Categories: GAGASANOPINI

Refleksi: Ketika Kebudayaan Tak Lagi Menjadi Prioritas

Penulis: Nurfadilah*

DI tengah derasnya arus pembangunan dan perubahan zaman, kebudayaan sering kali ditempatkan di ruang pinggir. Ia hadir saat perayaan, ditampilkan dalam seremoni, dan disebut dalam pidato-pidato, tetapi tidak selalu menjadi bagian penting dalam arah kebijakan. Padahal kebudayaan bukan hanya simbol, melainkan napas yang memberi makna bagi kehidupan masyarakat.

Kebudayaan adalah warisan pengetahuan yang lahir dari perjalanan panjang leluhur. Di dalamnya tersimpan nilai tentang kebersamaan, penghormatan, etika, gotong-royong, kearifan menjaga alam, serta cara hidup yang membentuk karakter suatu bangsa. Nilai-nilai inilah yang sesungguhnya menjadi pondasi bagi masyarakat untuk tetap kokoh menghadapi perubahan.

Ketika kebudayaan tak lagi menjadi prioritas, yang hilang bukan hanya panggung seni atau tradisi tahunan. Yang perlahan memudar adalah rasa memiliki, kebanggaan terhadap identitas, dan hubungan emosional antara generasi muda dengan akar sejarahnya. Masyarakat mungkin bergerak menuju modernitas, tetapi tanpa sadar kehilangan arah yang seharusnya menuntun perjalanan itu.

Pembangunan tentu penting. Infrastruktur, teknologi, pendidikan, dan ekonomi adalah kebutuhan nyata yang harus diwujudkan. Namun pembangunan yang hanya berorientasi pada fisik sering kali meninggalkan ruang kosong dalam jiwa masyarakat. Gedung dapat berdiri megah, jalan dapat terbentang luas, tetapi jika nilai-nilai budaya diabaikan, kemajuan itu terasa dingin dan jauh dari kehidupan rakyat.

Barangkali kita perlu kembali mengingat bahwa kebudayaan tidak pernah bertentangan dengan kemajuan. Justru kebudayaan dapat menjadi penuntun agar kemajuan memiliki wajah yang manusiawi. Dari budaya, lahir etika dalam memimpin, kebijaksanaan dalam mengambil keputusan, serta kepekaan dalam memahami kebutuhan masyarakat yang beragam.

Karena itu, perhatian terhadap kebudayaan seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Ia perlu hadir dalam pendidikan, ruang publik, pemberdayaan generasi muda, perlindungan warisan tradisi, hingga kebijakan pembangunan yang menghargai kearifan lokal. Kebudayaan harus hidup dalam tindakan, bukan hanya dalam slogan.

Pada akhirnya, sebuah daerah atau bangsa tidak dikenang semata karena tingginya bangunan dan pesatnya pertumbuhan ekonomi. Ia dikenang karena mampu menjaga jiwanya di tengah perubahan zaman. Dan jiwa itu bernama kebudayaan.


*Penulis: Nurfadilah, S.I.P, M.I.Kom, Founder Yayasan Badara

ANDI BASO IAN

Santri Kehidupan yang Sedang Belajar Menulis

Recent Posts

Spanyol “La Masia”  dan Taman Budaya Mandar dan Museum Sulawesi Barat

ADA satu adegan yang terus terngiang setelah final Piala Dunia 2026 usai kemarin. Bukan gol…

10 jam ago

Perkuat Ekonomi Nelayan dan Perempuan Pesisir Polman, KNTI dan ITBM Gelar FGD Peluang Bisnis Adaptif

POLMAN, TAYANG9 – Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Polewali Mandar bekerja sama dengan Institut Teknologi…

10 jam ago

Menag Perkuat Sistem Merit, Manajemen Talenta Jadi Kunci Pengembangan SDM Kemenag

Jakarta,Tayang9—Kementerian Agama kembali menggelar rutinitas Breakfast Meeting. Kali ini mengulas tentang Persiapan Implementasi Manajemen Talenta,…

13 jam ago

Usai Tugas di Jakarta, Bupati Arsal Aras Kembali ke Mamuju Tengah dan Nobar Final Piala Dunia Bersama Ribuan Warga

Mateng, Tayang9.com – Usai menuntaskan agenda pemerintahan di Jakarta, Bupati Mamuju Tengah, Arsal Aras, langsung…

2 hari ago

Pemkab Mamuju Tengah Salurkan Bantuan bagi Korban Kebakaran di Desa Kabubu

Mateng, Tayang9.com – Pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah melalui Dinas Sosial menyalurkan bantuan kepada korban kebakaran…

2 hari ago

Musik dan Psikologi dalam Pengembangan Kognitif Talenta Muda

MUSIK merupakan salah satu bentuk ekspresi manusia yang tidak hanya menghadirkan pengalaman estetis, tetapi juga…

2 hari ago