Categories: GAGASANOPINI

Sebuah Catatan Reflektif: Saat Orang Miskin Marah, Allah Malah Murka

Penulis: Hamzah Ismail

ADA sebuah pelajaran sunyi yang sering kali luput dari radar kesadaran kita: Tuhan tidak hanya bersemayam dalam doa-doa yang panjang, tetapi juga hadir dalam perut yang lapar dan hati yang terluka.

Dalam buku Fathur Rabbani (Pencerahan Sufi) karya Syekh Abdul Qadir al-Jailani, dikisahkan sebuah fragmen penting saat Bani Israil dihantam bencana besar.

Mereka datang bersimpuh di hadapan Nabi mereka, memohon kunci untuk memadamkan kemurkaan alam. “Beritahukan pada kami, apa yang diridhai Allah agar kami bisa mengikutinya, sehingga bencana ini segera berakhir,” pinta mereka.

Jawaban langit sungguh di luar dugaan. Melalui wahyu-Nya, Allah berfirman: “Sampaikan kepada mereka bahwa jika mereka menginginkan keridaan-Nya, maka hendaknya mereka membuat kaum fakir merasa ridha. Jika kaum miskin telah merasa ridha, maka Allah pun akan meridhai mereka. Sebaliknya, jika mereka membuat kaum miskin marah, maka Allah pun akan murka.”

Di sinilah letak guncangannya.

Selama ini, kita kerap menyederhanakan agama hanya sebagai hubungan vertikal; antara hamba dan Pencipta semata. Kita memperelok ibadah, merawat kesalehan pribadi, dan rutin melangitkan doa-doa. Namun kita sering lupa pada dimensi horizontal yang tak kalah menentukan: hubungan dengan mereka yang lemah.

Kaum miskin bukan sekadar objek penerima zakat. Mereka adalah “termometer” nurani sebuah bangsa. Apakah masyarakat tersebut masih memiliki hati, atau telah kehilangan kemanusiaannya.

Ketika orang miskin marah, itu bukanlah sekadar luapan emosi sesaat. Itu adalah akumulasi panjang dari ketidakadilan: akses yang digembok, kesempatan yang dirampas, dan martabat yang diinjak-injak. Kemarahan mereka adalah bahasa terakhir dari jiwa-jiwa yang terlalu lama tidak didengar.

Di titik ini, agama memberi peringatan keras: murka Tuhan tidak berdiri di langit yang jauh. Ia turun bersama luka sosial yang kita biarkan menganga.

Bayangkan sebuah tatanan masyarakat yang megah dengan tempat ibadah, namun di saat yang sama membiarkan ketimpangan tumbuh liar tanpa kendali. Di satu sisi, doa dipanjatkan dengan khusyuk; di sisi lain, ada orang yang bertaruh nyawa hanya demi sesuap nasi. Di satu sisi, ayat suci menggema; di sisi lain, ada tangisan kelaparan yang tak pernah sampai ke telinga siapa pun.

Maka, membuat orang miskin “ridha” bukanlah menenangkan mereka dengan bantuan ala kadarnya atau belas kasihan sesaat, MBG, PKH, BLT dan sejensinya.

Ridha dalam konteks ini adalah menghadirkan keadilan yang nyata: akses pendidikan yang setara, peluang ekonomi yang jujur, serta perlakuan yang manusiawi atas martabat mereka. Sebab, ridha sejati bukan soal pasrah pada nasib, melainkan perasaan dihargai dan diperlakukan adil dalam kehidupan.

Kini, kita perlu bertanya dengan jujur pada diri sendiri: apakah kita sedang membangun masyarakat yang meneduhkan, atau justru sedang memupuk kemarahan yang diam-diam membara?

Bencana yang kita takutkan mungkin bukan hanya berasal dari amukan alam, melainkan dari akumulasi ketidakadilan yang kita pelihara. Dan ketika kemarahan itu meledak, kita baru akan tersadar bahwa suara yang kita abaikan selama ini ternyata adalah suara yang paling penting.

Sebab ketika orang miskin (mau?) marah, itu bukan lagi sekadar urusan sosial, itu adalah pertanda bahwa langit sedang tidak baik-baik saja.

Tinambung, 19/04/2026

REDAKSI

Koran Online TAYANG9.COM - "Menulis Gagasan, Mencatat Peristiwa" Boyang Nol Pitu Berkat Pesona Polewali Sulbar. Email: sureltayang9@gmail.com Gawai: +62 852-5395-5557

Recent Posts

Viral! Aksi Begal di Palippis Campalagian, Ternyata Rekayasa Korban Sendiri

POLMAN, TAYANG9 — Warga Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar sempat dibuat resah di Media Sosial…

5 hari ago

Kebakaran Lahan di Anreapi Polman, Petugas Turunkan Water Canon

POLMAN, TAYANG9 — Kebakaran hutan melanda Dusun Balla, Desa Pappandangan, Kecamatan Anreapi, Kabupaten Polewali Mandar,…

5 hari ago

Seorang IRT di Polman Tewas Diduga Tersengat Listrik, Polisi Lakukan Olah TKP

POLMAN, TAYANG9 — Gabungan Piket Fungsi Polres Polewali Mandar (Polman) bersama personel Polsek Campalagian mendatangi…

6 hari ago

Pemkab Mamuju Tengah Perkuat Digitalisasi Daerah, 70 Persen Pajak Telah Non-Tunai

Mateng, Tayang9.com – Pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah melalui Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD)…

6 hari ago

70 Persen Transaksi Pajak Mamuju Tengah Sudah Non-Tunai

Mateng, Tayang9.com — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mamuju Tengah terus memperkuat transformasi digital di sektor keuangan…

6 hari ago

Pemprov Sulbar–Kemensos Perkuat Bansos, Sasar Pengentasan Kemiskinan Ekstrem

Jakarta, Tayang9.com — Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat (Pemprov Sulbar) bersama Kementerian Sosial RI membahas penguatan…

6 hari ago