POLMAN, TAYANG9 – Atmosfer antusiasme menjelang gelaran bergengsi Pekan Sastra Tubuh Kata kian terasa hangat. Sebagai ajang perayaan sastra, seni peran, dan ekspresi budaya, event yang akan dihelat, 16 malam hingga 18 malam, bulan Juli tahun 2026 di Baruga Boyang Kaiyyang TBM Provinsi Sulawesi Barat ini, menaruh perhatian besar pada eksplorasi medium kata dan tubuh. Dua kategori utama yang menjadi sorotan dan dinantikan publik adalah kompetisi monolog serta cipta dan baca puisi.
Para tokoh penting di balik layar festival ini, mulai dari kurator, juri, hingga tim produksi, membagikan pandangan mendalam mereka mengenai arah konseptual festival, tantangan artistik, serta pentingnya ruang ekspresi bagi generasi baru.
Arah Konseptual: Menjadikan Kata dan Tubuh Sebagai Jembatan Realitas
Sebagai sosok yang meramu arah dan ruh dari festival ini, Abdul Muttalib selaku Kurator Event Pekan Sastra Tubuh Kata, menjelaskan signifikansi pemilihan tema dan konsep acara. Menurutnya, festival ini dirancang bukan sekadar sebagai ajang perlombaan estetika belaka, melainkan sebuah ruang refleksi sosial di mana teks (sastra) dan laku (tubuh) saling bertaut.
“Pekan Sastra Tubuh Kata didesain sebagai laboratorium kreatif untuk melihat sejauh mana kata-kata mampu menjelma menjadi laku tubuh yang hidup, dan sebaliknya, bagaimana tubuh mampu menyuarakan pesan-pesan sastrawi yang mendalam. Sebagai kurator, kami ingin memastikan bahwa karya-karya yang hadir di festival ini tidak hanya indah secara visual atau puitis secara teks, tetapi juga memiliki kepekaan sosial serta mampu merespons realitas budaya di sekitar kita,” urai Abdul Muttalib.
Kedalaman Puisi: Menemukan Entitas Filosofis dan Sufistik Manusia
Di ranah sastra tulis dan lisan, Hendra Jafar yang bertindak sebagai salah satu Juri Puisi, memberikan perenungan mendalam mengenai hakikat sastra dan puisi yang dilombakan dalam festival ini. Bagi Hendra, puisi bukan sekadar deretan kata yang riuh, melainkan refleksi batin yang lahir dari proses kontemplasi yang sunyi.
“Pada dasarnya sastra bukanlah suara bising. Sastra adalah perpaduan endapan sejarah, suara nurani, dan bahasa-bahasa sunyi dari masyarakat yang dikemas indah oleh penyair,” ungkap Hendra Jafar.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa seorang penyair memegang peran yang sangat kompleks dan transendental, melampaui batasan-batasan formal di masyarakat.
“Penyair bukan sekadar entitas kultural, sosiologis, dan historis, tetapi juga entitas filosofis dan sufistik yang tidak jarang ditemukan lewat kekhusyukan penyairnya. Semoga lewat Pekan Sastra ini kita temukan entitas-entitas itu yang intinya melihat manusia utuh sebagai manusia,” harapnya.
Tantangan Monolog: Mengorkestrasikan Pikiran, Tubuh, dan Rasa
Sejalan dengan tantangan di bidang puisi, tantangan yang tidak kalah besar berada di pundak para aktor monolog. Asmadi Alimuddin, yang didapuk sebagai salah satu dari tiga Juri Monolog, memaparkan esensi mendalam dari sebuah pementasan tunggal (one-man play atau monodrama). Menurutnya, tampil sendirian di bawah sorotan lampu panggung menuntut kesiapan mental dan kapasitas keaktoran yang jauh lebih matang dibanding seni peran kolektif.
“Pada hakikatnya, seorang aktor bermain tunggal di atas panggung tanpa lawan main. Aktor harus menyadari bahwa bermain sendirian tidak semudah bermain dengan adanya lawan main. Ketika di atas panggung, tidak ada yang bisa menolong kecuali diri sendiri sang aktor yang bermain,” ujar Asmadi.
Bagi Asmadi, monolog adalah ujian sekaligus kawah candradimuka terbaik untuk melatih kualitas keaktoran seseorang. Agar pertunjukan tidak terasa monoton dan mampu menyihir penonton, seorang aktor wajib menguasai harmoni tiga elemen dasar dalam dirinya secara simultan, mulai dari pikiran yakni, menjaga fokus, pemahaman naskah, dan ketajaman interpretasi karakter. Kedua adalah tubuh atau estur dan bahasa tubuh yang mampu bercerita tanpa perlu banyak kata. Dan yang ketiga adalah, rasa yakni kedalaman emosi yang jujur agar pesan tersampaikan secara organik.
“Ketiga unsur ini harus mampu dibangun oleh sang aktor bagaikan sebuah orkestra yang menyambung secara simultan dalam waktu bersamaan. Dengan begitu, acting-nya akan terasa meyakinkan dan menarik,” jelasnya.
Wadah Kreativitas dan Penumbuhan Talenta Baru
Di sisi lain panggung, Abdul Rahman Baaz selaku Stage Manager Pekan Sastra Tubuh Kata, menyoroti dampak sosial dan budaya dari diadakannya kompetisi ini. Ia melihat antusiasme yang sangat luar biasa dari para peserta yang mendaftar, menandakan dahaga akan ruang-ruang ekspresi yang sehat dan berkualitas di masyarakat.
Bagi Abdul Rahman, ajang ini bukan sekadar urusan menang atau kalah, melainkan sebuah investasi kebudayaan jangka panjang.
“Lomba cipta puisi dan monolog merupakan ruang yang sangat baik untuk menumbuhkan kreativitas, keberanian berekspresi, serta apresiasi terhadap seni dan budaya,” ungkap Abdul Rahman.
Ia pun menaruh harapan besar agar perhelatan serupa dapat terus dipertahankan dan konsisten dilaksanakan di masa mendatang.
“Saya berharap kegiatan seperti ini terus diselenggarakan karena mampu melahirkan talenta-talenta baru sekaligus memperkuat budaya literasi dan seni di masyarakat,” pungkasnya optimis.
Dengan sinergi pemikiran dari kurator, juri puisi dan monolog, serta tim produksi, Pekan Sastra Tubuh Kata diproyeksikan tidak hanya menjadi panggung unjuk bakat, tetapi juga menjadi oase literasi yang mengukuhkan posisi seni peran dan sastra di hati masyarakat luas.
POLMAN, TAYANG9 — Panggung sastra dan pertunjukan di Sulawesi Barat akan kembali bergemuruh! Hal itu…
MENJADI kurator Mandar Ethno Music Concert merupakan pengalaman yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Ketika…
MANDAR Musik Ethno Concert 2026 bukan sekadar rangkaian pertunjukan musik. Ia adalah sebuah aksara kehidupan…
Jakarta, Tayang9—Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menitipkan pesan kepada 119 Guru Besar yang baru saja…
Mateng, Tayang9.com – Pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah secara resmi menyerahkan Surat Keputusan (SK) pengangkatan serta…
POLMAN, TAYANG9 – Mandar Musik Ethno Concert (MMEC) 2026 yang digelar selama tiga hari, 9–11…