Categories: KOLOMMURSYID SYUKRI

BPII Pamboang Lebih Awal Membangun Generasi Muda Berkarakter, Beretika, Dan Berkeindahan Budi

Meneguhkan Marwah Pendidikan Islam, Kearifan Lokal, dan Kurikulum Berbasis Cinta dalam Matamuda Tahun 2026

PENDIDIKAN pada hakikatnya tidak hanya bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi juga membentuk manusia yang berkarakter, beretika, memiliki kepekaan estetika, serta mampu hidup berdampingan secara harmonis dengan sesama manusia dan lingkungan. Dalam perspektif ilmu pendidikan modern, keberhasilan sebuah lembaga pendidikan tidak hanya diukur dari capaian akademik peserta didiknya, tetapi juga dari keberhasilannya membangun nilai moral, spiritual, sosial, dan budaya yang menjadi fondasi kepribadian peserta didik.

Prinsip tersebut telah lama menjadi ruh pendidikan yang dikembangkan oleh Badan Perguruan Islam Indonesia (BPII) Pamboang, Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat. Jauh sebelum konsep pendidikan karakter menjadi kebijakan nasional, BPII Pamboang telah menanamkan pendidikan yang berorientasi pada pembentukan akhlak, etika, dan kecintaan terhadap budaya lokal sebagai bagian dari pendidikan Islam.

Hal tersebut disampaikan oleh budayawan Mandar A’ba Tammalele, yang dikenal luas dengan nama Tammalele, saat memberikan materi dalam kegiatan Masa Ta’arruf Murid Madrasah (Matamuda) di Madrasah Aliyah BPII Pamboang pada Juli 2026.

Menurut beliau, perjalanan panjang BPII Pamboang menunjukkan bahwa lembaga ini sejak awal telah menjadi pusat pembinaan generasi muda berbasis nilai-nilai keislaman dan kebudayaan Mandar. Sejarah pendidikan BPII berawal dari langgar atau surau, yang menjadi tempat masyarakat belajar membaca Al-Qur’an dan memperdalam ilmu agama. Seiring berkembangnya kebutuhan pendidikan, lembaga tersebut kemudian dihimpun menjadi Madrasah Diniyah, berkembang menjadi Diniyah School, dan selanjutnya pada tahun 1952 berkembang sebagai lembaga pendidikan formal yang terus mengalami penguatan kelembagaan. Hingga Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah sengaja dating ke Pamboang untuk mengembangkan pendidikan Agama di BPII.

Perjalanan berikutnya membawa lembaga ini menjadi Pendidikan Guru Agama (PGA) pada tahun 1965, ketika telah berada di bawah pembinaan Departemen Agama. Selanjutnya, pada tahun 1979, lembaga ini memperoleh Piagam Madrasah dari Departemen Agama sehingga semakin memperkuat kedudukannya sebagai institusi pendidikan Islam yang resmi. Dalam perkembangannya, BPII Pamboang membina dua jenjang pendidikan, yaitu Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) yang hingga kini tetap berada di bawah naungan Badan Perguruan Islam Indonesia.

Keberlangsungan lembaga pendidikan ini selama puluhan tahun menunjukkan bahwa madrasah swasta tetap mampu menjadi pilar penting dalam mencerdaskan kehidupan masyarakat. Eksistensi tersebut juga menjadi bukti bahwa kekuatan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh status kelembagaan, tetapi terutama oleh komitmen dalam menjaga mutu, nilai, dan pengabdian kepada masyarakat.

Dalam penyampaiannya, A’ba Tammalele mengingatkan seluruh tenaga pendidik, tenaga kependidikan, dan peserta didik agar tidak pernah merasa rendah diri karena menempuh pendidikan di madrasah swasta. Menurut beliau, BPII Pamboang memiliki sejarah panjang dalam melahirkan generasi yang berilmu sekaligus berakhlak. Oleh karena itu, seluruh warga madrasah memiliki tanggung jawab untuk menjaga nama baik lembaga yang telah diwariskan oleh para pendahulu.

Beliau menegaskan bahwa sejak dahulu BPII Pamboang lebih menitikberatkan pada pembentukan etika, estetika, dan karakter peserta didik. Dalam filsafat pendidikan, etika merupakan ilmu yang membimbing manusia untuk membedakan baik dan buruk dalam perilaku, sedangkan estetika mengajarkan manusia menghargai keindahan, keselarasan, dan keharmonisan dalam kehidupan. Ketika kedua nilai tersebut dipadukan dengan pendidikan agama, maka lahirlah karakter yang utuh: cerdas secara intelektual, matang secara emosional, dan luhur secara spiritual.

Lebih lanjut, A’ba Tammalele menjelaskan bahwa proses pendidikan harus dimulai dengan membangun kemampuan berpikir melalui pancaindra. Manusia belajar dengan mengamati, mendengar, membaca, merasakan, dan mengalami. Dari proses tersebut tumbuh daya kritis yang kemudian berkembang menjadi rasa kasih sayang dan empati terhadap sesama. Pandangan ini sejalan dengan teori konstruktivisme dalam pendidikan yang menempatkan pengalaman sebagai dasar pembentukan pengetahuan sekaligus karakter.

Dalam konteks tersebut, beliau menilai bahwa Kurikulum Berbasis Cinta yang dikembangkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia memiliki kesesuaian dengan filosofi pendidikan Islam dan kearifan lokal Mandar. Pendidikan tidak cukup hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga harus menumbuhkan cinta kepada Allah SWT, cinta kepada sesama manusia, cinta kepada lingkungan, dan cinta kepada ilmu pengetahuan.

Nilai tersebut telah lama hidup dalam falsafah masyarakat Mandar, sebagaimana diungkapkan dalam pesan leluhur:

“Mua’ andiang sayanna, amanaowang pa’mai’na womo naparai.”

Yang berarti:

“Kalau sudah tidak ada lagi rasa sayang dalam dirinya, maka belas kasihnyalah yang akan digunakan.”

Ungkapan tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Mandar memandang kasih sayang sebagai dasar hubungan antarmanusia. Bahkan ketika rasa kedekatan mulai berkurang, masih ada nilai anaowang pa’mai’ atau belas kasih yang tetap harus dijaga. Filosofi ini memperlihatkan bahwa budaya Mandar tidak mengenal sikap keras hati terhadap sesama, tetapi lebih mengedepankan empati, penghormatan, dan kemanusiaan.

Nilai-nilai luhur tersebut juga menjadi semangat utama dalam kegiatan Matamuda. Masa pengenalan lingkungan madrasah tidak hanya dipahami sebagai orientasi bagi peserta didik baru, tetapi juga sebagai proses menanamkan identitas madrasah melalui nilai-nilai Ta’aruf (saling mengenal) dan Iqra’ (bacalah). Kedua konsep tersebut merupakan fondasi pendidikan Islam yang menekankan pentingnya membangun hubungan sosial yang baik sekaligus membudayakan literasi dan pencarian ilmu.

Di BPII Pamboang, nilai pendidikan tidak hanya diajarkan melalui teori, tetapi juga melalui praktik budaya sehari-hari. Peserta didik dibiasakan untuk Mitawe’, yaitu bersikap sopan ketika melintas di depan orang yang lebih tua dengan sedikit membungkukkan badan sebagai bentuk penghormatan. Mereka juga diajarkan untuk Mepuang, yakni menyapa orang tua dan guru dengan sebutan Puang sebagai bentuk penghargaan dan penghormatan.

Dalam perspektif pendidikan karakter, kebiasaan-kebiasaan sederhana tersebut memiliki makna yang sangat besar. Karakter tidak dibentuk melalui ceramah semata, melainkan melalui pembiasaan yang dilakukan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, A’ba Tammalele mengingatkan pentingnya mengembalikan bahasa daerah dan kearifan lokal sebagai bagian dari proses pendidikan. Menurut beliau, pendidikan yang baik bukanlah pendidikan yang menjauhkan peserta didik dari akar budayanya, melainkan pendidikan yang mampu memperkuat identitas lokal sekaligus membekali mereka menghadapi tantangan global. Pandangan ini sejalan dengan arah pengembangan kurikulum yang memberi ruang bagi muatan lokal sebagai sarana pelestarian budaya.

Beliau juga mengutip ungkapan Mandar yang sarat makna:

“Mua’ ma’alao, siruanna ala, da mulewa’i.”

Yang berarti:

“Apabila mengambil sesuatu, ambillah secukupnya, jangan berlebihan.”

Pesan sederhana tersebut mencerminkan nilai kesederhanaan, pengendalian diri, dan tanggung jawab dalam memanfaatkan apa yang dimiliki. Nilai ini relevan dengan prinsip keberlanjutan (sustainability) yang saat ini menjadi perhatian dunia, yaitu menggunakan sumber daya secara bijaksana tanpa berlebihan.

Kepada para guru, beliau juga berpesan agar senantiasa mengajar dengan penuh kasih sayang. Seorang pendidik hendaknya menjadikan madrasah sebagai ruang yang menghadirkan ketenangan, bukan tempat melampiaskan persoalan pribadi. Pendidikan yang dibangun di atas kasih sayang akan melahirkan peserta didik yang percaya diri, menghargai orang lain, dan memiliki semangat belajar yang tinggi.

Kegiatan MATAMUDA MA BPII Pamboang Tahun 2026 yang berlangsung pada 13–18 Juli 2026, diawali dengan pembukaan secara Zoom Meeting oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat, menjadi momentum penting untuk meneguhkan kembali jati diri madrasah sebagai pusat pembinaan karakter, spiritualitas, dan budaya.

Pada akhirnya, perjalanan panjang BPII Pamboang membuktikan bahwa lembaga ini bukan sekadar tempat mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga tempat menanamkan nilai-nilai kehidupan. Selama puluhan tahun, madrasah ini telah berupaya membentuk generasi yang beriman, berilmu, berkarakter, menghormati budaya lokal, dan memiliki kepedulian terhadap sesama.

BPII Pamboang telah menunjukkan bahwa membangun generasi muda bukan hanya tentang mencerdaskan akal, tetapi juga menumbuhkan cahaya hati. Sebab ilmu adalah nur (cahaya), dan cahaya itu akan menerangi kehidupan apabila dipadukan dengan etika, estetika, kasih sayang, serta penghormatan kepada budaya dan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para leluhur.

 

MURSYID SYUKRI

Aktif dalam pergerakan seni budaya Mandar dan serius menghibahkan waktunya sebagai Ketua Sekolah Adat Adolang Pamboang

Recent Posts

Mobil Damkar Kodim 1402/Polman Diterjunkan Padamkan Kebakaran Rumah Warga di Polewali

POLMAN, TAYANG9 - Mobil pemadam kebakaran milik Kodim 1402/Polman diterjunkan untuk memperkuat upaya pemadaman kebakaran…

9 jam ago

Masuk Musim Kemarau, Dandim Polman Instruksikan Babinsa Gencarkan Imbauan Cegah Karhutla

POLMAN, TAYANG9 - Memasuki musim kemarau dengan cuaca panas yang mulai meningkat, Dandim 1402/Polman Letkol…

9 jam ago

Malam Kedua Pekan Sastra Hadirkan Penampilan Puisi dan Monolog Finalis

POLMAN, TAYANG9 – Malam Ketua Pekan Sastra Provinsi Sulawesi Barat 2026 akan menghadirkan pertunjukan sastra…

11 jam ago

Madatte Arts Siap Tampil di Malam Penutup Pekan Sastra Sulbar 2026

POLMAN, TAYANG9 – Komunitas Rumah Budaya Nusantara (RBN) Madatte Arts menyatakan kesiapannya untuk tampil pada…

1 hari ago

Melalui Kegiatan Matamuda MA DDI Tinambung Gelar Edukasi Anti-Bullying dan Kekerasan Seksual

POLMAN, TAYANG9 — Melalui Masa Ta’aruf Murid Madrasah (Matamuda) Madrasah Aliyah (MA) DDI Tinambung menggelar…

1 hari ago

Pembukaan Pekan Sastra Sebentar Malam, Komunitas Sulo Kencana Tampilkan Musik Puisi

POLMAN, TAYANG9 – Malam pembukaan Pekan Sastra Provinsi Sulawesi Barat 2026 dipastikan akan berlangsung semarak…

2 hari ago