PAGI itu Minggu 17 Agustus 2025, suasana hening penuh haru, bangga dan cinta. Dihadapan seluruh mata dunia memandang, terselip dua siswa diantara puluhan siswa terpilih lainnya. Memanggul tugas besar Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dari Desa Tandassura Kecamatan Limboro, menuju Kabupaten Polewali Mandar Zalfa Naqiyya menjadi Putri terpilih menjalankan tugas untuk mengibarkan sang saka bendera merah putih di Istana Negara mewakili Provinsi Sulawesi Barat.
Keberhasilannya dirayakan oleh segenap Masyarakat Kabupaten Polewali Mandar terlebih lagi sekolah dan kampung halamannya. Sulit bukan berarti tidak mungkin, mudah bukan berarti berpangku tangan.
Zalfa berhasil membuat kita semua menelisik lebih jauh, kira-kira apa yang Ia lakukan, perjuangkan dan rasakan selama proses berjuang serta mempersiapkan diri untuk menghadapi proses seleksi yang sangat ketat itu.
Dalam pesan dan nilai yang kita pahami dalam Masyarakat mandar, kita mengenal istilah “tiba sebelum berangkat” yang kerap dikaitkan dengan hal-hal spirit. Istilah ini kerap disampaikan pada pesan-pesan orang tua kepada anaknya.
Zalfa selaku gen Z berhasil menerjemahkan pesan itu dalam kehidupan dan prosesnya untuk sampai pada prestasi yang sangat membanggakan itu.
Sejak kecil Zalfa bercita-cita untuk menjadi seorang anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional di Istana Merdeka dihadapan Presiden Republik Indonesia.
Hal itu Ia mantapkan dalam diri dan jiwa Zalfa kecil yang setiap tanggal 17 Agustus dihari kemerdekaan Republik Indonesia Ia tidak pernah absen dalam menyaksikan siaran langsung Paskibraka Nasional di Televisi rumahnya.
Pada saat menonton siaran langsung pengibaran bendera pusaka nasional, Zalfa selelu melihat dirinya menjadi salah satu orang yang kelak akan berada dibarisan patriot itu.
Saya melihat langsung bagaimana Zalfa menceritakan kisah masa kecilnya itu dengan penuh semangat dan kegirangan. Ia tidak pernah merasakan keraguan bahwa mimpinya itu tidak akan tercapai.
Bukan karna jumawa, tapi inilah keyakinan dalam hati seorang Zalfa. The power of mind atau kekuatan pikiran yang merupakan kemampuan pikiran untuk mempengaruhi, membentuk dan mengendalikan kehidupan seseorang untuk mencapai kesuksesan.
Merupakan satu poin penting yang dapat saya sematkan kepada Zalfa pada saat saya bercengkrama dan mewawancarainya di Sekolahnya, UPTD SMAN 1 Tinambung di Sekretariat organisasi Leanguage Centre.
Leangue Centre merupakan organisasi sekolah yang dibina oleh Surianti S.Pd.I M.Pd, yang berfokus pada kegiatan mengembangkan diri siswa dalam public speaking dengan mempelajari 3 bahasa yaitu Bahasa Indonesia, Bahasa Jerman dan bahasa Inggris.
Ditemani oleh kepala UPTD SMAN 1 Tinambung, Semmang S.Pd M.H. menjelaskan bahwa Zalfa merupakan salah satu siswa teladan SMAN 1 Tinambung. Keaktifannya di organisasi bukan hanya paskibraka namun juga di Organisasi Leanguuage Centre membuktikan bahwa Zalfa merupakan siswa yang aktif.
Selain aktif menjalani Latihan dan proses menjadi seorang paskibra, Zalfa juga tetap mengikuti proses belajar mengajar seperti biasanya. Selain itu Zalfa juga aktif dan menjadi pimpinan organisasi Leanguage Centre dan banyak melakukan kegiatan positif didalamnya.
Bukan tanpa alasan, pada saat saya mewawancarai Zalfa, saya melihat betapa Panjang proses dan perjuangan yang telah Ia lalui untuk sampai pada tahap ini.
Sejak kecil Zalfa sudah meyakinkan dalam diri bahwa kelak Ia akan menjadi salah satu anggota Paskibraka yang akan mengibarkan sang saka di Istana negara. Hal itu tetap terjaga pada saat proses seleksi di Kabupaten, Provinsi lalu ke seleksi Nasional.
Pada saat seleksi di Kabupaten dan Provinsi, Zalfa selalu yakin bahwa Ia akan terpilih untuk menjadi dua dari puluhan peserta seleksi di Provinsi Sulawesi Barat untuk sampai pada Diklat Nasional.
Hal itu terbukti dan Zalfa membuktikannya. Saya belajar sesuatu dari Zalfa. Selama ini kita semua meyakini tentang kekuatan pikiran yang mampu membawa kita pada suatu hal. Namun Zalfa melengkapinya dengan hal-hal yang selama ini kita anggap sepele.
Untuk membuktikan kekuatan pikiran itu, Zalfa memacu diri untuk fokus belajar dan berlatih, mendisiplinkan diri dibawah dorongan support dari orang tua, guru dan teman-teman yang berharga.
Banyak cobaan dan ujian yang Zalfa temui dalam proses yang Ia jalani. Tekanan, pengaruh lingkungan, tertawaan serta berkali-kali diremehkan tidak pernah menjadi penghalang untuk Zalfa.
Ia mengarungi seluruh masalah itu dengan terus mendayung perahu kecilnya mengahapi keganasan ombak dan keluasan samudera. Ia tidak membenci bahkan tidak mengambil hati semua cibiran tersebut.
Alhasil seluruh ocehan itu berhasil Ia rubah menjadi tepuk tangan meriah dan mampu menjadi kebanggan kita semua.
The power of mind Zalfa Naqiyya merubah mindset semua orang yang berhubungan dengannya, bahwa kekuatan mengendalikan pikiran tidak hanya berkutat di kepala. Ia menjelma semangat dan keyakinan yang disalurkan melalui hal-hal positif dan menjadi spirit semua manusia disekitarnya.