Categories: BERITAFEATURE

Warisan Pesan Leluhur dalam Seni Tutur

Mewariskan Sastra Kalindaqdaq dalam Bentuk Naskah Pertunjukan

SEBUAH kalimat dan pesan luhur terkandung nilai hidup yang terus mengalir sampai hari ini. Sekalipun alirannya kecil dan bahkan hanya tetes demi tetes, itu lebih baik ketimbang tidak sama sekali. Salah satu warisan seni tutur yang tetap eksis hingga hari terkhusus daerah Sulawesi Barat adalah Kalindaqdaq. Kalindaqdaq merupakan satu warisan yang di dalamnya terkandung ribuan pesan.

Hanya sayang, pesan luhur yang terkandung di dalam tradisi yang berlaku hari ini, kurang diminati generasi muda untuk dipelajari dan dipraktekkan dalam kehidupan modern generasi masa kini. Sebagaimana pesan. Pesan adalah sesuatu yang selalu kita tunggu, setelah sampai kita lantas membaca dan mengartikan maksud-maksud apa saja yang tersirat didalamnya.

Menurut Haryeni dalam jurnal Kalindaqdaq Sebagai Karya Sastra Warisan Suku Mandar menyebutkan, “Kalindaqdaq merupakan salah satu tradisi adat yang berasal dari etnis suku Mandar, Sulawesi Barat. Tradisi ini berupa penyampaian perumpamaan saat hendak menyampaikan keinginannya pada seseorang, berkarakteristik layaknya sbuah pantun juga puisi”.

Secara etimologi kalindaqdaq berasal dari Kali (gali) dan Daqdaq (dada), dan secara bahasa dapat diartikan sebagai ‘isi dada’ atau cetusan perasaan dan pikiran yang dinyatakan dalam kalimat-kalimat yang indah. Kalindaqdaq merupakan suatu karya ekspresi kreatifitas Masyarakat mandar dalam menyampaikan perasaannya.

Kalindaqdaq masih tetap dijaga dan dipraktekan dalam kegiatan-kegiatan tertentu. Dalam kacamata kesenian, kalindaqdaq juga menjadi sarana hiburan masyarakat yang selalu dinantikan. Ada kenikmatan tersendiri yang kita rasakan saat menonton pertunjukan kalindaqdaq.

Hal ini ditanggapi berbeda, Muhammad Adil, sutradara kegiatan ‘Banua Kaeyyang Multicultural Atraction’ yang dinaungi Badan Pelestarian Kebudayaan Wilayah XVIII dalam acara yang akan dilaksanakan tanggal 23 Juli 2025 esok. Garapan teater yang melibatkan aktor-aktor mahasiswa dan yang duduk dibangku SMA itu menyuguhkan pertunjukan yang realistis. Menampilkan kondisi kehidupan sehari-hari masyarakat Mandar.

Selain itu, masih menurut Muhammad Adil, dalam garapan teater itu juga dikemukakan, bagaimana Kalindaqdaq digunakan dalam kehidupan bermasyarakat.

“Jika pada hari ini kita bisa melihat seni pertunjukan kalindaqdaq hanya di acara-acara besar keagamaan dan acara adat, maka dalam garapan teater yang dihadirkan pada acara pembuka festival ini adalah kalindaqdaq yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari”.

Seperti membawa pesan luhur yang perlu dijaga dan dipelajari langsung oleh kaum muda, “kita garap dalam seni pertunjukan teater sehingga menjadi vitamin budaya yang akan selalu diterima oleh pemain mulai pada saat latihan dan akan menyebar ke teman-teman sekitarnya”.

Selain itu, kalindaqdaq yang diangkat dalam pertunjukan teatrikal akan menjadi tontonan teman-teman lain untuk memberikan gambaran umum bagaimana seni tradisi berlaku dalam kehidupan.

Dokumentasi Panitia Event Banua Kaeyyang

Hal serupa juga disampaikan oleh Cristi, asisten sutradara yang juga terlibat mendampingi kegiatan ini. Menurutnya, “seni pertunjukan teater yang kami garap dalam kegiatan kali ini menjadi pembuka sekaligus pengantar dalam untuk kegiatan-kegiatan kesenian dan kebudayaan yang akan dilaksanakan selanjutnya sampai pada tiga hari ke depan”.

Cristi yang merupakan mahasiswa jurusan teater ISI Jogya ini juga mengaku terkesan dengan tim, serta menghaturkan ucapan terimakasihnya kepada seluruh tim yang terlibat dan tergabung dalam kegiatan ini. Baginya, teater yang membawa pesan leluhur yang akan disampaikan dalam adegan beserta kalindaqdaq yang diangkat dalam naskah merupakan suatu pencapaian yang patut disyukuri.

Pesan luhur yang disampaikan merupakan sebuah catatan masa lalu dari leluhur Banua Kaeyyang di Kerajaan Balanipa. Selain menyampaikan pesan luhur, teater ini juga menampilkan dramatikal simbol antara pitu uluna salu (tujuh Kerajaan gunung) dan pitu baqbana binanga (tujuh kerajaan pesisir) yang menjadi simbol utama dalam Sejarah pembentukan narasi di Sulawesi Barat.

Pesan luhur apakah yang akan disampaikan dalam Garapan teater ini? Mari kita nantikan bersama pada acara pembukaan “Banua Kaeyyang Multicultural Attraction” yang akan dilaksanakan di Lapangan GAS Pambusuang Desa Bala Kecamatan Balanipa Kabupaten Polewali Mandar pada tanggal 23 Juli 2025 esok hari.

FAUZAN AZIMA

Penikmat dan penggiat seni budaya Mandar ini, selain aktivis juga dikenal gandrung pada berbagai gerakan spritualitas dan pencerahan

Recent Posts

Guru Mengajar Indonesia,  Siapa Mengajar Kesejahteraan Guru

BEBERAPA hari yang lalu saya membaca sebuah unggahan di media sosial yang membahas tentang perbandingan…

19 jam ago

Tuntunan, Tontonan, dan Impian

PASCA Hiroshima dan Nagasaki, Jepang tidak hanya membangun kembali gedung-gedung yang hancur. Mereka juga membangun…

19 jam ago

Pemkab Mamuju Tengah Bekali 173 ASN Hadapi Masa Pensiun, Sekda Tekankan Perencanaan Keuangan dan Administrasi

MATENG, Tayang9.com – Pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah melalui Badan Kepegawaian Daerah (BKD) menggelar sosialisasi persiapan…

1 hari ago

Kebudayaan Itu Domisili, Bukan Dominasi

SALAH satu persoalan yang paling terasa dalam Ranperda Pemajuan Kebudayaan ini adalah cara pandangnya yang…

2 hari ago

Di Balik Isu Kapus Sendana 1, Awaluddin : Mungkin Ada Yang Mengincar Jabatan Kapus!

Majene, Tayan9 -  Isu yang diarahkan kepada Kepala Puskesmas (Kapus) Sendana 1 Erwin, dinilai tidak memiliki…

3 hari ago

Kebudayaan Bukan Milik Pemerintah

SETELAH membaca berulang-ulang selama berhari-hari, kesalahan paling mendasar dalam rancangan perda ini adalah cara pandangnya…

4 hari ago