Categories: ABDUL MUTTALIBKOLOM

Traffic Light Tinambung

TRAFFIC light di kampungku Tinambung sudah lama tidak berfungsi, padahal dulu sewaktu berfungsi justru didekati lewat fungsi “yang lain” dengan tiangnya kerap dijadikan tempat bagi sebahagian kusir bendi mengikat kudanya.

Pemandangan itu tidak hanya terlihat artistik, tapi juga terasa eksotis, namun semoga tidak dianggap erotis. Erotis jika sampai melorotkan rasa malu atau sampai menunjukkan “aurat” dari keagungan tradisi dan kebudayaan Mandar.

Pernah suatu kali daku berhenti saat lampunya merah, para pengendara mobil, motor dan pejalan kaki bahkan para kusir bendi justru serentak menyalak; “Oeee, jalan saja lampu merah itu tidak usah diikuti,” seru mereka.

Memang sudah banyak persoalan kecil yang sengaja dibesar-besarkan, namun tidak sedikit persoalan besar yang sengaja dikecil-kecilkan. Inilah dilema ukuran. Ukuran besar dan kecil terkadang dijadikan fokus dan orientasi perdebatan, membuat upaya pencarian solusi menjadi hilang entah ke mana.

Secara tersurat fungsi traffic light Tinambung terasa sulit untuk ditaati, namun secara tersirat petuah dan pamali dari para nenek moyang justru tetap dipegang teguh. “Jangan mencuci alat dapur di sungai Mandar jika tidak ingin diterkam buaya,” ungkap seorang teman.

Sekilas sikap itu terasa ambigu, satu sisi menerima petatah petitih tradisi masa lalu yang sering dimaknai mitos, namun di sisi lain menolak mentaati rambu jalan traffic light yang kini masih berdiri gagah di sisi perempatan jalan Tinambung.

Bahkan di sisi kiri dan kanannya silih berganti terpancang baliho para calon yang saban hari menawarkan senyum yang ting dengan tagline mengharu biru. Mirip dengan tagline pegadaian, “Mengatasi masalah tanpa masalah.”

Betapa banyak gambar dan kata-kata yang kini hadir mendistorsi realitas, ia mungkin mewakili, tapi tidak akan pernah sanggup memuat realitas secara utuh, karena yang hadir hanya citraan. Layaknya traffic light Tinambung yang setidaknya mulau kehilangan dua konteks sekaligus di waktu yang bersamaan.

Konteks pertama, daku tak begitu khawatir jika sebahagian masyarakat Tinambung kembali tidak mentaati traffic light jika seandainya kembali difungsikan. Tapi mulai ditodong konteks kedua, jika kondisi traffic light yang sudah lama tidak berfungsi hadir semacam amsal atas sikap diamnya seorang pemimpin.

ABDUL MUTTALIB

pecinta perkutut, tinggal di Tinambung

Recent Posts

Giat Penggerak Literasi Mestinya Literat

MAJENE sejak lama dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan di Provinsi Sulawesi Barat. Julukan sebagai…

8 jam ago

Bayang-Bayang Kota Tua, Arsitektur Pemerintahan Belanda

MAJENE hari ini dikenal sebagai kota yang tenang di pesisir barat Sulawesi. Namun di balik…

2 hari ago

Hari Lahirnya Pancasila: Bukan Sekadar Diperingati, Tetapi Dilahirkan Kembali dalam Kehidupan

KEMARIN sore saya teringat sebuah percakapan sederhana bersama anak laki-laki saya, Made Ali Maulana M.…

2 hari ago

Wabup Askary Pimpin Upacara Hari Lahir Pancasila 2026, Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan dan Gotong Royong

MATENG, Tayang9.com – Pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah menggelar upacara peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026…

2 hari ago

Membaca Adalah Ibadah Terbesar

KETIKA Allah SWT pertama kali menurunkan wahyu kepada Nabi Besar Muhammad SAW di Gua Hira,…

2 hari ago

Tahapan Persiapan Musyawarah Cabang Berjalan Sesuai Agenda

POLMAN, TAYANG9 - Tahapan persiapan Musyawarah Cabang (Muscab) Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Polewali Mandar terus…

3 hari ago