Tuesday , July 23 2019
Home / ADVETORIAL / Wakil Bupati Mamuju Harap Ucapan Terimakasih Tak Menjadi Bibit Pungli
Wakil Bupati Mamuju Irwan Pababari saat sambutan di acara sosialisasi Sapu Bersih Pungutan Liar (Saber Pungli),bagi SMA/SMK, SLB dan SMP se Kabupaten Mamuju.

Wakil Bupati Mamuju Harap Ucapan Terimakasih Tak Menjadi Bibit Pungli

Mamuju – Tayang9 – Wakil Bupati Kabupaten Mamuju Irwan.SP. Pababari, soroti kebiasaan orang tua murid, yang memberikan ucapan terimakasih berupa barang atau uang kepada pihak sekolah.

Menurut Irwan Pababari, kebiasaan memberi barang atau uang sebagai ucapan terimakasih telah menjadi budaya masyarakat Mamuju yang memang beda tipis dengan praktek Pungutan Liar (Pungli).

“Namun, dua hal tersebut mesti dibedakan. Pungli merupakan tindakan penyalahgunaan wewenang, untuk melakukan pungutan yang tidak sah untuk memberi keuntungan pada diri sendiri,” ucap Irwan Pababari, di acara sosialisasi Sapu Bersih Pungutan Liar (Saber Pungli),bagi SMA/SMK, SLB dan SMP se Kabupaten Mamuju,di Ruang Pola Kantor Bupati Mamuju, Senin,08/07/19.

Selain itu ia juga menambahkan, dengan adanya sosialisasi saber Pungli pada jajaran sekolah yang digelar oleh Satuan Tugas (Satgas) saber pungli Provinsi Sulawesi Barat, diharapkan
dapat menjadi referensi bagi semua pihak.

“Sehingga praktek Pungli, juga penyogokan, gratifikasi, hingga korupsi dapat benar-benar diberantas mulai dari lingkungan sekolah,” tutupnya.(*)

About MASDAR

lahir dari keluarga petani, dan kini tengah serius menjadi seorang jurnalis dan penulis baik.

Check Also

Icon Baru Mamuju, Upaya Pemkab Mendorong Laju Ekonomi Masyarakat

Mamuju – Tayang9 – Konsen terhadap pengembangan sektor pariwisata, sebagai salah satu prioritas pembangunan yang …

Diduga Pecat Aparatnya Secara Sepihak, 4 Kades di Campalagian Dilaporkan ke Ombudsman

Polewali – Tayang9 – Lembaga Advokasi Masyarakat Desa (LAMDES), secara resmi melaporkan 4 Kepala Desa …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KACO baru saja menaiki punggung kuda balibbinna, namun belum sempat ia keluar menuju jalan yang berkerikil depan rumahnya, mendadak ia disuguhi pemandangan segerombol anak-anak putih abu yang berkonvoi memacu sepeda motornya dengan suara knalpot yang memekik mengalahkan ringkik kudanya. Urung melangkahkan kaki kudanya, Kaco lalu berteriak dan bertanya kepada Cicci yang sedang membilas daster kenu’na di samping passauang, “allo apa dite’e di’e Kindo’na”. Cicci menjawab, “allo araba’ sippara hari pendidikan nasional”. Kaco membatin, “Oh, pantas anak-anak sekolah itu merayakannya dengan trek-trekan. Semoga kemajuan pendidikan tidak saja bergerak lamban, namun berlari kencang sekencang sepeda motor trek-trekan anak putih abu itu”.[yat teha]