BERITAFEATURE

Assami Re! Menghidupkan Tradisi Mandar di Ruang Konseling: Jalan Junaedi Meraih Gelar Doktor

DALAM labirin dan kepungan teknologi yang membuat remaja lebih asyik pula khusyuk dengan layar ponsel ketimbang menyapa kawan sebayanya, sebuah jawaban justru datang dari masa lalu. Adalah Muhammad Junaedi Mahyuddin, seorang dosen yang juga pegiat seni budaya dan penghayat spritualitas yang percaya bahwa permainan tradisional bukan sekadar warisan usang, melainkan kunci untuk menyembuhkan krisis sosial siswa masa kini.

Siang tadi penanggalan menunjuk Jumat, 6 Februari 2026, suasana Ruang AD Lantai 5, Pascasarjana Universitas Negeri Makassar (UNM) terasa khidmat namun penuh semangat. Di sanalah Junaedi, yang juga menjabat sebagai Kaprodi Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Muhammadiyah Enrekang (UNIMEN), mempertanggungjawabkan buah pikirannya dalam Sidang Promosi Doktor.

Langkah Junaedi menuju gelar tertinggi ini bermula dari sebuah keresahan, jelas tegas dirinya resah melihat “tembok” di antara siswa. Dan karena itu, sebagai praktisi dunia pendidikan, ia kerap melihat fenomena menyedihkan di tingkat SMP: siswa yang gagap bekerja sama, sulit mengontrol emosi, hingga hilangnya empati.

“Terbinanya keterampilan sosial pada diri anak akan memunculkan penerimaan dari teman sebaya, guru, hingga kesuksesan belajar,” ungkap putra Mandar kelahiran Wonomulyo ini dengan yakin.

Keyakinan itulah yang melahirkan “ASSAMI Re”, sebuah model bimbingan kelompok inovatif yang berbasis permainan tradisional Mandar. Lewat model ini, Junaedi ingin membawa kembali keceriaan permainan rakyat ke dalam ruang bimbingan, menjadikannya jembatan bagi siswa SMP di Polewali Mandar untuk meruntuhkan tembok kecanggungan sosial mereka.

Penelitian yang tempo hari dilakukan di SMPN 1 Tinambung tersebut terbukti efektif. Junaedi berhasil membuktikan bahwa kearifan lokal bisa menjadi instrumen pendidikan yang progresif. Tak heran jika dewan penguji yang dipimpin oleh Prof. Dr. Wahira memberikan apresiasi tinggi.

Tak kurang, sebagaimana dicatat media, Plt. Rektor UNIMEN, Dr. Ismail, menyebut, keberhasilan Junaedi sebagai “kekuatan baru” bagi kampusnya. Baginya, Junaedi bukan sekadar menambah daftar doktor di UNIMEN, melainkan simbol lahirnya budaya mutu yang berakar pada identitas daerah.

Ucapan selamat pun mengalir, mulai dari Wakil Rektor II UNIMEN Dr. Elihami, hingga tokoh-tokoh penting seperti anggota DPR RI Muslimin Bando. Namun, di balik jubah doktor dan segala protokoler sidang, ada senyum bangga dari istrinya, Nirwana, dan ketiga buah hati mereka yang menjadi saksi tuntasnya perjalanan akademik panjang sang ayah.

Dan tak berlebihan, jika dikatakan, dari Tinambung dan Wonomulyo untuk Indonesia menjadi jejak panjang perjalanan Junaedi, sekaligus sebagai potret gigihnya seorang putra Mandar Sulawesi Barat. Dari SDN 008 Sidodadi hingga menembus jenjang S3 di UNM, ia tetap membawa identitasnya. Kini, dengan gelar doktor di pundak, tugas baru menanti: memastikan “ASSAMI Re” tidak hanya berhenti di atas kertas disertasi, tapi benar-benar dipraktikkan oleh guru-guru BK untuk mencetak generasi yang lebih peduli dan berempati.

Selamat, Doktor Muhammad Junaedi Mahyuddin. Permainan tradisional Mandar kini punya “panggung” baru di dunia pendidikan nasional.

REDAKSI

Koran Online TAYANG9.COM - "Menulis Gagasan, Mencatat Peristiwa" Boyang Nol Pitu Berkat Pesona Polewali Sulbar. Email: sureltayang9@gmail.com Gawai: +62 852-5395-5557

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
%d blogger menyukai ini: