DI tengah gaya hidup konsumtif, pragmatis yang lebih sering mendahulukan nilai maslahat individual, dibanding nilai harmonis kehidupan kolektif. Tiba-tiba daku ditakdirkan untuk hadir di sebuah majelis ilmu yang mulia dan membuat daku malu setengah mati. Malu, karena ternyata daku lebih suka dihargai tapi malah alpa menghargai. Maunya dipahami, tak mau memahami. Mau didengar, ogah mendengarkan, maka tak heran jika semua orang yang hadir (kecuali diri ini) terlihat layak menjadi role model dengan peragaan adab yang mengesankan.
Ya Allah. Peragaan adab yang nihil kata, kehilangan instruksi, dan tak mengenal interupsi. Semua mengalir seolah memahami dirinya, posisinya, perannya, bahkan lebih banyak mendahulukan kepentingan orang lain dengan spirit melayani. Ini sebenarnya majelis apa? Daku tak perlu menjelaskan secara rinci, tapi cukup hanya berupaya menarik sebulir makna dari air mata yang jatuh, qalbu yang terguncang, disertai rasa malu tak berujung.
Daku seolah dihadapkan ke sebuah cermin retak. Cermin yang memantulkan siluet wajah yang tak lagi simetris, bahkan seolah memunculkan aroma kemunafikan yang menjijikkan, dipenuhi topeng yang menutupi wajah asli. Tetapi wajah asli yang mana? Daku pun mulai tidak mengenali wajah asli itu seperti apa? Karena yang terlihat hanyalah wajah pucat dengan bibir mencong-mencong.
Wajah kering layaknya mayat hidup dengan sorot mata dingin, dan seolah dahaganya baru akan terpuaskan jika sudah mengerat tubuh dan menyedot darah saudaranya sendiri. Apakah ungkapan di atas bermakna konotatif? Daku jawab dengan tegas, maknanya sangat denotatif. Berbandingterbalik dengan yang daku saksikan dengan mata kepala sendiri, makna ketulusan, keihlasan, dan ke-ridho-an begitu indah dan nyata terihat lewat peragaan adab mereka.
Semua yang hadir seolah tak memiliki jiwa, semuanya terasa mirip. Tak memiliki anasir hayawani, dan tak lagi memiliki identitas personal; kiai, ustad, pimpinan pondok, akademisi, aktivis, dokter, pejabat, pengusaha, atau semua profesi duniawi dengan segala atribut sosialnya, seolah runtuh. Daku hanya menyaksikan persinggungan persaudaraan. Tanpa tendensi, tanpa curiga, apalagi kecenderungan untuk saling memanfaatkan.
Memanfaatkan orang lain, ini juga benda yang masih daku kenali, karena bisa jadi masih menghujam begitu dalam di dalam jiwa ini. Ya Rabbi, daku bersyukur dihadirkan di waktu dan tempat agung ini. Walau hanya sekejap, tapi begitu bermakna. Terasa begitu singkat, tapi hadir layaknya spasi bagi jiwa yang sakit dan dahaga. Tempat di mana diri ini leluasa melihat topeng kepalsuan di wajah, atau kepala yang dipenuhi keinginan, angan-angan dan hasrat yang tak berujung,
Daku ‘hanya’ berharap dapat menyatu dalam untaian orkestrasi bahasa cinta, sebagai seorang hamba yang tak berdaya. Ungkapan ‘hanya’ sungguh bermakna harapan, karena untuk dihadirkan di kegiatan itu, Allah seolah tengah memberi les privat lewat sabda Baginda Rasulullah, bahwa; Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Jika tidak bermanfaat, bisa jadi diri ini bukan lagi manusia. Lalu apa? Teringat lima (5) istilah manusia di dalam bahasa Mandar yang disetir Alm. Darwis Hamzah; salah satu cendekiawan kebanggan Mandar.
Istilah pertama; Tau-tau, atau hanya rupanya yang manusia, karakter dan kecederungannya sangat tidak manusia. Kedua: Aluppas Tau, manusia yang tak memiliki manfaat bagi diri sendiri, terlebih bagi masyarakat (ampas kelapa). Ketiga, (maaf) Tau Asu, tadinya ia manusia tapi karena kondisi tertentu, fitrah kemanusiannya tergerus menjadi perangai yang mirip binatang (maaf:anjing).
Keempat, Asu Tau, tadinya sikap dan perangai mirip binatang, tapi dengan kondisi tertentu menjadikannya lebih manusiawi, dan kelima: Tau atau manusia yang sesuai fitrah dengan segala kecenderungan baik-buruknya. Lima istilah manusia Mandar tersebut, hampir kesemuanya relevan menjadi diskursus budaya. Lalu, apakah diskursus budaya cukup untuk mencetak manusia bermanfaat?
Kembali teringat ungkapan Budayawan MH. Ainun Najib beberapa tahun lalu di Majelis Maiyyah; “Jangan bermimpi merubah suatu masyarakat atau bahkan negara, jika belum sanggup merubah diri sendiri. Jika berhasil merubah/mengendalikan diri sendiri, secara otomatis Anda sudah ikut memperbaiki kondisi masyarakat, sekaligus negara,” seleroh Cak Nun.
Ungkapan cendekia dan budayawan tersebut, jika dikaitkan dengan atmosfir peragaan adab di majelis mulia itu, perlahan memunculkan pertanyaan sederhana pada diri sendiri dan masih belum sanggup daku jawab sampai detik ini: Anda sudah merasa cukup menjadi manusia, atau ‘hanya’ berharap meraih pangkat hamba di hadapan tuan-Nya? Wallahu’alam.
Abdul Muttalib: Pecinta perkutut tinggal di Tinambung.
KEPADAMU para pemimpin politik dan pemimpin birokrasi, selamat merdeka di hari kemerdekaan ini. Bagaimana kabar…
MATENG, Tayang9.com — Jembatan Merah Putih Presisi di Dusun Sikamase, Kecamatan Tobadak, Kabupaten Mamuju Tengah,…
MATENG, Tayang9.com — Memasuki musim kemarau yang berpotensi memicu kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan…
ADAT merupakan salah satu pilar utama yang membentuk identitas suatu masyarakat. Dalam perspektif antropologi, adat…
Jakarta, Tayang9—Kemerdekaan Indonesia merupakan anugerah dan pertolongan Allah Yang Maha Kuasa melalui perjuangan para pendiri…
MEDIA sosial kembali menunjukkan betapa kuatnya pengaruh emosi dalam membentuk opini publik. Sebuah video yang…