KEPADAMU para pemimpin politik dan pemimpin birokrasi, selamat merdeka di hari kemerdekaan ini. Bagaimana kabar hari-hari ketika keputusanmu diambil dengan penuh keyakinan, meski saat itu boleh jadi akal sehatmu sedang cuti dan kepalamu sedang mengeras seperti batu?
Hari-hari, saat ruang kekuasaan, kebijakan yang dirumuskan dengan bahasa yang begitu indah, demi rakyat, untuk kepentingan bersama, atas nama pembangunan, bahkan atas nama kasih sayang kepada warga dan rakyat. Namun, di luar gedung-gedung berpendingin itu, rakyat sering bertanya dengan bahasa yang jauh lebih sederhana: jika ini benar-benar cinta, mengapa hidup kian sulit dan kian terdesak ke dalam sudut kumal kehidupan?
Barangkali inilah ironi paling tua dalam sejarah kekuasaan, saat penguasa selalu peroleh alasan untuk menjelaskan keputusannya, sementara rakyat harus memiliki kesabaran untuk menanggung akibatnya. Kebijakan yang lahir dari meja rapat dan kursi kekuasaan dapat terdengar sangat rasional ketika dibacakan melalui mikrofon atau bahkan telepon seluler, tetapi terasa sangat berbeda ketika menyentuh dapur yang kehilangan asap, warung yang kehilangan pembeli, petani yang kehilangan tanah, nelayan yang kehilangan laut, atau anak-anak yang harus menghitung ulang mimpi sekolah karena biaya hidup dan pendidikan semakin tinggi. Kekuasaan memiliki podium untuk menjelaskan, sebagaimana rakyat juga memiliki kehidupan untuk membuktikan.
Kata “sayang” pun menjadi begitu murah di tangan kekuasaan. Atas nama rasa sayang, satu persatu rakyat diatur. Atas nama ketertiban, ruang hidup mereka dipersempit. Atas nama pembangunan, sesuatu yang diwariskan leluhur dapat dianggap sekadar lahan kosong. Atas nama efisiensi, suara manusia dapat diperlakukan seperti angka dalam tabel anggaran. Dan atas nama kemajuan, kebudayaan yang tumbuh selama berabad-abad terkadang diminta minggir agar proyek-proyek modern dapat lewat tanpa terganggu. Padahal kebudayaan mengajarkan satu hal yang sederhana: manusia bukan sekadar objek kebijakan, melainkan pemilik ingatan, martabat, tanah, bahasa, dan masa depan.
Sebagaimana setiap orang juga memiliki mimpi dan harapan dalam kehidupannya untuk melerai sengkarut kehidupan nyata mereka. Tanpa harus tunduk dan teringkus masuk ke dalam mimpi para penguasa dan punggawa itu.
Demikianlah, penjajahan kini tidak lagi datang dengan senapan, sepatu lars, atau kapal perang. Ia dapat datang dalam bentuk dokumen resmi, stempel, regulasi, surat keputusan, angka statistik, dan kalimat-kalimat birokratis yang sulit dicerna. Ia dapat hadir dengan senyum, jas rapi, dan konferensi pers.
Karena itu, ketika sebuah keputusan terus-menerus menyakiti kehidupan orang banyak, kita patut bertanya: apakah kemerdekaan hanya berarti bebas dari penjajah masa lalu, sementara rakyat belum sepenuhnya merdeka dari keputusan-keputusan yang dibuat tanpa mendengarkan suara mereka?
Dalam kebudayaan kita, pemimpin idealnya bukanlah manusia yang paling tinggi duduknya, melainkan manusia yang paling jauh jangkauan tanggung jawabnya. Ia semestinya mengerti bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan kursi untuk meninggikan diri. Dalam tradisi masyarakat Nusantara, terutama dalam berbagai nilai kearifan lokal, kehormatan pemimpin tidak semata-mata diukur dari banyaknya baliho, panjang dan kian cakapnya ia berpidato, atau gemerlap seremoni, tetapi dari kemampuannya menjaga martabat orang-orang yang dipimpinnya. Pemimpin yang kehilangan empati mungkin masih memiliki jabatan, tetapi perlahan kehilangan makna.
Maka, tetaplah tegak, jumawa, dan pongah jika memang itu cara baik menjalani kekuasaan. Teruslah berbicara tentang keberhasilan, tentang pertumbuhan, tentang prestasi, dan citra baik tentang betapa besar cintamu kepada rakyat. Tetapi jangan lupa, rakyat memiliki ingatan yang jauh lebih panjang daripada masa jabatan. Rakyat mungkin tidak selalu mampu melawan dengan suara keras, tetapi mereka menyimpan pengalaman dalam tubuh, dalam keluarga, dalam cerita, dalam percakapan di warung, di pasar, di sawah, di pesisir, dan di rumah-rumah yang diam-diam menghitung harga kebutuhan sehari-hari.
Pada akhirnya, sejarah tidak selalu mengenang pemimpin melalui patung dan prasasti yang dibangun atas nama mereka. Kadang sejarah justru menyimpan nama mereka melalui cerita orang-orang yang pernah merasakan akibat dari keputusan mereka. Karena itu, kepada para pemimpin politik dan pemimpin birokrasi, selamat merdeka di hari kemerdekaan ini. Jika keputusan sebagai rasa sayang ternyata justru berubah wajah seperti menjajah, menyakiti, bahkan menghantam kehidupan mereka, jangan khawatir, jasamu tidak akan hilang begitu saja. Jasamu itu, akan tetap dikenangkan dalam doa dan kesabaran rakyat. Dua hal yang tampak sunyi, tetapi dalam sejarah sering menjadi awal dari lahirnya kemerdekaan yang sejati.
Wonomulyo, 16 Agustus 2026
DI tengah gaya hidup konsumtif, pragmatis yang lebih sering mendahulukan nilai maslahat individual, dibanding nilai…
MATENG, Tayang9.com — Jembatan Merah Putih Presisi di Dusun Sikamase, Kecamatan Tobadak, Kabupaten Mamuju Tengah,…
MATENG, Tayang9.com — Memasuki musim kemarau yang berpotensi memicu kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan…
ADAT merupakan salah satu pilar utama yang membentuk identitas suatu masyarakat. Dalam perspektif antropologi, adat…
Jakarta, Tayang9—Kemerdekaan Indonesia merupakan anugerah dan pertolongan Allah Yang Maha Kuasa melalui perjuangan para pendiri…
MEDIA sosial kembali menunjukkan betapa kuatnya pengaruh emosi dalam membentuk opini publik. Sebuah video yang…