Categories: KOLOMMURSYID SYUKRI

Muharram Identik dengan Peristiwa Khusus

Antara Kepercayaan, Kehati-hatian, dan Tradisi Masyarakat Mandar

MUHARRAM merupakan bulan pertama dalam kalender Hijriah dan menjadi penanda dimulainya Tahun Baru Islam. Bagi umat Islam di seluruh dunia, Muharram termasuk salah satu bulan yang dimuliakan (Al-Asyhur Al-Hurum), yaitu bulan-bulan yang memiliki kedudukan istimewa dalam ajaran Islam. Namun di tengah masyarakat Mandar, khususnya di kampung-kampung pedesaan Sulawesi Barat, Muharram tidak hanya dipandang sebagai pergantian tahun, tetapi juga sering dikaitkan dengan berbagai peristiwa yang dianggap “aneh”, sakral, dan penuh kehati-hatian.

Banyak di antara generasi tua Mandar masih mengingat pesan orang tua mereka ketika memasuki bulan Muharram. Salah satu ungkapan yang sering terdengar adalah:

“Kabe’… da mie’ teke-teke…, apa’ Muharram iiii.”

Yang berarti:

“Anakku, janganlah engkau memanjat, karena sekarang bulan Muharram.”

Pesan sederhana ini mungkin terdengar aneh bagi generasi sekarang. Mengapa memanjat pohon harus dilarang hanya karena memasuki bulan Muharram ? Mengapa anak-anak diingatkan agar tidak bepergian jauh, tidak melakukan pekerjaan berat, atau menghindari aktivitas yang berisiko ?

Jika ditelaah secara ilmiah dan sosiologis, larangan tersebut sebenarnya bukan semata-mata bentuk takhayul atau ketakutan tanpa alasan. Dalam masyarakat tradisional, bulan-bulan tertentu sering dijadikan momentum untuk meningkatkan kewaspadaan, introspeksi, dan pengendalian diri. Orang tua zaman dahulu menggunakan simbol-simbol budaya untuk menanamkan sikap hati-hati kepada anak-anaknya.

Dalam ilmu antropologi budaya, fenomena seperti ini disebut sebagai social control through tradition, yaitu pengendalian sosial melalui pesan-pesan budaya yang diwariskan secara turun-temurun. Larangan memanjat pohon, bepergian jauh, atau melakukan pekerjaan berisiko pada bulan Muharram dapat dipahami sebagai cara masyarakat tradisional mengurangi potensi kecelakaan dan musibah pada masa-masa yang dianggap sakral.

Di sisi lain, Muharram memang memiliki posisi khusus dalam sejarah Islam. Banyak peristiwa penting yang diyakini terjadi pada bulan ini, seperti diterimanya taubat Nabi Adam AS, selamatnya Nabi Nuh AS dari banjir besar, diselamatkannya Nabi Musa AS dari kejaran Fir’aun, hingga berbagai peristiwa besar lainnya yang dikenal dalam tradisi Islam. Oleh karena itu, masyarakat Muslim Nusantara memandang Muharram sebagai bulan penuh keberkahan sekaligus bulan untuk memperbanyak doa dan muhasabah.

Di Mandar, suasana Muharram pada masa lalu terasa sangat berbeda dibandingkan hari-hari biasa. Ketika tanggal 1 Muharram tiba, masyarakat cenderung mengurangi aktivitas yang dianggap terlalu sibuk. Banyak keluarga memilih berdiam diri di rumah, memperbanyak doa, dan menghindari pekerjaan yang dianggap berat atau berisiko tinggi.

Tradisi ini menunjukkan bahwa Tahun Baru Islam dahulu diperingati dengan nuansa spiritual yang kuat. Pergantian tahun tidak dirayakan dengan keramaian, melainkan dengan perenungan dan harapan agar tahun yang baru membawa keselamatan dan keberkahan.

Menariknya, suasana kehati-hatian tersebut berlangsung hingga memasuki tanggal 10 Muharram atau yang dikenal sebagai Hari Asyura. Setelah itu, suasana masyarakat berubah menjadi lebih meriah dan penuh kegembiraan.

Di berbagai kampung di Mandar dikenal tradisi “Mambaca Sappulo Muharram”, yang secara harfiah berarti memperingati atau membaca doa pada tanggal 10 Muharram. Dalam kegiatan ini masyarakat berkumpul untuk berdoa bersama sambil menyediakan berbagai hidangan tradisional seperti kue-kue kampung dan bubur kacang hijau.

Tradisi tersebut memiliki makna sosial yang sangat penting. Selain sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat hubungan kekeluargaan dan kebersamaan antarwarga. Dalam perspektif sosiologi, ritual makan bersama merupakan salah satu bentuk penguatan solidaritas sosial yang paling efektif dalam masyarakat tradisional.

Keunikan lain yang masih dapat ditemukan di sebagian masyarakat Mandar adalah kebiasaan membeli peralatan rumah tangga menjelang 10 Muharram. Dua atau tiga hari sebelum peringatan Asyura, para ibu rumah tangga biasanya membeli berbagai perlengkapan seperti ember, baskom, gayung, timba, panci, dan peralatan dapur lainnya.

Terdapat keyakinan bahwa membeli peralatan rumah tangga pada momentum tersebut akan membawa keberkahan dan kelapangan rezeki sepanjang tahun. Secara ilmiah, keyakinan ini dapat dipahami sebagai bentuk simbol harapan ekonomi. Masyarakat tradisional sering menggunakan simbol benda-benda rumah tangga sebagai representasi kesejahteraan, kecukupan, dan kemakmuran keluarga.

Karena itu, membeli perlengkapan rumah tangga pada 10 Muharram sesungguhnya bukan hanya persoalan benda yang dibeli, tetapi merupakan ekspresi optimisme bahwa kehidupan di tahun yang baru akan menjadi lebih baik.

Tidak sedikit pula masyarakat yang memilih memasuki rumah baru pada tanggal 10 Muharram. Momentum tersebut dianggap sebagai waktu yang baik untuk memulai kehidupan baru bersama keluarga. Tradisi ini menunjukkan bahwa masyarakat Mandar memaknai Muharram sebagai simbol awal yang penuh harapan dan keberkahan.

Dalam masyarakat adat Adolang, peringatan 10 Muharram memiliki dimensi budaya yang lebih kuat lagi melalui pelaksanaan ritual adat Ma’giling. Ritual ini merupakan bagian dari warisan budaya yang diwariskan secara turun-temurun dan berkaitan dengan berbagai cerita tutur yang hidup di tengah masyarakat Adolang.

Dari sudut pandang antropologi, ritual semacam ini memiliki fungsi penting sebagai media pelestarian memori kolektif masyarakat. Melalui ritual, sebuah komunitas menjaga hubungan dengan sejarah, leluhur, serta identitas budaya yang membentuk jati diri mereka.

Oleh karena itu, ketika sebagian masyarakat mengatakan bahwa “Muharram identik dengan peristiwa aneh”, sesungguhnya yang dimaksud bukanlah keanehan dalam arti negatif. Keanehan tersebut lebih merupakan kumpulan pengalaman budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ada larangan tertentu yang harus dihormati, ada peristiwa-peristiwa yang diyakini membawa pesan moral, ada tradisi doa bersama, ada ritual adat, dan ada pula harapan-harapan baru yang dititipkan pada awal tahun Hijriah.

Bagi masyarakat Mandar, Muharram bukan sekadar pergantian angka dalam kalender Islam. Muharram adalah ruang perjumpaan antara agama, budaya, pendidikan keluarga, dan kearifan lokal. Di dalamnya terdapat pesan tentang kehati-hatian, penghormatan terhadap nilai spiritual, pentingnya kebersamaan keluarga, serta harapan akan datangnya kehidupan yang lebih baik.

Karena itulah hingga hari ini, ketika bulan Muharram tiba, sebagian orang tua di kampung masih mengingatkan anak-anak mereka dengan kalimat yang sederhana namun penuh makna:

“Kabe’… da mie’ teke-teke…, apa’ Muharram iiii.”

Sebuah nasihat yang bukan sekadar larangan memanjat pohon, melainkan warisan kebijaksanaan yang mengajarkan kehati-hatian, penghormatan terhadap tradisi, dan kesadaran bahwa setiap awal perjalanan hidup hendaknya dimulai dengan doa, keselamatan, dan harapan yang baik.

MURSYID SYUKRI

Aktif dalam pergerakan seni budaya Mandar dan serius menghibahkan waktunya sebagai Ketua Sekolah Adat Adolang Pamboang

Share
Published by
MURSYID SYUKRI

Recent Posts

Kodim 1402/Polman Ajak Warga Nobar Piala Dunia 2026, Pererat Kebersamaan TNI dan Masyarakat

POLMAN, TAYANG9 – Komando Distrik Militer (Kodim) 1402/Polman mengajak masyarakat untuk menikmati gelaran Piala Dunia…

18 jam ago

Budaya Sebagai Komoditas

RANPERDA ini juga sangat kuat mendorong pemanfaatan budaya untuk kepentingan ekonomi. Pada prinsipnya hal ini…

1 hari ago

Bahas Ekoteologi, Menteri Agama Kutip Prof. Baharuddin Lopa

Bandung, Tayang9—Menteri Agama, Nasaruddin Umar mengutip disertasi alm. Baharuddin Lopa (Sulbar), yang menyatakan bahwa pelaut-pelaut…

2 hari ago

Pembangunan RSUD Mamuju Tengah Dimulai, Sekda Targetkan Layanan Rujukan Lebih Optimal pada 2027

MATENG, Tayang9.com – Pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah resmi melaksanakan serah terima lahan pekerjaan konstruksi terintegrasi…

2 hari ago

Kayuhan Menuju Prestasi Nasional

POLMAN, TAYANG9 — Semangat juang dan optimisme memenuhi suasana kediaman Ketua Indonesia Cycling Federation (ICF)…

3 hari ago

RJI Sulbar Gelar Workshop Jurnal dan Webinar HKI di Majene

Majene, tayang9 — Relawan Jurnal Indonesia Pengurus Daerah Provinsi Sulawesi Barat (RJI Sulbar) menggelar Workshop…

3 hari ago