Categories: GAGASANOPINI

Tuntunan, Tontonan, dan Impian

Oleh: Muhammad Fadel*

PASCA Hiroshima dan Nagasaki, Jepang tidak hanya membangun kembali gedung-gedung yang hancur. Mereka juga membangun kembali imajinasi manusianya. Trauma kolektif yang begitu besar tidak dijawab semata dengan pembangunan ekonomi, tetapi juga melalui pendidikan, seni, dan budaya populer yang mampu menumbuhkan harapan bagi generasi berikutnya.

Dari perspektif humaniora, sebuah bangsa tidak hidup hanya dari kemajuan teknologi dan kekuatan ekonomi. Sebuah bangsa juga hidup dari kemampuannya membayangkan masa depan. Di sinilah seni memainkan peran penting. Seni menjadi ruang tempat manusia mengolah luka, merawat harapan, dan menemukan kembali alasan untuk bermimpi.

Melalui anime, manga (komik bergambar), film, dan berbagai produk budaya lainnya, Jepang menghadirkan lebih dari sekadar hiburan. Karya-karya tersebut menjadi medium yang membentuk imajinasi sosial. Salah satu yang paling membekas bagi generasi milenial adalah Captain Tsubasa. Di balik cerita sepak bolanya, tersimpan narasi tentang keberanian bermimpi, kerja keras, disiplin, dan keyakinan bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari kemungkinan.

Pemikir Jerman Ernst Bloch menyebut manusia sebagai makhluk yang hidup karena harapan. Sementara Theodor Adorno melihat seni sebagai ruang yang mampu menghadirkan kemungkinan-kemungkinan yang belum ada dalam realitas. Dalam konteks ini, karya-karya budaya populer Jepang dapat dibaca sebagai upaya merawat harapan kolektif melalui imajinasi.

Barangkali karena itu seni tidak pernah sekadar menjadi tontonan. Seni adalah tuntunan yang bekerja secara halus melalui cerita, simbol, dan pengalaman estetik. Ia membentuk cara manusia memandang dirinya, masyarakatnya, dan masa depannya. Sebab pada akhirnya, peradaban tidak hanya dibangun oleh apa yang diingatnya, tetapi juga oleh apa yang mampu dibayangkannya.

Mungkin seni lahir dari mimpi, ilusi, dan fiksi. Namun sering kali dari sanalah masa depan pertama kali ditemukan.

Tapi, ini bukan hanya bola dan piala dunia, kalau soal bola saya tetap Argentina. Selamat malam.


*Penulis: Muhammad Fadel, Akademisi dan praktisi musik etnis

REDAKSI

Koran Online TAYANG9.COM - "Menulis Gagasan, Mencatat Peristiwa" Boyang Nol Pitu Berkat Pesona Polewali Sulbar. Email: sureltayang9@gmail.com Gawai: +62 852-5395-5557

Recent Posts

DPP KNTI: 3 Persoalan Nelayan Laliko Cermin Masalah Struktural Nelayan Tradisional Indonesia

POLMAN, TAYANG9 – Dewan Pengurus Pusat (DPP) Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) menilai tiga persoalan…

2 hari ago

Pemerintah Desa Lekopadis Gelar Pemberian Makanan Tambahan untuk Balita

POLMAN, TAYANG9 — Pemerintah Desa Lekopadis bersama Posyandu setempat melaksanakan kegiatan Pemberian Makanan Tambahan (PMT)…

3 hari ago

CSO Sulbar Satukan Strategi Advokasi Lingkungan

POLMAN, TAYANG9 – Sejumlah organisasi masyarakat sipil (CSO) di Sulawesi Barat menyatukan langkah untuk memperkuat…

3 hari ago

Spanyol “La Masia”  dan Taman Budaya Mandar dan Museum Sulawesi Barat

ADA satu adegan yang terus terngiang setelah final Piala Dunia 2026 usai kemarin. Bukan gol…

5 hari ago

Perkuat Ekonomi Nelayan dan Perempuan Pesisir Polman, KNTI dan ITBM Gelar FGD Peluang Bisnis Adaptif

POLMAN, TAYANG9 – Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Polewali Mandar bekerja sama dengan Institut Teknologi…

5 hari ago

Menag Perkuat Sistem Merit, Manajemen Talenta Jadi Kunci Pengembangan SDM Kemenag

Jakarta,Tayang9—Kementerian Agama kembali menggelar rutinitas Breakfast Meeting. Kali ini mengulas tentang Persiapan Implementasi Manajemen Talenta,…

5 hari ago