Categories: KOLOMMS TAJUDDIN

Pemilu Bukan Panggung Pertunjukan Sakit Jiwa Sosial

MEMBACA kenyataan politik juga adalah membaca peta panjang sejarah perjalanan manusia. Yang dalam kenyataannya juga sama dengan membaca pasar. Yang di dalam pasar itu, memuat sejumlah transaksi peralihan kedaulatan dari tangan pemegang sah kedaulatan kepada mereka yang dianggap kafabel (baca: mampu) untuk memegang mandat dari daulat rakyat atau warga.

Karena dia pasar, maka pada politik, utamanya jika terkait dengan peristiwa kepemiluan juga adalah membaca perilaku pasar dan itu boleh jadi juga adalah, membaca perilaku hukum dan realitas sosial kebudayaan manusia sebagai makluk antropologis.


Pemilu disatu sisi, selalu dibebani dengan hajat atau keinginan untuk menuju kepada kebaikan dan kemaslahatan bersama. Begitulah adanya, Pemilu tidak dihadirkan sebagai peristiwa untuk bersilang sengkarut, apalagi untuk saling menistakan dan meletakkan sesama makhluk politik sebagai lebih rendah dari kita.

Bahwa pemilu sebagai ajang kontestasi pertarungan politik, tidak sedang dinisbatkan sebagai ruang adu kehebatan yang boleh jadi akan berakhir sebagai adu keegoan subjektif belaka.

Pemilu semestinya menjadi ruang renung bersama untuk sama katarsis dan meletakkan manusia dalam harkatnya sebagai makhluk yang seyogyanya dimuliakan. Dan jika Pemilu lalu hadir untuk membuat kita kian menjaga jarak dengan nilai-nilai kemanusiaan, maka Pemilu bisa disebut sebagai bentuk dari kesalahan umat manusia dalam menciptakan metode peralihan sirkulasi kekuasaan yang salah kaprah.

Pemilu apapun jenis dan bentuknya serta levelnya adalah wilayah mensubtitusikan keinginan bersama warga, kedalam kerangka yang lebih beradab. Karenanya Pemilu hendaknya dipandang sebagai ruang bersama yang mestinya ditampilkan dalam wajah yang santun, beradab dan sama memanusiakan. Bukan alat bagi upaya kita untuk saling memangsa sesama kita.


Dan jika Pemilu kemudian berakhir menjadi panggung pertunjukan sakit jiwa sosial kita, maka Pemilu tampaknya harus dirumuskan ulang dalam berbagai kerangka, yang tidak saja didekati dalam kacamata mekanisme ketatanegaraan, hukum yang normatif, atau angka-angka peroleh suara yang amat statistik itu.

Tetapi sudah saatnyalah Pemilu dijadikan sebagai capaian sejarah dan juga kebudayaan kita. Yang dengannya kita bisa mengatakan, karena saya hendak saling memanusiakan sebagai makhluk yang beradab, maka saya harus melibatkan diri dalam Pemilu.

Yah, Pemilu sebagai tugas suci kemanusiaan kita yang mestinya kita selenggarakan tidak hanya sebagai keharusan hukum dan politik belaka, tetapi waktu baik untuk menujukkan diri kita, sebagai sungguh-sungguh manusia yang layak disebut sejatinya manusia. Bukan manusia yang sedang menuhankan kekuasaan dengan segala unsur hitungan-hitungan untung rugi kapital.

Bukan manusia yang sedang berperan dalam lakon kebinatangan yang syarat dengan kebejatan dan kebuasan karena hendak menuju kepada kerakusan kekuasaan, jabatan dan segenap pernik kapital yang menguntitnya.

Dan dengan datang memenuhi panggilan tempat pemungutan suara dan memilih mereka yang kita pandang cakap dan memiliki kemampuan lebih untuk menjadi pelayan kita adalah sebuah upaya baik, untuk meningkatkan level kemanusiaan kita. Terserah siapa dan apapun pilihan otonom diri kita. Biarkanlah hanya malaikat dan Tuhan yang tahu pilihan kita itu.

MS TAJUDDIN

belajar membaca dan menulis juga pembelajar di kehidupan

Recent Posts

Muhammad Irsyad (Peneliti SSI Script Survei Indonesia): Walk Out NasDem dan Pentingnya Membangun Komunikasi Politik yang Setara dalam Koalisi

Peneliti SSI Script Survei Indonesia Wilayah Sulawesi Barat, Muhammad Irsyad, menilai dinamika yang terjadi dalam…

9 jam ago

Ziarah Makam Leluhur Poralle Salabose: Rangkaian Acara Maulid Nabi Muhammad SAW

MAJENE Menjelang pelaksanaan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW di Poralle Salabose, Senin 24 Agustus 2026…

13 jam ago

UNASMAN Kukuhkan 206 Guru Profesional

POLMAN, TAYANG9 - Universitas Al Asyariah Mandar (UNASMAN) melalui Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) Program…

15 jam ago

Diskominfostatisper Mamuju Tengah dan MAFINDO Sulbar Edukasi Publik Tangkal Hoaks Lewat Dialog Literasi Digital

MAMUJU — Kepala Bidang Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian (Diskominfostatisper) Kabupaten Mamuju Tengah, Nur…

16 jam ago

Pemprov Sulbar Tetapkan Logo HUT ke-22, Ini Makna dan Filosofinya

MAMUJU, TAYANG9 — Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat menetapkan penggunaan logo Hari Ulang Tahun (HUT) ke-22…

23 jam ago

Jembatan Perintis Garuda Segera Dibangun, TNI dan Warga Tutar Gelar Doa Bersama

POLMAN, TAYANG9 – Sebelum pembangunan dimulai, anggota TNI bersama masyarakat menggelar doa bersama di lokasi…

1 hari ago