MENJADI kurator Mandar Ethno Music Concert merupakan pengalaman yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Ketika tawaran tersebut datang, saya menyadari bahwa menerima amanah ini berarti menerima tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar menyusun sebuah pertunjukan. Amanah ini mengharuskan saya memahami musik etnis Sulawesi Barat secara lebih utuh—bukan hanya sebagai bunyi, melainkan sebagai pengetahuan, identitas, memori kolektif, dan praktik kebudayaan yang hidup di tengah masyarakat. Oleh karena itu, langkah pertama yang saya lakukan bukanlah menyusun konsep artistik, melainkan kembali membaca teks dan memahami konteks kebudayaan yang melahirkan bunyi-bunyi tersebut.
Proses itu saya awali dengan mempelajari berbagai data, dokumentasi, dan ensiklopedia musik etnis Sulawesi Barat. Saya mencoba memahami fungsi sosial setiap instrumen, makna yang dikandungnya, sejarah yang melatarbelakanginya, hingga idiom-idiom musikal yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Dalam perjalanan tersebut saya merasa sangat beruntung dapat berdiskusi dan belajar bersama salah seorang senior, guru, sekaligus pembimbing saya, Bapak Sahabuddin Mahganna, S.Pd., M.M.
Beliau merupakan sosok yang selama ini menjadi salah satu rujukan utama dalam membaca metadata musik etnis Sulawesi Barat, sekaligus penulis buku Olioreang yang hingga kini menjadi referensi penting bagi mahasiswa dan peneliti yang mengkaji kesenian Mandar, khususnya di bidang etnomusikologi. Banyak perspektif yang saya peroleh melalui diskusi bersama beliau, mulai dari pembacaan fenomena bunyi, sejarah musikal, hingga relasi musik dengan kehidupan masyarakat Mandar.
Setelah proses pembacaan awal tersebut, saya bersama tim melakukan berbagai diskusi dengan Ibu Irma Trisnawati, S.Pd., M.M., selaku Kepala UPTD Taman Budaya dan Museum Sulawesi Barat. Dari berbagai pertemuan itu lahirlah sebuah tawaran yang menurut saya cukup penting dalam penyelenggaraan Mandar Ethno Music Concert tahun ini, yakni mengubah mekanisme pemilihan peserta dari sistem undangan menjadi sistem open call untuk kategori Kreasi, Inovasi, dan Konservasi serta Karya Eksperimental.
Keputusan tersebut bukan lahir tanpa pertimbangan. Dengan total delapan belas slot pertunjukan dan tujuh di antaranya telah dialokasikan untuk pertunjukan pakem, saya dihadapkan pada dilema yang cukup besar. Hampir seluruh komunitas, sanggar, maupun kelompok musik yang saya kenal merupakan teman, sahabat, atau rekan seperjalanan dalam dunia musik. Menggunakan sistem undangan berpotensi melahirkan keberpihakan yang tidak saya inginkan.
Karena itu, sistem open call menjadi pilihan yang menurut saya lebih demokratis sekaligus menjadi pernyataan bahwa UPTD Taman Budaya dan Museum Sulawesi Barat adalah rumah bersama yang terbuka bagi seluruh pelaku seni, komunitas kreatif, peneliti, akademisi, mahasiswa, hingga masyarakat yang memiliki perhatian terhadap perkembangan musik etnis di Sulawesi Barat. Festival ini kami rancang bukan hanya sebagai ruang pertunjukan, tetapi juga sebagai ruang dialog, ruang belajar, dan ruang bertemunya berbagai gagasan mengenai masa depan musik etnik.
Dalam menjalankan proses kuratorial saya tidak berjalan sendiri. Saya didampingi oleh sosok akademisi yang memberikan perspektif berbeda, yaitu Dr. Junaedi Mahyuddin, M.Pd., dosen Universitas Muhammadiyah Enrekang yang memiliki latar belakang keilmuan dalam bidang psikologi dan pendidikan.
Kehadiran beliau memberikan sudut pandang baru mengenai bagaimana memahami respons manusia, kondisi psikologis para penampil, serta pentingnya kesiapan mental dalam sebuah pertunjukan. Beliau juga mendampingi kami dalam menyusun berbagai naskah hasil mini riset lapangan yang kami lakukan selama kurang lebih dua bulan pada masa pra-event. Bagi kami, proses tersebut bukan sekadar persiapan teknis, melainkan sebuah penelitian kecil yang menjadi dasar dalam membangun keseluruhan narasi festival.
Setelah konsep disepakati bersama berbagai pihak, tahapan berikutnya adalah membentuk tim artistik. Salah satu keputusan yang bagi saya cukup penting adalah memilih saudara Wahyu Alamsyah sebagai Stage Manager. Mungkin sebagian orang menganggap keputusan tersebut cukup berani mengingat usianya yang masih muda. Namun saya percaya bahwa regenerasi hanya akan terjadi apabila generasi muda diberi kesempatan untuk belajar melalui pengalaman nyata. Saya ingin tumbuh bersama tim yang saya bentuk. Saya juga merasa kurang elok apabila harus memberikan instruksi artistik kepada para senior yang selama ini justru menjadi guru bagi saya. Oleh karena itu, saya memilih membangun tim yang dapat berkembang bersama.
Terima kasih yang sebesar-besarnya saya sampaikan kepada Wahyu Alamsyah atas dedikasi, kesabaran, dan kerja kerasnya sejak masa pra-event hingga pasca-event. Di tengah berbagai keraguan yang datang dari banyak pihak—”Apakah kalian mampu?” atau “Apakah kalian bisa?”—kami hanya memiliki satu jawaban yang selalu kami pegang bersama: Insya Allah bisa.
Tim kecil yang bekerja bersama saya juga diisi oleh Irwan Ernawan (A’ba Raka), Iswandi, Jalaluddin, Khalayak Rahmatan, Sulikipli, Munir (Papa Agung), serta siswa-siswi SMAN 1 Tinambung. Sementara itu, aspek kepanitiaan secara umum tetap dikelola oleh UPTD Taman Budaya dan Museum Sulawesi Barat sebagai bentuk pemberdayaan kelembagaan dalam pengelolaan manajemen artistik dan manajemen event.
Selama proses kuratorial saya belajar bahwa tugas seorang kurator tidak berhenti pada penyusunan konsep. Kami juga melakukan observasi terhadap materi pertunjukan melalui program Kunjungan Kurator, yaitu proses mengunjungi para penampil untuk berdiskusi mengenai konsep, repertoar, pendekatan artistik, hingga kesiapan teknis. Sebagian kunjungan dilakukan secara langsung dan sebagian lainnya melalui media daring karena keterbatasan waktu serta jarak. Namun justru melalui proses tersebut saya melihat antusiasme luar biasa dari para peserta. Semangat mereka menjadi energi yang terus menguatkan kami selama proses penyelenggaraan festival.
Banyak pelajaran yang saya peroleh. Saya belajar bahwa sebuah pertunjukan yang baik tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses dialog, berbagi gagasan, evaluasi teknis, pembacaan ulang konsep, hingga penyempurnaan repertoar. Saya juga menyadari bahwa kritik dan masukan merupakan bagian penting dalam membangun kualitas sebuah festival.
Oleh karena itu, saya juga banyak berkonsultasi dengan berbagai akademisi dan praktisi seni di luar Sulawesi Barat, di antaranya Dr. Eli Irawati, Dr. I Nyoman Cau Arsana, M.Hum., Dekan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta, Rahmat Kurniawan, S.Sn., M.Sn., Vikram Maura, M.Pd., serta berbagai dosen dan senior lainnya. Berbagai diskusi tersebut semakin menguatkan keyakinan saya bahwa Mandar Ethno Music Concert harus diletakkan sebagai praktik Applied Ethnomusicology, yaitu bagaimana kajian etnomusikologi tidak berhenti sebagai penelitian, tetapi hadir sebagai tindakan nyata melalui pertunjukan, dokumentasi, pendidikan, dan pengembangan ekosistem budaya.
Salah satu perhatian utama kami adalah aspek teknis audio. Selama menempuh pendidikan saya sering mendengar bahwa salah satu tantangan pembangunan kebudayaan di Sulawesi Barat adalah masih terbatasnya dokumentasi pertunjukan yang memiliki kualitas baik. Karena itu, kami berusaha menempatkan kualitas audio sebagai bagian penting dalam desain kegiatan. Festival ini tidak hanya kami targetkan menghasilkan pertunjukan, tetapi juga menghasilkan dokumentasi audiovisual yang layak menjadi arsip kebudayaan, memperluas keterlibatan perempuan dalam pertunjukan, serta melakukan pendataan terhadap para seniman dan pelaku budaya sebagai bagian dari upaya penguatan Indeks Pembangunan Kebudayaan.
Saya juga menyampaikan apresiasi kepada Zulkifli Ziddik yang banyak membimbing saya dalam tata kelola event dan strategi publikasi media sosial, serta kepada Alvian bersama seluruh tim Vendor AMG yang telah menjadi ruang belajar bagi kami mengenai tata suara pertunjukan. Melalui mereka kami belajar mengenai channel list, signal flow, tata kelola audio, hingga standar teknis pertunjukan profesional yang selama ini sering luput dari perhatian para pelaku seni.
Secara khusus, saya menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Irma Trisnawati, S.Pd., M.M., selaku Kepala UPTD Taman Budaya dan Museum Sulawesi Barat. Beliau bukan hanya memberikan kepercayaan kepada saya untuk mengemban amanah sebagai kurator, tetapi juga membuka ruang bagi lahirnya berbagai gagasan baru dalam penyelenggaraan Mandar Ethno Music Concert.
Kepemimpinan beliau yang terbuka terhadap dialog, kritik, dan inovasi memberikan keleluasaan bagi kami untuk merancang festival ini sebagai ruang kebudayaan yang inklusif dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Di tengah besarnya tanggung jawab penyelenggaraan, beliau senantiasa hadir sebagai pemimpin yang mengarahkan, mendukung, sekaligus mempercayai proses kreatif yang kami bangun bersama.
Ucapan terima kasih yang tulus juga saya sampaikan kepada seluruh keluarga besar UPTD Taman Budaya dan Museum Sulawesi Barat. Sejak masa pra-event, pelaksanaan, hingga pasca-event, seluruh pegawai telah menunjukkan dedikasi, semangat gotong royong, dan komitmen yang luar biasa dalam membantu setiap proses persiapan, pemantapan teknis, koordinasi, hingga pelaksanaan kegiatan. Keberhasilan sebuah festival kebudayaan tidak hanya ditentukan oleh para penampil yang berada di atas panggung, tetapi juga oleh kerja-kerja sunyi dari banyak orang yang bekerja di balik layar.
Penghargaan dan rasa hormat juga saya sampaikan kepada Bapak Asmadi Taro, Drs. Syuti atau yang karib disapa Bang Seto, dan Bapak Aslam, yang sejak awal senantiasa mengawal jalannya proses penyelenggaraan serta memberikan berbagai arahan, masukan, dan coaching kepada tim. Kehadiran mereka tidak hanya membantu kami dalam menyelesaikan berbagai persoalan teknis dan manajerial, tetapi juga menjadi sumber motivasi dan ketenangan dalam menghadapi dinamika penyelenggaraan sebuah festival kebudayaan.
Bagi kami yang masih belajar, pendampingan tersebut merupakan bekal yang sangat berharga dalam membangun tata kelola event yang lebih baik.Ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya juga saya sampaikan kepada para fasilitator lapangan yang telah menjadi perpanjangan tangan tim kuratorial selama proses pra-event, observasi, koordinasi, hingga pelaksanaan kegiatan. Kepada Bapak Adil Tambono, Bang Tono, Bang Rhoma, dan Bang Rully yang banyak membantu kami di wilayah Polewali Mandar dan Mamasa; kepada Pak Aco, Pak Jalil, dan Pak Ilham yang dengan penuh dedikasi mendampingi berbagai proses di wilayah Mamuju; serta kepada saudara saya Fauzan yang menjadi fasilitator di Kabupaten Pasangkayu. Kehadiran mereka menjadi fondasi penting dalam memperlancar komunikasi dengan para pelaku seni, membantu proses riset lapangan, serta memastikan setiap tahapan kuratorial dapat berjalan sesuai dengan yang telah direncanakan. Kerja mereka mungkin tidak banyak terlihat di atas panggung, tetapi justru menjadi bagian yang sangat menentukan dalam keberhasilan festival ini.
Pada akhirnya saya menyadari bahwa Mandar Ethno Music Concert tidak dibangun oleh satu atau dua orang. Festival ini merupakan hasil dari gotong royong berbagai pihak—pemerintah, akademisi, seniman, komunitas, fasilitator, tim teknis, media, relawan, hingga masyarakat yang bersama-sama percaya bahwa musik etnik Sulawesi Barat memiliki masa depan yang layak diperjuangkan. Saya percaya, setiap orang yang terlibat telah meninggalkan jejak penting dalam ikhtiar bersama merawat bunyi, menjaga ingatan budaya, dan membangun ekosistem musik etnik yang lebih kuat bagi generasi mendatang.
Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada M. Syariat Tajuddin, S.H., M.H. selaku Ketua Dewan Kesenian Sulawesi Barat, Muhaimin Faisal selaku Ketua Dewan Kebudayaan Sulawesi Barat, Hasanuddin Latif,Yusrina Fitriah, Mat Doang (Tuan Pitaya), Adi Haris, Ashari Naim, Ulfi Mahendra, seluruh penampil kategori Pakem, Kreasi, Inovasi dan Konservasi, serta Eksperimental, dan semua pihak yang telah memberikan kritik, saran, tenaga, serta kepercayaan selama proses ini berlangsung.
Pada akhirnya saya menyadari bahwa Mandar Ethno Music Concert bukanlah karya satu orang. Festival ini merupakan hasil dari gagasan panjang yang telah dirintis oleh banyak senior sebelumnya. Kami hanya melanjutkan estafet tersebut dengan mencoba melakukan berbagai penyesuaian terhadap tantangan zaman. Apabila dalam proses ini terdapat perubahan sistem maupun pendekatan, hal itu semata-mata merupakan ikhtiar untuk menjadikan festival ini lebih adaptif, lebih terbuka, dan lebih relevan terhadap kebutuhan ekosistem musik etnis hari ini.
Harapan saya sederhana. Semoga pemerintah semakin memberikan ruang yang luas bagi para seniman, peneliti, akademisi, dan pelaku budaya di Sulawesi Barat. Daerah ini memiliki banyak sumber daya manusia yang tidak hanya berprofesi sebagai praktisi seni, tetapi juga merupakan lulusan pendidikan seni dan sarjana seni yang memiliki kapasitas untuk berkontribusi. Mereka layak memperoleh ruang untuk berkarya, bereksperimen, melakukan penelitian, dan berpartisipasi dalam pembangunan kebudayaan daerah.
Bagi saya pribadi, menjadi kurator bukan sekadar menyusun sebuah festival. Menjadi kurator adalah belajar mendengar lebih banyak daripada berbicara, membaca lebih jauh daripada menilai, serta memastikan bahwa setiap bunyi yang hadir di atas panggung memiliki akar yang kuat pada kebudayaan sekaligus memiliki harapan untuk terus hidup di masa depan. Sebab pada akhirnya, merawat musik etnik bukan hanya tentang menjaga tradisi, melainkan memastikan bahwa tradisi itu terus menemukan cara untuk berbicara kepada zamannya.
*Penulis: Muhammad Fadel, Kurator Mandar Ethno Music Concert
MANDAR Musik Ethno Concert 2026 bukan sekadar rangkaian pertunjukan musik. Ia adalah sebuah aksara kehidupan…
Jakarta, Tayang9—Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menitipkan pesan kepada 119 Guru Besar yang baru saja…
Mateng, Tayang9.com – Pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah secara resmi menyerahkan Surat Keputusan (SK) pengangkatan serta…
POLMAN, TAYANG9 – Mandar Musik Ethno Concert (MMEC) 2026 yang digelar selama tiga hari, 9–11…
SIANG itu, terik matahari di Kecamatan Bambalamotu, Kabupaten Pasangkayu, terasa begitu menyengat, seolah bersiap memanggang…
MUSIK tradisional merupakan salah satu unsur penting dalam identitas suatu bangsa. Di dalamnya tersimpan sejarah,…