Categories: GAGASANOPINI

Mandar Musik Ethno Concert sebagai Aksara Perjalanan Bunyi

*Oleh: Muhammad Yusuf

MANDAR Musik Ethno Concert 2026 bukan sekadar rangkaian pertunjukan musik. Ia adalah sebuah aksara kehidupan yang ditulis melalui bunyi, generasi, dan waktu. Setiap malam menjadi lembar yang saling menyambung, menghadirkan kisah tentang bagaimana tradisi lahir, bertumbuh, lalu menemukan bentuk-bentuk barunya.

Malam pertama adalah rahim kebudayaan. Di panggung berdiri para orang tua, mereka yang memelihara ingatan, yang menyimpan denyut musik tradisi di dalam tubuh dan pengalaman hidupnya. Dari tangan-tangan mereka, bunyi seakan dilahirkan kembali. Setiap tabuhan dan petikan bukan sekadar nada, melainkan napas leluhur yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Mereka adalah ibu yang melahirkan bunyi, sumber mata air yang tak pernah berhenti mengalir.

Malam kedua menghadirkan anak-anak, sebagian besar masih berada di bangku sekolah menengah pertama. Pada diri mereka, bunyi menemukan tubuh yang baru, lincah, jujur, dan penuh kemungkinan. Musik tidak lagi hanya menjadi warisan yang dikenang, tetapi juga menjadi permainan yang hidup. Di tangan mereka, tradisi bergerak dengan wajah yang lebih segar, memperlihatkan bahwa kebudayaan hanya akan tetap bernapas ketika diwariskan kepada mereka yang sedang bertumbuh.

Pada malam penutupan, bunyi mencapai fase pendewasaannya. Para pemuda dan komposer Mandar Sulawesi Barat meramu seluruh warisan itu melalui daya cipta dan kedalaman intelektual. Mereka tidak memutus akar tradisi, melainkan mengolahnya menjadi kemungkinan-kemungkinan baru. Tradisi bertemu dengan refleksi, pengalaman bertemu dengan imajinasi, hingga musik menjelma sebagai ruang dialog antara masa lalu dan masa depan.

Dengan demikian, susunan acara Mandar Etno Concert bukanlah pilihan yang kebetulan. Ia adalah metafora perjalanan kehidupan itu sendiri. Dari rahim para tetua lahirlah bunyi. Bunyi itu kemudian tumbuh bersama anak-anak yang memainkannya dengan riang dan penuh harapan. Pada akhirnya, bunyi tersebut dimatangkan oleh para pemuda yang mengolahnya menjadi karya-karya yang berpijak pada tradisi sekaligus menatap masa depan.

Di sanalah Mandar Musik Ethno Concert 2026 menemukan maknanya,  bukan hanya sebagai panggung pertunjukan, melainkan sebagai siklus kehidupan kebudayaan. Sebuah kisah tentang kelahiran, pertumbuhan, dan pendewasaan bunyi, yang terus mengalir sebagaimana kehidupan itu sendiri.


*Penikmat Seni Budaya yang Fokus Bergiat sebagai Aktifis Lingkungan Hidup di Kabupaten Majene

REDAKSI

Koran Online TAYANG9.COM - "Menulis Gagasan, Mencatat Peristiwa" Boyang Nol Pitu Berkat Pesona Polewali Sulbar. Email: sureltayang9@gmail.com Gawai: +62 852-5395-5557

Recent Posts

Mandar Ethno Music Concert: Merawat Bunyi, Membaca Zaman

MENJADI kurator Mandar Ethno Music Concert merupakan pengalaman yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Ketika…

58 menit ago

Kukuhkan 119 Guru Besar, Menag Titip Pesan: Hadirkan Dampak Lewat Ilmu

Jakarta, Tayang9—Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menitipkan pesan kepada 119 Guru Besar yang baru saja…

20 jam ago

Bupati Arsal Aras Serahkan SK dan Ambil Sumpah 156 PNS Formasi 2024, Tekankan Integritas dan Pelayanan Publik

Mateng, Tayang9.com – Pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah secara resmi menyerahkan Surat Keputusan (SK) pengangkatan serta…

21 jam ago

MMEC 2026 Resmi Ditutup, Kolaborasi Seniman Warnai Malam Penutupan di Buttu Ciping

POLMAN, TAYANG9 – Mandar Musik Ethno Concert (MMEC) 2026 yang digelar selama tiga hari, 9–11…

2 hari ago

Hipnotis Gulintang: Kidung Sunyi yang Nyaris Senyap di Pesisir Bambalamotu

SIANG itu, terik matahari di Kecamatan Bambalamotu, Kabupaten Pasangkayu, terasa begitu menyengat, seolah bersiap memanggang…

3 hari ago

Membangkitkan Kembali Jati Diri Musik Etnik Mandar di Tangan Generasi Muda

MUSIK tradisional merupakan salah satu unsur penting dalam identitas suatu bangsa. Di dalamnya tersimpan sejarah,…

3 hari ago