BERITASTRAIGHT NEWS

Menengok Pembelajaran Dasar Nilai Kebangsaan Tempo Dulu

JELANG tengah malam hembusan angin yang dingin menembus tulang. Ditemani dingin dan malam yang penuh ketenangan di sudut kampung Dusun Satu Desa Sidorejo Wonomulyo Polewali Mandar, dua lelaki muda bersama satu lelaki jelang sepuh tengah berbincang ditemani kopi yang pekatnya serupa malam.

Lelaki yang nyaris sepuh itu adalah Sumarman. Kepada dua orang yang lebih muda, Sumarman bercerita banyak soal masa lalu. Termasuk saat ia masih anak-anak yang sekolah di sekolah dasar nomor 017 Sidorejo yang menurutnya, kala itu gedung tempatnya bersekolah hanya sebuah gubuk yang menggunakan anyaman bambu tanpa diolesi semen dan tumpukan batu.

“Dulu saat saya sekolah di SD 017 Sidorejo hanya sebuah gubuk kecil dengan anyaman bambu seadanya. Dan itulah yang kami tempati menempah ilmu waktu,” kenang Sumarman yang juga merupakan lulusan sekolah teknik mesin setara SMA.

Dikatakan Sumarman, dulu semuanya masih serba manual. Menulis tidak menggunakan pulpen, pensil ataupun buku hanya menggunakan alat tulis dengan sebutan saba’ atau batu tulis.

“Dulu juga, saya sekolah tidak ada alat tulis seperti pulpen, pensil atau buku hanya menggunakan alat tulis dengan sebutan Saba’ atau batu tulis, tapi semangat saya tidak pernah surut untuk selalu belajar,” urainya.

Sumarman juga mengisahkan, kala dirinya masih menjadi murid di SD 017 Sidorejo yang merupakan sekolah pertama di Desa Sidorejo dengan metode pembelajaran yang lebih menekankan pada wawasan kebangsaan.

“kami dulu sekolah penenaman nilai-nilai kebangsaan itu sangatlah kuat. Seperti kisah Sukarno sang proklamor yang gagah berani melawan penjajahan belanda. Walau Sukarno selalu menjadi sasaran Belanda karena kehebatan dan keberaniannya. Namun Sukarno, sebagaimana kami percayai memiliki kesaktian yang luar biasa dan sering membuat Belanda kala itu kebingungan. Atas kisah-kisah kesaktian dan kehebatan serta keberaniannya itulah, membuat semangat saya untuk ikut mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia,” beber Sumarman mengisahkan masa lalunya saat mendapatkan pembelajaran nilai-nilai kebangsaan.

Namun Sumarman menyayangkan, kini begitu banyak anak bangsa yang kemudian terlibat dalam perang antar suku, agama dan budaya. Dan hematnya, salah satu pemicunya adalah, metode pembelajaran ditingkat dasar yang tidak difokusakan pada pemahaman kebangsaan. Membuat banyak pelajar yang akhirnya memiliki faham keliru terhadap sejarah kebangsaan.

“Iya, saya juga sangat heran sekarang ini. Banyak anak-anak muda yang ingin merusak bangsanya sendiri tanpa melihat sejarah perjuangan para pendahulunya,” ungkapnya.

Tak pelak, Tias dan Irfandi yang keduanya merupakan pengurus karang taruna Desa Sidorejo yang ditemani Sumarman saat berkisah malam itu, 11 Desember 2019 sama berjanji tidak akan menghianati negerinya sendiri.

“Saya sebagai generasi bangsa dilahirkan di tanah air Indonesia akan bertekad untuk selalu mempertahan bangsa dan negara,” ujar Tias diamini Irfandi.

KARMUJI

Alumnus salah satu perguruan tinggi ini selain berkhidmat di Ansor juga dikenal aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakat dan gandrung pada diskusi sosial, budaya dan keagamaan

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button