BERITASTRAIGHT NEWS

Takziah yang Menuntun pada Perjalanan Pulang

Muhammad Zain Menyampaikan Takziah kepada Para Pelayat Ayahandanya2

Polewali Mandar, Tayang9— Di tengah suasana duka atas wafatnya Djapareng bin Side, ayahanda Kepala Biro SDM Kemenag RI, Dr. Muhammad Zain, selain belasungkawa ia kemudian menjelma menjadi ruang perenungan tentang perjalanan manusia, dari dunia yang sementara menuju kehidupan yang kekal.

Dalam suasana khidmat itu, pembawa takziah adalah Muhammad Zain sendiri, ia mengajak para pelayat menengok kembali pemikiran Mulla Shadra dalam Kitab Al-Asfar al-Arba’ah—empat perjalanan spiritual manusia (Dari Makhluk ke Tuhan, Dari Tuhan ke Tuhan, dari Tuhan ke Makhluk dan dari Makhluk ke Makhluk bersama Tuhan).

Zain mengatakan bahwa hidup dalam pandangan filsafat Islam tidak berbicara tentang perjalanan dzhahir (dari lahir menuju kematian), tapi bicara tentang perjalanan kesadaran menuju Tuhan yang Abadi.

Ia mengungkapkan salah satu pesan dari kitab Mulla Sadra tersebut, begitu relevan untuk direnungkan,

النَّاسُ نِيَامٌ، فَإِذَا مَاتُوا انْتَبَهُوا
“Manusia itu tertidur, apabila mereka mati, mereka terbangun.”

Bahwa manusia sesungguhnya berada dalam keadaan tertidur. Ketika kematian datang, barulah tabir kesadaran itu tersingkap. Makna “Tidur” bukan berarti manusia benar-benar tidak sadar. Manusia tetap sadar terhadap dunia, melihat harta, jabatan, keluarga, kenikmatan, kesedihan, dan berbagai peristiwa.

Tetapi kesadaran itu masih terikat pada dunia material dan persepsi indrawi.
Karena itu, manusia sering mengira apa yang tampak sebagai seluruh kenyataan.
Padahal, bagi Mulla Ṣadrā, realitas memiliki lapisan-lapisan keberadaan. Apa yang kita lihat sekarang hanyalah salah satu tingkat dari perjalanan eksistensi manusia.

Karena itu, kematian bukanlah akhir perjalanan. Justru ia adalah awal mula kehidupan, mereka mulai melihat sesuatu yang selama hidupnya tidak terlihat. Pesan itu terasa semakin dalam ketika Zain berbicara tentang sakaratul maut.

Pada detik-detik terakhir kehidupan, kata dia, tidak diperlukan suara keras dan kepanikan. Justru yang dibutuhkan adalah ketenangan. Bisikkan dua kalimat shayadat, jika semakin dekat, cukup dengan “Laa ilaaha illallah.” Jika seseorang sangat dekat dengan ajal, cukup bisikkan, “Allah.”

Zain mengutip kisah tentang Harun Nasution yang dikenal dengan faham neo Mu’tazilah, turut disebut sebagai salah satu gambaran menarik tentang perjalanan intelektual menuju tasawuf.

Sosok yang dikenal sangat rasional itu pernah bertemu Abah Anom (Mursyid Tariqah Naqsabandiyyah dan Qodiriyyah). Di titik itulah Harun Nasution mulai mendalami tasawuf.

Demikian pula Syed Ameer Ali, seorang intelektual Muslim yang dikenal kuat dalam pendekatan rasional, disebut pernah diusap matanya oleh Abah Anom, sehingga tersingkaplah alam gaib.

Pesannya sederhana, rasionalitas dan spiritualitas tidak selalu harus dipertentangkan. Pada titik tertentu dalam perjalanan manusia, akal justru dapat mengantarkan seseorang untuk menyadari keterbatasannya dan mencari kedalaman makna di balik kehidupan.

Meninggalkan dunia yang fana adalah menyingkap tidur panjang kesadaran, dan menghadap kepada Allah yang sejak awal menjadi tujuan seluruh perjalanan.

Ditulis dari penuturan Kepala Biro SDM Kemenag RI saat menyampaikan Takziah malam ke-2 Ayahandanya, Djapareng Bin Side, di Tumpiling, Polewali Mandar, 19 Agustus 2026.

FARHAM RAHMAT

Alumnus Hukum IAI Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah Jakarta Timur dan Pascasarjana UIN Alauddin Makassar. selain aktif sebagai blogger juga aktif dalam pengembangan skill bahasa Inggris dan Arab serta serius nyantri di Majelis Sholawat Simpang M. Ketua Zain Office ini juga dipercaya sebagai editor di media katalogika.com, serta tercatat sebagai pemuda pelopor literasi digital Polewali Mandar

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
%d blogger menyukai ini: