Categories: KOLOMMURSYID SYUKRI

Sportifitas Tak Lagi Sportif Setelah Poin Lebih Utama dari Nilai Kemanusiaan

PIALA Dunia FIFA 2026 merupakan perhelatan sepak bola terbesar di dunia yang untuk pertama kalinya diselenggarakan secara bersama oleh tiga negara, yaitu Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Kompetisi ini juga menjadi sejarah baru karena diikuti oleh 48 negara yang lolos melalui babak kualifikasi dari berbagai konfederasi sepak bola dunia. Format baru tersebut membagi peserta ke dalam 12 grup yang masing-masing terdiri atas empat tim. Dua tim terbaik dari setiap grup serta delapan tim peringkat ketiga terbaik berhak melaju ke babak gugur yang dimulai dari fase 32 besar hingga mencapai partai final.

Lebih dari sekadar kompetisi olahraga, Piala Dunia merupakan ruang perjumpaan berbagai bangsa, budaya, bahasa, dan identitas nasional yang dipersatukan oleh satu tujuan, yaitu menjunjung tinggi sportivitas, persaudaraan, dan kemanusiaan. Nilai-nilai tersebut telah lama menjadi roh olahraga modern sebagaimana tertuang dalam berbagai prinsip internasional bahwa pertandingan bukan hanya tentang menentukan pemenang, tetapi juga membangun rasa saling menghormati, keadilan, dan perdamaian di antara bangsa-bangsa.

Babak 16 besar Piala Dunia 2026 memperlihatkan pertandingan-pertandingan dengan kualitas teknik, strategi, dan semangat juang yang luar biasa. Setiap negara berusaha menampilkan kemampuan terbaik para pemainnya demi mengharumkan nama bangsa. Pada saat yang sama, jutaan pendukung dari berbagai belahan dunia turut menyaksikan pertandingan dengan harapan bahwa sepak bola tetap menjadi sarana pemersatu umat manusia, bukan sekadar arena mencari kemenangan.

Dari sudut pandang ilmiah, sportivitas merupakan bagian dari pendidikan karakter dalam olahraga. Para ahli psikologi olahraga menjelaskan bahwa sportivitas mencakup sikap menghormati aturan, menghargai lawan, menerima keputusan pertandingan secara dewasa, serta mengutamakan integritas dibandingkan hasil akhir. Oleh karena itu, kemenangan yang diperoleh melalui proses yang adil akan memiliki nilai moral yang jauh lebih tinggi dibandingkan kemenangan yang diperoleh melalui keputusan yang dipandang tidak objektif.

Dalam penyelenggaraan Piala Dunia 2026, kemajuan teknologi telah menjadi instrumen penting untuk menjaga keadilan pertandingan. Berbagai stadion menggunakan sistem pengawasan yang sangat canggih, antara lain kamera beresolusi tinggi yang dipasang di berbagai sudut lapangan, kamera pelacak di atap stadion, sensor pada bola pintar, serta teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang terintegrasi dengan sistem Video Assistant Referee (VAR). Teknologi tersebut mampu melacak puluhan titik pergerakan tubuh pemain secara real time sehingga membantu menghasilkan keputusan offside semi-otomatis yang lebih cepat dan akurat.

Keberadaan teknologi tersebut menunjukkan bahwa FIFA telah berupaya memperkecil kemungkinan terjadinya kesalahan manusia (human error). Namun demikian, teknologi hanyalah alat bantu. Keputusan akhir tetap berada di tangan wasit sebagai pengambil keputusan di lapangan. Oleh sebab itu, integritas, independensi, profesionalisme, dan keberanian moral seorang wasit tetap menjadi faktor utama dalam menjaga marwah pertandingan.

Dalam beberapa pertandingan babak 16 besar menuju perempat final, muncul berbagai perdebatan di kalangan pengamat, media, maupun pendukung mengenai sejumlah keputusan wasit yang dianggap kontroversial. Sebagian pihak menilai terdapat keputusan-keputusan yang kurang konsisten sehingga menimbulkan persepsi adanya keberpihakan terhadap tim tertentu. Perlu ditegaskan bahwa persepsi tersebut belum tentu merupakan bukti adanya tindakan yang disengaja, namun persepsi publik terhadap ketidakadilan tetap memiliki dampak besar terhadap kepercayaan masyarakat terhadap sebuah kompetisi olahraga.

Dalam ilmu sosial, legitimasi sebuah institusi tidak hanya dibangun melalui aturan, tetapi juga melalui kepercayaan publik (public trust). Ketika masyarakat mulai meragukan objektivitas penyelenggara kompetisi, maka kredibilitas lembaga tersebut perlahan akan mengalami penurunan. Oleh karena itu, FIFA sebagai organisasi sepak bola internasional memiliki tanggung jawab moral yang sangat besar untuk memastikan bahwa seluruh perangkat pertandingan bekerja secara independen tanpa dipengaruhi oleh kepentingan apa pun.

Apabila muncul kesan bahwa terdapat perlakuan berbeda terhadap negara tertentu, terutama negara yang berasal dari kawasan penyelenggara turnamen, maka persepsi tersebut dapat mencederai semangat persaingan yang sehat. Sekali lagi, hal tersebut harus dibedakan antara persepsi publik dan fakta yang telah dibuktikan secara resmi. Namun, persepsi yang berkembang luas tetap harus dijawab dengan transparansi, evaluasi, dan akuntabilitas agar kepercayaan terhadap penyelenggaraan kompetisi tetap terjaga.

Istilah “anak kesayangan FIFA” sering kali muncul dalam diskusi para pendukung sepak bola ketika mereka merasa ada tim tertentu yang memperoleh keuntungan dari keputusan-keputusan pertandingan. Secara ilmiah, istilah tersebut bukan merupakan konsep yang diakui dalam tata kelola olahraga internasional, melainkan bentuk ekspresi kekecewaan publik terhadap keputusan yang dipandang tidak adil. Karena itu, FIFA perlu terus memperkuat mekanisme evaluasi wasit, meningkatkan transparansi penggunaan VAR, dan membuka ruang penjelasan terhadap keputusan-keputusan penting agar ruang spekulasi dapat diminimalkan.

Sesungguhnya, tujuan utama olahraga bukanlah semata-mata mengumpulkan poin kemenangan. Nilai yang jauh lebih penting adalah membangun karakter manusia. Kemenangan memang akan tercatat dalam sejarah, tetapi sportivitas akan dikenang sepanjang masa. Negara yang kalah secara terhormat tetap memperoleh penghormatan dunia, sedangkan kemenangan yang dibayangi kontroversi justru dapat mengurangi makna keberhasilan itu sendiri.

Fenomena fanatisme yang berlebihan juga patut menjadi perhatian. Ketika para pendukung hanya berorientasi pada kemenangan tim yang didukung tanpa mempertimbangkan nilai keadilan, maka perlahan-lahan sportivitas akan tergeser oleh kepentingan hasil akhir. Padahal, olahraga mengajarkan bahwa menerima kekalahan dengan lapang dada merupakan bagian dari kemenangan moral yang tidak kalah penting dibandingkan kemenangan di papan skor.

Piala Dunia 2026 seharusnya menjadi laboratorium pendidikan karakter bagi masyarakat dunia. Anak-anak, generasi muda, pemain, pelatih, ofisial, wasit, hingga para pendukung dapat belajar bahwa kejujuran, integritas, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap lawan merupakan fondasi utama olahraga. Nilai-nilai tersebut jauh lebih bernilai daripada sekadar mengejar tambahan poin atau trofi juara.

Pada akhirnya, sportivitas akan kehilangan maknanya apabila kemenangan ditempatkan di atas nilai kemanusiaan. Sebaliknya, ketika keadilan, kejujuran, transparansi, dan penghormatan terhadap sesama menjadi prioritas utama, maka sepak bola akan tetap menjadi bahasa universal yang menyatukan bangsa-bangsa di dunia. FIFA, para wasit, seluruh peserta, dan para pendukung memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga marwah sepak bola sebagai olahraga yang mendidik peradaban, bukan sekadar menghasilkan pemenang.

Karena itu, pelajaran terbesar dari Piala Dunia bukanlah siapa yang mengangkat trofi juara, melainkan bagaimana dunia belajar bahwa kemenangan sejati adalah kemenangan yang diperoleh melalui proses yang adil. Sebab ketika poin ditempatkan lebih tinggi daripada nilai kemanusiaan, maka sportivitas tidak lagi menjadi sportivitas, melainkan hanya menjadi alat untuk mengejar hasil tanpa makna.

Mandar, 8 Juli 2026

 

 

MURSYID SYUKRI

Aktif dalam pergerakan seni budaya Mandar dan serius menghibahkan waktunya sebagai Ketua Sekolah Adat Adolang Pamboang

Recent Posts

Grand Opening Unasman Mart, Simbol Lahirnya Ruang Mental Wirausaha

POLMAN, TAYANG9 – Universitas Al Asyariah Mandar (Unasman) resmi membuka Unasman Mart melalui acara grand…

2 jam ago

47 Anak Taman Baca Raudah Nabawi Ikuti Kunjungan Edukasi di Perpustakaan Provinsi Sulbar

MAMUJU, Tayang9.com – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Sulawesi Barat menerima kunjungan edukasi dari…

12 jam ago

Bupati Polewali Mandar H Samsul Mahmud, Serahkan BLT kepada Warga Desa Lekopadis

POLMAN, TAYANG9 — Dalam kunjungan kerjanya ke sejumlah kecamatan dan desa, Bupati Polewali Mandar, H.…

1 hari ago

Panggung sebagai Kelas: Mandar Ethno Music Concert Mengajarkan Kita Arti Multikulturalisme

ADA satu momen ketika bunyi berhenti menjadi sekadar bunyi, dan mulai menjadi jejak. Momen itu…

1 hari ago

Resonansi Mandar: Dari Tradisi ke Masa Depan

MENJADI kurator dalam perhelatan ini bukanlah hal yang pernah saya bayangkan sebelumnya. Ketika amanah itu…

2 hari ago

MEMC dan Idealisme Musik Sulawesi Barat

MANDAR Ethno Music Concert (MEMC) merupakan sebuah inisiatif yang lahir dari kesadaran akan pentingnya menjaga…

2 hari ago