CERPENGAGASAN

Kilah Gubernur Salah Baca Pancasila

KENDATIPUN sudah satu bulan berlalu. Tapi sampai sekarang Kateng belum bisa melupakan kejadian yang menurutnya amat memalukan itu. Bagaimana mungkin seorang gubernur yang baru seumuran jagung menjabat, bisa terkilir lidahnya saat membaca pancasila. Sila ‘Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia’ di tempatkan setelah sila pertama, ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’. Bagi Kateng hal tersebut tak lazim dan tak seharusnya dilakukan oleh seorang kepala daerah. Apalagi mengingat baru juga beberapa purnama menjabat sebagai gubernur.

Orang-orang mungkin sudah melupakan itu dan bisa memakluminya. Pemberitaannya yang sempat menjadi trending topik di beberapa media lokal sekarang bisa saja sudah menjadi arsip. Ditimbun oleh berita-berita yang lebih segar untuk diperbincangkan. Videonya yang sempat viral, nongol di youtube, dibagikan dari akun ke akun media sosial. Hingga ditayangkan pada acara infotainment di beberapa stasiun televisi.

Banyak orang mungkin sudah menganggap hal itu sebagai angin lalu. Dan tidak relevan lagi jika masih diungkit-ungkit sekarang. Apalagi yang bersangkutan sudah memberikan klarifikasi. Jadi semuanya tak perlu dibahas lagi yang hanya akan memicu terjadinya perdebatan.

Tapi tidak dengan Kateng. Bahkan video gubernur yang salah baca pancasila itu disimpan pada folder tersendiri di HP-nya. Kateng yang sudah ditakdirkan tidak mudah melupakan sesuatu. Untuk melupakan gubernur yang salah baca pancasila sama rumitnya untuk melupakan mantan pacarnya yang menghianatinya. Bayangkan sudah sebulan berlalu, Kateng benar-benar tidak bisa menghilangkan dalam benaknya tentang itu. Makin ganjilnya lagi setelah mendengar pernyataan gubernur tersebut yang memberikan klarifikasi.

Gara-gara pernyataan kontroversial itu. Beberapa malam terakhir ini Kateng dan kedua kerabatnya. Gencar melakukan obrolan ringan tentang kilah gubernur salah baca pancasila. Malam ini pun begitu. Saat pemuda-pemuda lainnya sibuk dengan urusan persiapan pemilihan kepala desa yang tidak lama lagi akan dilaksanakan. Mereka bertiga lebih memilih untuk memperbincangkan gubernur salah baca pancasila.

“Jika urusan pembacaan pancasila saja bisa keliru, terlebih lagi jika dihadapkan urusan yang lebih rumit nan kompleks,” gerutu Ba’du yang sedari dulu memang tidak senang dengan gubernur. Itu hal lumrah. Mengingat pada pesta demokrasi kemarin Ba’du terhimpun dalam barisan tim sukses calon Z. Walaupun pada akhirnya kalah. Sampai sekarang Ba’du belum bisa move on dari kekalahan jagoannya itu. Dan mengenai gubernur salah baca pancasila. Ba’du memanfaatkannya sebagai senjata ampuh untuk berdebat dengan orang-orang pendukung gubernur.

Sejak video itu viral di jagat media. Bukan main senangnya yang dirasakan Ba’du. Ia memiliki bumerang untuk membungkam lawan-lawannya kemarin. Dari pos ronda yang satu ke pos ronda yang lain. Video itu diputar diperlihatkan kepada mereka. Sejurus kemudian perdebatan sengit pun terjadi.

“Kemanakanku saja, yang baru kelas dua SD sudah hapal pancasila di luar kepala. Kalau gubernur yang tidak hapal, itu tidak bisa dimaklumi lagi. Apalagi pembacaan pancasila itu terjadi pada upacara memperingati hari sumpah pemuda. Jika urusan itu saja bisa salah. Apatah lagi jika dihadapkan urusan yang lebih besar. Gawat kalau sudah seperti itu jadinya,” lanjut Ba’du penuh aksentuasi di hadapan kedua sahabatnya.

“Gubernur kita bukan tidak hapal pancasila.”

“Terus apa? Lupa? Lumrahkah seorang gubernur yang notabene orang nomor satu di provinsi lupa urutan pancasila?” Ba’du memotong perkataan Ma’mang.

“Gubernur kita kan juga manusia. Namanya manusia tidak akan pernah terhindar dari sifat keliru. Saya rasa persoalan itu bisa dimaklumi. Dan tidak perlu terus-terusan diperdebatkan,” ketus Ma’mang. Berbeda dengan Ba’du. Walaupun mereka sahabat. Tapi kerap kali berbeda pandangan mengenai sesuatu hal. Jika Ba’du yang selalu kontra dengan gubernur. Maka Ma’mang berada dipihak pro.

Lain Ba’du, lain Ma’mang dan lain juga Kateng. Jika kedua sahabatnya itu terang-terangan mengumamkan kandidat pilihannya pada pesta demokrasi kemarin. Maka Kateng menutup rapat-rapat suaranya. Tidak ada yang tahu Kateng memihak ke mana. Tidak juga golput. Bagi Kateng golput adalah pencederaan terhadap demokrasi. Rupanya Kateng sangat menghayati asas demokrasi LUBERJURDIL.

“Iya aku tahu, semua manusia pernah salah dan keliru.”

“Makanya berhentilah mempersoalkan gubernur salah baca pancasila,” potong Ma’mang.

“Awalnya saya sudah mencoba tidak mengungkit itu lagi. Tapi setelah mengetahui pernyataan gubernurmu itu mengapa bisa salah baca pancasila. Makanya saya kembali bersuara dan mempersoalkannya. Tidakkah kalian tahu gubernur berkilah lantaran selalu kepikiran radikalisme, terorisme, komunisme, aksi demo dan persoalan lainnya. Kesemuanya sering terjadi di negeri ini karena katanya, kata gubernurmu itu masih terlalu jauh antara sila pertama dan sila kelima. Sehingga lidahnya terkilir pada waktu itu. Seharusnya sesudah sila pertama adalah sila kedua. Ehh, malah menyebut sila kelima. Apa susahnya sih mengakui kekeliruannya. Tidak usah ngeles.” Obrolan malam ini seakan-akan menjadi panggung bagi Ba’du untuk meng-skak-mat Ma’mang.

“Saya juga sempat melihat videonya dan membaca beritanya. Dan sampai sekarang saya belum bisa mengerti maksud gubernur mengatakan jarak antara sila pertama dan sila kelima jauh sehingga maraknya terjadi radikalisme, terorisme dan lain sebagainya. Belum lagi gubernur menambahkan perkataannya, ‘bisakah sila pertama pancasila didekatkan dengan sila kelima?’ begitulah perkataan gubernur di hadapan audiens saat itu,” komentar Kateng.

“Perkataan gubernur seperti itu dari sudut pandang saya. Seolah-olah ia memberikan usulan sila pertama dan sila kelima baiknya diurutkan. Jadi setelah Ketuhanan Yang Maha Esa disusul keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Baru kali ini lho ada gubernur yang berani memberi usulan perubahan letak sila panacasila. Padahal pancasila dirancang oleh beberapa tokoh, jadi tidak mungkin ada kesalahan dalam urutannya,” lanjut Ba’du penuh semangat.

“Jika sila pertama ditempatkan di kepala dan sila kelima berada di kaki. Maka pertanyaan gubernur, bisakah sila pertama didekatkan sila kelima? Sama saja jika kita bertanya bisakah kaki didekatkan dengan kepala? Atau kaki ditempatkan di dada?” perkataan Kateng seperti itu membuat Ba’du terbahak-bahak. Ma’mang hanya bisa menikmati rokoknya. Tampak berfikir keras untuk bisa membalas perkataan kedua sahabatnya itu.

Ma’mang sedikit menyayangkan sikap Kateng malam ini. Biasanya Kateng selalu berada di pihak netral. Tapi kali ini Kateng seolah-olah memihak pada Ba’du. Obrolan mereka berlangsung di ruang tengah di kediaman Ba’du. Orang tua Ba’du dan saudaranya tidak peduli dengan pembahasan itu. Mereka lebih memilih menghadapkan wajahnya ke televisi. Fokus menyaksikan acara pencarian bakat musik dangdut.

“Memangnya letak pancasila tidak sesuai bagaimana lagi? Penyusunannya saja butuh proses, dipikirkan dengan matang dan dimusyawarakan bersama. Kan aneh baru juga beberapa bulan menjabat sebagai gubernur malah mau menukar sila seenak-enaknya. Apa kata Bung Karno dan rekan-rekannya di alam sana,” ketus Ba’du diikuti gelak tawanya yang menganggu kefokusan orang-orang di depan televisi menonton acara dangdut. Puas yang dirasakan Ba’du membuat Ma’mang tidak berkutik barang sepatah kata lagi. Pura-pura menikmati rokoknya. Padahal dari raut wajahnya sedang berpikir keras mengumpulkan kata-kata untuk melawan Ba’du.

“Urutan pancasila jelas-jelas sudah mantap. Pertama kita harus bertuhan, kemudian kita dituntut untuk membina hubungan baik, berbuat adil, dan saling menghargai terhadap sesama manusia. Berikutnya yang ditekankan persatuan. Kita dituntut untuk bersatu. Selanjutnya kita bermusyawarah, rakyat dipimpin dan memiliki wakil yaitu pemerintah. Jika keempat hal tersebut sudah dipenuhi. Maka terciptalah keadilan sosial bagi seluruh rakyat,” jelas Kateng setelah menyeruput kopinya yang mulai dingin.

“Biar tidak ada lagi radikalisme dan terorisme katanya sila pertama harus berdekatan dengan sila kelima,” kembali Ba’du membuka mulut.

“Entahlah barangkali saja kita salah menafsirkan perkataan gubernur. Bisa saja gubernur tidak bermaksud seperti itu. Kitanya saja yang keliru dalam menginterpretasikan perkataannya,” balas Kateng.

“Keliru bagaimana lagi? Jelas-jelas gubernurmu itu ingin sila pertama dan sila kelima berdekatan.”

Ma’mang yang sedari tadi hanya terpaku. Tak tak tahu harus berkata apalagi. Akhirnya ia membuka mulut. Terlebih dahulu ia memampuskan rokoknya. Meneguk kopinya hingga menyisahkan ampas.

“Mengenai sila pertama dan sila kelima yang letaknya terlalu berjauhan sehingga perlu didekatkan. Bisa saja yang dimaksud gubernur adalah implementasi atau pengamalan kedua sila tersebut. Jadi singkirkan penafsiran kalian yang menganggap perkataan gubernur ingin mengusulkan perubahan letak sila pancasila.”

“Membaca pancasila saja salah, bagaimana mau mengamalkannya,” balas Ba’du. Tanpa berkata-kata lagi, seketika Ma’mang langsung meninggalkan mereka. Ba’du dan Kateng hanya bisa saling bersitatap melihat kepergian Ma’mang dengan wajah yang kusut amat tak sedap di pandang.

***

Sejak insiden malam itu Ma’mang tidak mau lagi bergabung dengan mereka. Malam itu ternyata malam terakhir Ma’mang bersama sahabatnya. Malam-malam selanjutnya ia tidak pernah menampakkan batang hidungnya lagi. Bahkan saat mereka berpapasangan di pintu masjid usai salat jumat. Ma’mang akan selalu membuang muka dengan menutupi wajahnya menggunakan sajadah. Kateng dan Ba’du tampak tidak mengerti mengapa Ma’mang tiba-tiba labil seperti itu.

Makin sepi hari-hari Ba’du sejak Kateng memutuskan untuk kembali ke Pulau Jawa merampungkan segala urusan tetek bengek pendidikannya. Seandainya ada pilihan lain, Kateng tidak ingin kembali ke kota itu lagi. Bukan apanya sudah teramat banyak kenangan yang terukir bersama Ajeng mantan kekasihnya. Bagaimana bisa move on kalau selalu teringat kenangan asmaranya di kota itu. Memang perkara melupakan adalah hal yang terumit bagi seorang Kateng. Jangankan melupakan mantan, melupakan gubernur salah baca pancasila saja rumitnya minta ampun. Adapun Ba’du, ia baru sadar betapa persahabatannya dengan Ma’mang tercederai hanya karena perdebatan kilah gubernur salah baca pancasila.(**)

MAWAN SASTRA adalah penulis sastra yang berdomisili di Sulbar dan kini produktif menulis cerpen diberbagai media termasuk di media sosial dan blog

REDAKSI

Koran Online TAYANG9.COM - "Menulis Gagasan, Mencatat Peristiwa" Boyang Nol Pitu Berkat Pesona Polewali Sulbar. Email: sureltayang9@gmail.com Gawai: +62 852-5395-5557

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button