MUSIK tradisional merupakan salah satu unsur penting dalam identitas suatu bangsa. Di dalamnya tersimpan sejarah, nilai-nilai kehidupan, bahasa, filosofi, hingga cara pandang masyarakat terhadap alam dan lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, pelestarian musik etnik bukan sekadar menjaga bunyi-bunyian tradisional, melainkan menjaga memori kolektif dan jati diri sebuah peradaban. Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan musik modern, upaya menghidupkan kembali musik tradisional menjadi sebuah kebutuhan yang mendesak agar warisan budaya tidak tergerus oleh perubahan zaman.
Semangat tersebut tampak nyata dalam penyelenggaraan Mandar Music Ethno Concert (MMEC) 2026 yang berlangsung pada 9–11 Juli 2026 di Taman Budaya dan Museum Provinsi Sulawesi Barat Buttu Ciping Desa Batulaya Kec. Tinambung Kab. Polewali Mandar Prov. Sulawesi Barat. Kegiatan ini menjadi ruang apresiasi sekaligus panggung ekspresi bagi para generasi muda Sulawesi Barat untuk menampilkan kekayaan musik etnik Mandar yang diwariskan oleh para leluhur.
Konser ini bukan sekadar pertunjukan seni, tetapi merupakan proses revitalisasi budaya. Dalam kajian etnomusikologi, revitalisasi merupakan upaya menghidupkan kembali tradisi musik melalui pewarisan kepada generasi muda, pengembangan kreativitas, serta penyajian dalam ruang-ruang publik agar tetap relevan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan identitas aslinya.
Pada malam kedua penyelenggaraan, berbagai kelompok seni dan sanggar budaya dari sejumlah kabupaten di wilayah Sulawesi Barat menampilkan karya-karya musik yang memadukan unsur kreasi, inovasi, dan konservasi. Setiap kelompok menghadirkan karakter musikal yang berbeda sesuai dengan akar budaya daerah masing-masing.
Generasi muda dari Majene, Polewali Mandar, Mamasa, dan Mamuju memperlihatkan kemampuan mereka dalam mengolah kekayaan musikal tradisional menjadi sebuah pertunjukan yang menarik tanpa meninggalkan identitas budaya yang menjadi sumber inspirasinya. Penampilan musik etnik dari Kabupaten Mamuju, misalnya, memberikan warna tersendiri dalam konser tersebut dengan menghadirkan kekayaan musikal masyarakat pedalaman yang masih kuat mempertahankan tradisi leluhurnya.
Keberagaman sajian tersebut memperlihatkan bahwa Sulawesi Barat memiliki kekayaan musik tradisional yang sangat beragam. Meskipun seluruh daerah berada dalam satu wilayah administratif provinsi, masing-masing memiliki karakter musikal, instrumen, ritme, dan filosofi yang berbeda. Perbedaan inilah yang justru menjadi kekuatan budaya Sulawesi Barat sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
Respon masyarakat terhadap konser tersebut juga sangat positif. Antusiasme penonton menunjukkan bahwa musik etnik masih memiliki ruang di hati masyarakat apabila dikemas dengan baik dan melibatkan generasi muda sebagai pelaku utama.
Apresiasi juga disampaikan oleh Ketua Dewan Kesenian Sulawesi Barat, Muhammad Syariat Tajuddin. Dalam apresiasinya saat didaulat secara mendadak untuk memberikan respon di dua malam pertunjukan mengatakan, Mandar Music Ethno Concert merupakan sebuah terobosan UPTD Taman Budaya dan Museum Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Daerah Provinsi Sulawesi Barat yang baru dan penting diberi apresiasi dalam upayanya membangkitkan kembali semangat generasi Mandar untuk menggali, mempelajari, dan melestarikan musik etnik yang mulai menghadapi tantangan keberlanjutan di tengah perubahan zaman.
Pandangannya itu sejalan dengan berbagai kajian UNESCO mengenai pelestarian Warisan Budaya Takbenda, yang menekankan keberlangsungan sebuah tradisi sangat bergantung pada keterlibatan generasi muda. Budaya akan tetap hidup apabila diwariskan melalui praktik nyata, bukan hanya melalui dokumentasi atau penelitian.
Menurutnya Syariat, konser ini menjadi salah satu media yang diharapkan mampu mengikat generasi muda dengan adat dan budaya Mandar, sehingga musik tradisional tidak lagi dipandang sebagai warisan masa lalu, tetapi sebagai identitas yang tetap relevan dalam kehidupan masa kini.
Beliau juga menyampaikan penghargaan kepada UPTD Taman Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Daerah Provinsi Sulawesi Barat bersama tiga kurator Mandar Music Ethno Concert 2026, Sahbuddin Mahganna, S.Pd., M.M., Muhammad Fadel, S.Pd., M.Sn., dan Dr. Muhammad Junaedi Mahyuddin, M.Pd., atas dedikasi mereka dalam merancang konsep kegiatan. Menurutnya, sependek pengetahuan, selain melewati kerja-kerja pematangan konsep juga melakukan kerja teknis yang cukup melelahkan, juga melakukan berbagai tirakat sebagai laku spritual. Dan itu dilakukan sejak konsep digarap hingga kerja teknis diselenggarakan, sebagai langkah menuju dan saat penyelenggaraan konser diselenggarakan.
Kehadiran tirakat sebagai laku spritual tersebut menunjukkan bahwa pertunjukan musik etnik bukan hanya menghadirkan aspek artistik belaka, tetapi juga sebagai laku takzim atas nilai-nilai budaya yang menjadi ruh utama, pada setiap pertunjukan karya yang dipentaskan. Niatannya tentu saja sebagai upaya mengkoneksikan dengan penguasa semesta dan nilai luhur peradaban manusia pada setiap kantung-kantung kebudayaan.
Secara ilmiah, pendekatan seperti ini dikenal sebagai konservasi budaya berbasis komunitas (community-based cultural conservation). Pelestarian budaya dipandang akan lebih berhasil apabila masyarakat, seniman, akademisi, pemerintah, dan generasi muda bekerja bersama dalam menjaga kesinambungan tradisi. Mandar Music Ethno Concert menjadi contoh, bagaimana kolaborasi dan bahkan elaborasi tersebut dapat diwujudkan melalui sebuah panggung kebudayaan. Dengan tidak menanggalkan kebiasaan leluhur yang berusaha untuk tidak abai pada tirakat, sebagai laku spiritual.
Hal ini menjadi penting artinya, selain sebagai penghargaan juga sebagai upaya melihat seni budaya tidak hanya dalam satu kacamata tunggal sebagai pertunjukan. Tetapi juga memasuki ruang hening yang syarat muatan nilai-nilai filosofi yang ada dalam setiap gerak nilai dan laku seni dan gerak kebudayaan tinggalan leluhur itu.
Namun demikian, di tengah berkembangnya berbagai bentuk inovasi musikal, terdapat satu hal yang patut menjadi perhatian bersama. Inovasi memang diperlukan agar musik tradisional mampu berdialog dengan perkembangan zaman, tetapi inovasi tidak boleh menghilangkan identitas dasar musik etnik itu sendiri.
Karena itu, pengembangan musik etnik hendaknya tetap bertumpu pada karakter asli yang diwariskan oleh para leluhur. Instrumen tradisional, pola ritme, tangga nada, teknik permainan, bahasa, serta filosofi yang terkandung dalam musik etnik sebaiknya tetap menjadi unsur utama, sementara inovasi berfungsi memperkaya penyajiannya tanpa mengaburkan jati dirinya.
Dengan kata lain, musik etnik tidak seharusnya sekadar menjadi pelengkap dalam musik modern, tetapi justru musik modernlah yang dapat mengambil inspirasi dari kekayaan musik etnik tanpa menghilangkan kekentalan identitas budayanya. Pendekatan ini penting agar generasi muda tidak hanya menjadi pencipta karya baru, tetapi juga menjadi penjaga autentisitas warisan budaya.
Mandar Music Ethno Concert telah membuktikan bahwa musik tradisional masih memiliki tempat yang kuat di tengah masyarakat apabila diberikan ruang yang layak. Kegiatan ini menjadi simbol kebangkitan budaya, sekaligus pengingat bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari perkembangan teknologi dan ekonomi, tetapi juga dari kemampuannya menjaga warisan budaya yang menjadi identitasnya.
Harapannya, Mandar Music Ethno Concert tidak berhenti sebagai agenda tahunan semata, melainkan berkembang menjadi gerakan kebudayaan massif yang mampu melahirkan regenerasi seniman, peneliti, pencipta karya, dan pendidik musik tradisional di Sulawesi Barat.
Sebab ketika generasi muda memainkan musik etnik dengan penuh kebanggaan, sesungguhnya mereka sedang memainkan sejarah, menghidupkan identitas, dan mewariskan nilai-nilai sebagai residu peradaban Mandar kepada masa depan. Musik etnik bukan sekadar bunyi yang didengar, tetapi bahasa budaya yang menghubungkan leluhur, generasi masa kini, dan generasi yang akan datang. Bottom of Form
Makassar, Tayang9 — Kemenag terus mempercepat transformasi digital di bidang kepegawaian melalui persiapan implementasi interkoneksi…
POLMAN, TAYANG9 – Gemuruh ruh musik etnik kembali menggema di halaman Taman Budaya dan Museum…
POLMAN, TAYANG9 — Provinsi Sulawesi Barat bersiap menjadi panggung pergelaran seni budaya akbar melalui perhelatan…
POLMAN, TAYANG9 – Universitas Al Asyariah Mandar (Unasman) resmi membuka Unasman Mart melalui acara grand…
PIALA Dunia FIFA 2026 merupakan perhelatan sepak bola terbesar di dunia yang untuk pertama kalinya…
MAMUJU, Tayang9.com – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Sulawesi Barat menerima kunjungan edukasi dari…