinya mengaku heran mendadak tanpa kendala yang begitu berarti akhirnya bisa juga menjadi peserta ajang yang berskala nasional itu.

“Iya aslinya masih bermain layaknya anak-anak, namun saya melihat selain suka bermain juga tampak serius dan senang belajar, utamanya mengaji. Dan Alhamdulillah setelah melewatu sejumlah tahapan, mulai tingkat kecamatan, tingkat kabupaten dan provinsi kini harus melewati tingkat nasional,” bebernya.

Sitti Nur Amilan berharap, Nihaal anaknya yang ikut hapalan juz 30 itu kelak, kembali bisa mengharumkan nama baik provinsi Sulawesi Barat di kancah nasional di Makassar. “Saya berharap anak kami bisa keluar sebagai juara di tingkat nasional dan mengharumkan nama daerah kita. Karenanya, saya berterima kasih banyak kepada semua pihak yang telah banyak membantu perjalanan dan usaha anak kami, juga sekaligus memohon doa restu semua pihak semoga kelak dapat meraih kemenangan yang gemilang, sehingga kelak Sulbar secara khususnya lapeo sungguh bisa menjadi episentrum pengembangan syiar Islam dan tetap membangun iklim agama dan spritualitas yang baik bagi generasi yang sedang bertumbuh,” kunci Sitti Nur Amilan, anak kandung Annangguru Hj. Nurlina Muhsin Thahir ini.

About EDITOR

Alamat Redaksi: Boyang Nolpitu Berkat Pesona Manding Polewali Mandar Sulawesi Barat Surel: tayangssembilan@gmail.com Gawai: +62 852-5395-5557

Check Also

Ketua DPRD Sulbar Ajak Masyarakat Tolak Radikal dan Terorisme

Mamuju -Tayang9 – Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Derah (DPRD) Provinsi Sulawesi Barat Suraidah Suhardi, menghadiri …

Wiranto Ditikam, MUI Sulbar : Itu Tidak Dibenarkan Dalam Islam

Mamuju – Tayang9 – Menanggapi peristiwa penikaman terhadap Menkopolhukam Wiranto, yang terjadi beberapa waktu lalu, …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KACO baru saja menaiki punggung kuda balibbinna, namun belum sempat ia keluar menuju jalan yang berkerikil depan rumahnya, mendadak ia disuguhi pemandangan segerombol anak-anak putih abu yang berkonvoi memacu sepeda motornya dengan suara knalpot yang memekik mengalahkan ringkik kudanya. Urung melangkahkan kaki kudanya, Kaco lalu berteriak dan bertanya kepada Cicci yang sedang membilas daster kenu’na di samping passauang, “allo apa dite’e di’e Kindo’na”. Cicci menjawab, “allo araba’ sippara hari pendidikan nasional”. Kaco membatin, “Oh, pantas anak-anak sekolah itu merayakannya dengan trek-trekan. Semoga kemajuan pendidikan tidak saja bergerak lamban, namun berlari kencang sekencang sepeda motor trek-trekan anak putih abu itu”.[yat teha]