Categories: KOLOMMURSYID SYUKRI

Syekh Abdul Mannan

Jejak Dakwah, Pendidikan Islam, dan Tradisi Maulid di Poralle Salabose

DALAM sejarah perkembangan Islam di Tanah Mandar, nama To Salama’ Syekh Abdul Mannan menempati posisi yang sangat penting. Hingga hari ini, makam beliau yang berada di Puncak Poralle Salabose, Kabupaten Majene, masih menjadi salah satu pusat ziarah keagamaan yang ramai dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan dari mancanegara.

Masyarakat Mandar mengenalnya sebagai seorang ulama, pendakwah, pendidik, sekaligus tokoh spiritual yang memiliki pengaruh besar dalam proses penyebaran Islam di wilayah Poralle Salabose Banggae dan sekitarnya.

Menurut tradisi tutur yang hidup di tengah masyarakat Poralle Salabose, Syekh Abdul Mannan datang dan mengembangkan ajaran Islam pada masa pemerintahan Daetta Melanto sekitar pertengahan abad ke-15. Dalam berbagai cerita yang diwariskan secara turun-temurun, beliau disebut menikah dengan seorang perempuan bangsawan bernama I Tambura Langi. Setelah memeluk Islam, I Tambura Langi kemudian diberi nama Sitti Aisyah.

Dalam perspektif sejarah Islam Nusantara, perkawinan antara para pendakwah dengan keluarga bangsawan lokal merupakan salah satu strategi dakwah yang banyak ditemukan di berbagai daerah. Melalui hubungan kekeluargaan tersebut, proses penerimaan agama baru berlangsung lebih damai dan lebih mudah diterima oleh masyarakat setempat. Pola yang sama juga ditemukan dalam sejarah penyebaran Islam di Jawa, Sulawesi, Kalimantan, hingga Maluku.

Karena itu, kisah perkawinan Syekh Abdul Mannan dengan I Tambura Langi dapat dipahami sebagai bagian dari proses integrasi antara nilai-nilai Islam dengan struktur sosial masyarakat Mandar pada masa itu.

Hingga saat ini, makam Syekh Abdul Mannan di Poralle Salabose terus menjadi tujuan para peziarah. Mereka datang dari berbagai daerah seperti Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Kalimantan, Pulau Jawa, hingga para tamu dari Jazirah Arab.

Fenomena ini menarik untuk dikaji secara ilmiah.

Dalam kajian antropologi agama, makam tokoh-tokoh penyebar agama sering berkembang menjadi pusat memori kolektif masyarakat. Masyarakat datang bukan untuk menyembah makam, melainkan untuk mengenang perjuangan dakwah, mengambil pelajaran dari kehidupan para ulama, serta memanjatkan doa kepada Allah SWT dengan mengingat jasa-jasa orang saleh yang pernah hidup di tempat tersebut.

Banyak peziarah mengaku mengenal nama Syekh Abdul Mannan melalui cerita para ulama, para syekh, maupun sesama peziarah yang pernah berkunjung ke Salabose. Dari sinilah berkembang keyakinan masyarakat tentang karamah yang dimiliki oleh Syekh Abdul Mannan semasa hidupnya.

Terlepas dari berbagai pengalaman spiritual yang bersifat personal, satu hal yang pasti adalah bahwa pengaruh dakwah beliau masih dapat dirasakan hingga hari ini melalui berbagai tradisi keagamaan yang tetap hidup di tengah masyarakat.

Salah satu warisan terbesar Syekh Abdul Mannan yang masih bertahan hingga sekarang adalah Al Qur’an tulusan Tangan , dan tradisi Maulid Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan setiap tahun di Poralle Salabose.

Di balik pelaksanaan Maulid tersebut terdapat sebuah peristiwa sejarah yang sangat penting, yaitu tradisi yang dikenal dengan nama Pessawe To Tamma’.

Menurut cerita yang diwariskan masyarakat, pada awal abad ke-16 Syekh Abdul Mannan bersama Daetta I Moro To Matindo di Masigi melaksanakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Pada saat itu Syekh Abdul Mannan menyampaikan perkembangan pendidikan Islam yang sedang beliau bangun di tengah masyarakat.

Beliau mengajarkan anak-anak dan generasi muda membaca Al-Qur’an, mengenal ilmu-ilmu agama, serta melantunkan Al-Barzanji sebagai bentuk kecintaan kepada Rasulullah SAW.

Dalam pertemuan tersebut, Syekh Abdul Mannan menyampaikan bahwa minat belajar agama masyarakat semakin meningkat dan semakin banyak anak-anak yang mampu membaca Al-Qur’an dengan baik.

Mendengar kabar tersebut, Daetta I Moro To Matindo di Masigi merasa sangat gembira.

Sebagai bentuk dukungan terhadap pendidikan Islam, beliau kemudian menyampaikan sebuah nazar atau janji di hadapan Syekh Abdul Mannan.

Beliau berkata bahwa apabila ada anak-anak yang berhasil khatam Al-Qur’an dan memiliki bacaan yang baik, maka beliau bersedia meminjamkan kudanya untuk ditunggangi dan diarak mengelilingi kampung.

Pada masa itu, kuda bukanlah kendaraan biasa.

Kuda merupakan simbol kehormatan, kewibawaan, dan status sosial yang umumnya hanya dimiliki oleh kalangan Tomakaka dan Mara’dia.

Karena itu, kesempatan menunggangi kuda milik seorang pemimpin merupakan penghargaan yang sangat besar bagi seorang anak.

Dari perspektif ilmu pendidikan modern, kebijakan Daetta I Moro To Matindo tersebut dapat dipahami sebagai bentuk motivasi ekstrinsik dalam proses belajar.

Anak-anak diberikan penghargaan sosial atas keberhasilan mereka dalam menuntut ilmu agama. Penghargaan tersebut menumbuhkan semangat belajar, meningkatkan kepercayaan diri, dan membangun budaya kompetisi yang sehat di tengah masyarakat.

Dengan kata lain, tradisi Pessawe To Tamma’ bukan sekadar prosesi adat, tetapi juga merupakan model pendidikan masyarakat yang telah diterapkan berabad-abad lalu oleh Syekh Abdul Mannan dan para pemimpin Poralle Salabose.

Hingga hari ini tradisi tersebut masih terus dipertahankan.

Setiap menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, anak-anak yang telah khatam Al-Qur’an diarak keliling kampung sebagai bentuk penghormatan atas keberhasilan mereka dalam mempelajari kitab suci.

Tradisi ini menjadi bukti bahwa pendidikan dan penghormatan terhadap ilmu telah menjadi bagian dari identitas masyarakat Poralle Salabose sejak masa awal Islam berkembang di wilayah Mandar.

Pelaksanaan Maulid di Poralle Salabose juga memiliki makna yang lebih luas.

Ia bukan sekadar peringatan hari kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi ruang pertemuan antara agama, adat, sejarah, dan silaturahmi keluarga besar keturunan Poralle Salabose.

Dalam pelaksanaannya, berbagai unsur kelembagaan adat turut terlibat, mulai dari Tomakaka Poralle Salabose, Puang Kadhi, Pappuangan, Imam, Pappuangan Simullu, To Matua Totongalloa, To Malamber di Totoli, To Limapponge’ di Galung, To Kayyang, Mara’dia Poralle, hingga seluruh perangkat adat dan masyarakat Banggae.

Keikutsertaan seluruh unsur tersebut menunjukkan bahwa adat dan agama dalam tradisi Mandar tidak diposisikan sebagai dua hal yang saling bertentangan, melainkan saling menguatkan dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis.

Secara historis, keterlibatan keluarga besar Poralle Salabose juga berkaitan dengan sejarah leluhur mereka.

Tradisi tutur menyebutkan bahwa Tomakaka Poralle, yaitu I Merrupa-rupa Bulawang, menikah dengan putri Tomakaka Salogang yang dikenal sebagai To Wuluang Pale’ Limanna.

Dari pernikahan tersebut lahirlah dua putra yang kemudian dikenal sebagai I Salabose dan I Banggae.

Hubungan genealogis inilah yang menjadi salah satu fondasi terbentuknya ikatan kekeluargaan besar yang hingga kini terus menjaga tradisi Maulid sebagai warisan bersama.

Tahun 2026 kembali menjadi momentum penting bagi masyarakat Poralle Salabose dan Banggae.

Insya Allah, peringatan Maulid Besar Nabi Muhammad SAW akan kembali dilaksanakan di kawasan Masjid Tua Purbakala Syekh Abdul Mannan, Poralle Salabose, pada tanggal 23 hingga 25 Agustus 2026.

Pelaksanaan Maulid ini bukan hanya menjadi perayaan keagamaan, tetapi juga menjadi sarana menjaga warisan sejarah, memperkuat silaturahmi keluarga besar, melestarikan adat budaya Mandar, serta mengenang jasa Syekh Abdul Mannan yang telah menanamkan benih-benih pendidikan Islam di tanah ini berabad-abad yang lalu.

Karena pada hakikatnya, warisan terbesar seorang ulama bukanlah bangunan yang ditinggalkannya, melainkan ilmu yang terus diamalkan, akhlak yang terus diteladani, dan generasi yang terus melanjutkan perjuangannya.

Dan hingga hari ini, jejak itu masih hidup di Poralle Salabose, di puncak bukit tempat Syekh Abdul Mannan beristirahat, serta di hati masyarakat yang terus mengenang dan melanjutkan nilai-nilai yang beliau wariskan.

Mandar, 10 Juni 2026

MURSYID SYUKRI

Aktif dalam pergerakan seni budaya Mandar dan serius menghibahkan waktunya sebagai Ketua Sekolah Adat Adolang Pamboang

Recent Posts

Analisis Objektif Novel Asmaraloka Karya Danarto, Melalui Pendekatan Semiotika Rolland Barthes

NOVEL Asmaraloka (1999) karya Danarto merupakan salah satu karya sastra Indonesia modern yang paling mengaburkan…

49 menit ago

Dewan Kebudayaan atau Dewan Kekuasaan?

SALAH satu bagian paling problematis dalam rancangan perda ini adalah pembentukan Dewan Kebudayaan Daerah. Secara…

1 jam ago

Guru Mengajar Indonesia,  Siapa Mengajar Kesejahteraan Guru

BEBERAPA hari yang lalu saya membaca sebuah unggahan di media sosial yang membahas tentang perbandingan…

1 hari ago

Tuntunan, Tontonan, dan Impian

PASCA Hiroshima dan Nagasaki, Jepang tidak hanya membangun kembali gedung-gedung yang hancur. Mereka juga membangun…

1 hari ago

Pemkab Mamuju Tengah Bekali 173 ASN Hadapi Masa Pensiun, Sekda Tekankan Perencanaan Keuangan dan Administrasi

MATENG, Tayang9.com – Pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah melalui Badan Kepegawaian Daerah (BKD) menggelar sosialisasi persiapan…

2 hari ago

Kebudayaan Itu Domisili, Bukan Dominasi

SALAH satu persoalan yang paling terasa dalam Ranperda Pemajuan Kebudayaan ini adalah cara pandangnya yang…

3 hari ago