SEJARAH bukan sekadar rangkaian tanggal, nama, dan peristiwa yang tersimpan dalam buku. Ia adalah ruang ingatan kolektif yang mempertemukan masa lalu dengan kebutuhan generasi masa kini untuk memahami identitas, nilai, dan arah kehidupan bersama. Menghadirkan kembali tokoh sejarah lokal ke ruang publik bukan hanya mengenang masa lalu, melainkan bagian dari proses pendidikan kebangsaan dan pewarisan nilai antargenerasi.
Semangat itulah yang terasa dalam Bedah Buku dan Diskusi Sejarah Maemunah Djud Pantje: Guru dan Pejuang dari Mandar (1916–1995) yang digelar pada malam 19 September 2026 di Tugu Perjuangan 45 Baruga, Majene. Tempat ini bukan sekadar ruang pertemuan, tetapi juga simbol perjuangan rakyat Mandar pada masa mempertahankan kemerdekaan.
Sosok Hj. Sitti Maemunah Djud Pantje menjadi pusat pembicaraan. Ia adalah seorang perempuan, pendidik, dan pejuang yang terlibat dalam jaringan perjuangan GAPRI 5.3.1 bersama suaminya, H. Muhammad Djud Pantje. Perjuangannya memperlihatkan pertemuan dua dunia yang sering dipisahkan: pendidikan dan perjuangan kebangsaan.
Sebagai guru, ia tidak hanya mengajar di ruang kelas, tetapi juga membentuk kesadaran tentang harga diri, kebebasan, tanggung jawab sosial, keberanian, dan kecintaan terhadap tanah air. Pendidikan baginya adalah perjuangan, dan perjuangan adalah pendidikan.
GAPRI 5.3.1 sendiri memiliki makna simbolik yang erat dengan nilai keagamaan. Kode 5.3.1 dipahami sebagai lima waktu salat, tiga bentuk pengorbanan, dan satu tujuan perjuangan. Bagi para pejuang, nasionalisme dan religiusitas bukanlah hal yang terpisah.
Kesaksian keluarga Maemunah menegaskan hal ini: ia membantu sanak keluarga yang kurang mampu untuk memperoleh pendidikan, disertai pesan agar tetap berpegang pada ajaran Islam, melaksanakan salat, bekerja keras, dan pantang menyerah. Nilai agama menjadi fondasi moral yang ia wariskan kepada generasi berikutnya.
Perjuangan rakyat Mandar berlangsung dalam situasi keras. Operasi militer Westerling pada 1947 meninggalkan luka mendalam, termasuk tragedi Galung Lombok yang menjadi salah satu episode paling kelam dalam sejarah Mandar. Dalam situasi penuh tekanan itu, kehadiran perempuan seperti Maemunah menjadi penting.
Ia bukan sekadar penonton sejarah, melainkan aktor yang mengambil keputusan, membangun jaringan, mendidik masyarakat, dan menghadapi risiko perjuangan. Sejarah kemerdekaan tidak hanya milik para komandan laki-laki, tetapi juga perempuan yang bekerja di balik maupun di depan gerakan.
Kisah Maemunah juga memperlihatkan transformasi perjuangan dari fisik menuju pendidikan. Salah satu anggota keluarga menceritakan bagaimana ia yang semula bekerja sebagai pembuat kursi rotan akhirnya memperoleh kesempatan bersekolah berkat bantuan Maemunah.
Dari pengalaman itu terlihat bahwa perjuangan tidak berhenti ketika senjata diletakkan, melainkan berlanjut dalam bentuk mencerdaskan manusia. Tantangan generasi berikutnya bukan lagi kolonialisme, melainkan kemiskinan, ketertinggalan pendidikan, rendahnya literasi, dan melemahnya hubungan generasi muda dengan sejarah lokal.
Buku tentang Maemunah Djud Pantje yang ditulis oleh Muhammad Munir dan Dr. Sitti Supiah menjadi jembatan antargenerasi. Penulis menegaskan bahwa karya tersebut masih terbuka untuk penyempurnaan, karena sejarah selalu berkembang melalui penemuan arsip baru, kesaksian keluarga, dan penelitian akademik.
Dengan demikian, buku ini menjadi pintu masuk bagi generasi muda Baruga dan Majene untuk melanjutkan penelitian, mendokumentasikan sejarah lisan, memetakan situs perjuangan, dan menulis biografi tokoh lokal.
Judul kegiatan “Memanggil Generasi Baruga Tanah Mandar” memiliki makna simbolik yang kuat. Ia bukan sekadar ajakan pulang secara fisik, melainkan panggilan untuk kembali mengenali akar sejarah, identitas, dan tanggung jawab sosial. Generasi yang mengetahui sejarah leluhurnya akan lebih memahami bahwa kemajuan tidak lahir dari ruang kosong, melainkan dari kerja keras, pengorbanan, dan nilai yang diwariskan.
Dari Tugu Perjuangan 45, masyarakat kembali menyebut nama seorang perempuan yang pernah berjuang sebagai guru, ibu, dan pejuang. Nama itu dipanggil bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dipelajari, diteladani, diteliti secara kritis, dan diwariskan kepada generasi Tanah Mandar.
Nilai keberanian, pendidikan, religiusitas, kerja keras, kepedulian sosial, dan kebangsaan yang tercermin dalam kisah Maemunah menjadi pelajaran berharga. Sejarah lokal seperti ini dapat menjadi pendidikan karakter yang dekat dengan kehidupan peserta didik. Anak-anak Mandar tidak harus selalu belajar dari tokoh nasional yang jauh, tetapi juga dari tokoh yang pernah hidup di tanah yang sama.
Dengan cara itu, sejarah tidak berhenti sebagai hafalan, melainkan menjadi pengalaman belajar. Pulang kepada tanah leluhur bukan berarti hidup di masa lalu, melainkan menemukan kembali nilai yang ditanamkan oleh leluhur untuk dibawa menuju masa depan. Dari Baruga, dari Tugu Perjuangan 45, nama Maemunah Djud Pantje kembali dipanggil—sebagai inspirasi perjuangan yang tak lekang oleh waktu.
MAJENE, TAYANG9 — Bedah Buku dan Diskusi Sejarah Maemunah Djud Pantje: Guru dan Pejuang dari…
POLMAN, Tayang9 – Suasana berbeda terlihat di Makodim 1402/Polman, Sulawesi Barat. Ratusan warga dari berbagai…
POLMAN, Tayang9 – Kemarau panjang masih melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi…
ADA banyak cara untuk belajar menjadi manusia. Sebagian berlangsung di ruang kelas, melalui buku, pelajaran,…
MAJENE, TAYANG9 — Kementerian Agama Kabupaten Majene menggelar Scout Camp Kemah Mahabbah Pramuka Madrasah Tingkat…
POLMAN, Tayang9 – Kisah haru seorang ibu penyandang disabilitas yang tinggal di gubuk tak layak huni…