
SULAWESI Barat kembali kehilangan salah seorang putra terbaiknya. Kiai Syibli Sahabuddin, atau yang akrab disapa Annangguru Syibli, telah berpulang ke hadirat Allah Swt. Kepergiannya bukan sekadar kehilangan seorang ulama, melainkan juga kehilangan sosok pendidik yang mampu menjembatani kedalaman ilmu agama dengan bahasa yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Ia memiliki kemampuan menyampaikan pesan-pesan keagamaan secara jernih, menyentuh, dan mudah dipahami oleh berbagai kalangan. Di tengah masyarakat yang membutuhkan pencerahan, Annangguru Syibli hadir bukan hanya sebagai penyampai ajaran agama, tetapi juga sebagai penerjemah nilai-nilai keislaman ke dalam bahasa kehidupan sehari-hari.
Sebagai putra Prof. KH. Sahabuddin, ulama kharismatik yang dikenal memiliki kedalaman ilmu tasawuf dan keteguhan dalam tradisi tarekat, Annangguru Syibli tumbuh dalam lingkungan keilmuan yang kuat. Dari ayahandanya, ia mewarisi fondasi keagamaan, keteladanan akhlak, dan tradisi keilmuan klasik yang menjadi ciri khas para kiai. Namun, perjalanan intelektualnya tidak berhenti pada warisan keluarga. Pendidikan di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta serta pengalaman memperluas wawasan keilmuan membentuk dirinya menjadi sosok yang mampu mempertemukan khazanah Islam klasik dengan pemikiran Islam modern.
Perpaduan itulah yang kemudian mewarnai kiprah pengabdiannya di tengah masyarakat. Ia hadir melalui berbagai ruang pengabdian, baik sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), akademisi dan rektor Universitas Al Asyariah Mandar, maupun sebagai tokoh agama yang aktif memberikan pencerahan melalui ceramah-ceramah keagamaan. Dalam berbagai peran tersebut, ia memperlihatkan bahwa ilmu tidak cukup hanya dikuasai, tetapi juga harus disampaikan dengan cara yang dapat menjangkau hati dan pikiran orang lain.
Salah satu keistimewaan Annangguru Syibli terletak pada kemampuannya berkomunikasi. Tidak semua orang yang memiliki kedalaman ilmu mampu menjelaskan pengetahuannya dengan bahasa yang sederhana. Sebaliknya, tidak sedikit pula orang yang pandai berbicara, tetapi kurang memiliki fondasi keilmuan yang memadai. Annangguru Syibli memperlihatkan perpaduan keduanya: kedalaman ilmu dan kecakapan menyampaikannya. Ia mampu mengolah pesan keagamaan menjadi uraian yang terang, komunikatif, dan mudah diterima masyarakat.
Dalam ceramah-ceramahnya, bahasa metafora, perumpamaan, dan ungkapan yang akrab dengan tradisi para kiai menjadi jembatan untuk menjelaskan persoalan keagamaan. Khazanah kitab kuning yang menjadi rujukan keilmuan klasik tidak berhenti sebagai pengetahuan yang tersimpan di ruang-ruang pengajian. Melalui kemampuan komunikasinya, khazanah tersebut dihidupkan kembali dalam bahasa yang dekat dengan pengalaman masyarakat. Di sinilah letak keunggulannya: ia tidak sekadar menyampaikan apa yang tertulis dalam kitab, tetapi berusaha menghadirkan makna dan pesan yang terkandung di dalamnya.
Kemampuan tersebut tentu tidak terlepas dari perjumpaan berbagai tradisi keilmuan dalam perjalanan hidupnya. Warisan tasawuf dan tradisi tarekat dari ayahandanya memberikan fondasi spiritual yang kuat. Sementara itu, pergumulan dengan pemikiran Islam modern, termasuk gagasan Prof. Fazlur Rahman dan Prof. Harun Nasution, memperkaya cara pandangnya dalam memahami persoalan keagamaan. Perpaduan ini menghadirkan warna tersendiri dalam ceramah-ceramahnya. Pesan tasawuf dapat bertemu dengan penjelasan filosofis, sedangkan persoalan teologis yang terkesan rumit dapat diuraikan melalui bahasa yang lebih membumi.

Annangguru Syibli juga memiliki keluwesan dalam menjangkau pendengarnya. Bagi masyarakat awam, ia mampu menyampaikan ajaran agama dengan bahasa sederhana tanpa kehilangan substansinya. Sementara bagi kalangan yang memiliki pemahaman keagamaan lebih mendalam, khususnya para pengamal tarekat, ia dapat menguraikan persoalan yang lebih kompleks. Kemampuan menyesuaikan bahasa dengan kapasitas pendengar inilah yang membuatnya menjadi sosok kiai yang komunikatif. Ia tidak menyederhanakan ilmu hingga kehilangan makna, tetapi menjelaskan kedalaman makna agar dapat dipahami sesuai dengan kemampuan orang yang mendengarnya.
Model komunikasi keagamaan seperti ini penting untuk diapresiasi. Seorang kiai bukan hanya dituntut menguasai dalil dan memahami kitab, melainkan juga perlu memiliki kepekaan terhadap keadaan masyarakat. Dakwah tidak semata-mata persoalan menyampaikan kebenaran, tetapi juga bagaimana kebenaran itu dapat diterima, dipahami, dan diamalkan. Dalam diri Annangguru Syibli, kedalaman tradisi dan keterbukaan terhadap pemikiran modern bertemu dalam satu ruang pengabdian.
Meski komunikatif dan dinamis dalam menyampaikan ajaran agama, ia tetap memiliki pijakan keilmuan dan pendirian yang menjadi pegangan. Keluwesan dalam berdakwah bukan berarti kehilangan prinsip. Justru, keteguhan pada nilai-nilai keagamaan yang diyakini memberinya ruang untuk menjelaskan Islam secara lebih terbuka, bijaksana, dan kontekstual.
Kini, Annangguru Syibli telah berpulang. Namun, cara ia merawat ilmu dan menyampaikannya kepada masyarakat patut menjadi teladan bagi para pendakwah, akademisi, dan generasi penerus ulama di Sulawesi Barat. Warisan seorang kiai tidak hanya terletak pada banyaknya ilmu yang dikuasai, tetapi juga pada sejauh mana ilmu itu memberi pencerahan bagi kehidupan umat.
Selamat jalan, Annangguru Syibli. Semoga Allah Swt. menerima seluruh amal pengabdianmu, mengampuni segala khilafmu, dan menempatkanmu di sisi-Nya. Semoga ilmu dan keteladanan yang engkau tinggalkan terus hidup dalam ingatan serta menjadi cahaya bagi masyarakat yang pernah merasakan pencerahan darimu.
Bumi Pambusuang, 12 Oktober 2026
Ilham Sopu, S.S. adalah tokoh pendidik, Kepala MA Nuhiyah Pambusuang Polewali Mandar Sulawesi Barat. Dalam berbagai tulisan opini dan sosial keagamaannya, dirinya fokus menyoroti spiritualitas Islam, kemanusiaan, pelestarian tradisi, serta gagasan tokoh Islam kontemporer Indonesia, termasuk Nurcholish Madjid.




