Categories: OPINI

Refleksi: Ketika Kebudayaan Tak Lagi Menjadi Prioritas

Di tengah derasnya arus pembangunan dan perubahan zaman, kebudayaan sering kali ditempatkan di ruang pinggir. Ia hadir saat perayaan, ditampilkan dalam seremoni, dan disebut dalam pidato-pidato, tetapi tidak selalu menjadi bagian penting dalam arah kebijakan. Padahal kebudayaan bukan hanya simbol, melainkan napas yang memberi makna bagi kehidupan masyarakat.

Kebudayaan adalah warisan pengetahuan yang lahir dari perjalanan panjang leluhur. Di dalamnya tersimpan nilai tentang kebersamaan, penghormatan, etika, gotong-royong, kearifan menjaga alam, serta cara hidup yang membentuk karakter suatu bangsa. Nilai-nilai inilah yang sesungguhnya menjadi pondasi bagi masyarakat untuk tetap kokoh menghadapi perubahan.

Ketika kebudayaan tak lagi menjadi prioritas, yang hilang bukan hanya panggung seni atau tradisi tahunan. Yang perlahan memudar adalah rasa memiliki, kebanggaan terhadap identitas, dan hubungan emosional antara generasi muda dengan akar sejarahnya. Masyarakat mungkin bergerak menuju modernitas, tetapi tanpa sadar kehilangan arah yang seharusnya menuntun perjalanan itu.

Pembangunan tentu penting. Infrastruktur, teknologi, pendidikan, dan ekonomi adalah kebutuhan nyata yang harus diwujudkan. Namun pembangunan yang hanya berorientasi pada fisik sering kali meninggalkan ruang kosong dalam jiwa masyarakat. Gedung dapat berdiri megah, jalan dapat terbentang luas, tetapi jika nilai-nilai budaya diabaikan, kemajuan itu terasa dingin dan jauh dari kehidupan rakyat.

Barangkali kita perlu kembali mengingat bahwa kebudayaan tidak pernah bertentangan dengan kemajuan. Justru kebudayaan dapat menjadi penuntun agar kemajuan memiliki wajah yang manusiawi. Dari budaya, lahir etika dalam memimpin, kebijaksanaan dalam mengambil keputusan, serta kepekaan dalam memahami kebutuhan masyarakat yang beragam.

Karena itu, perhatian terhadap kebudayaan seharusnya tidak berhenti pada seremoni. Ia perlu hadir dalam pendidikan, ruang publik, pemberdayaan generasi muda, perlindungan warisan tradisi, hingga kebijakan pembangunan yang menghargai kearifan lokal. Kebudayaan harus hidup dalam tindakan, bukan hanya dalam slogan.

Pada akhirnya, sebuah daerah atau bangsa tidak dikenang semata karena tingginya bangunan dan pesatnya pertumbuhan ekonomi. Ia dikenang karena mampu menjaga jiwanya di tengah perubahan zaman. Dan jiwa itu bernama kebudayaan.

Penulis : Nurfadilah, S.I.P, M.I.Kom

(Founder Yayasan Badara)

ANDI BASO IAN

Santri Kehidupan yang Sedang Belajar Menulis

Recent Posts

Sebuah Catatan Reflektif: Saat Orang Miskin Marah, Allah Malah Murka

ADA sebuah pelajaran sunyi yang sering kali luput dari radar kesadaran kita: Tuhan tidak hanya…

21 jam ago

Viral! Aksi Begal di Palippis Campalagian, Ternyata Rekayasa Korban Sendiri

POLMAN, TAYANG9 — Warga Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar sempat dibuat resah di Media Sosial…

6 hari ago

Kebakaran Lahan di Anreapi Polman, Petugas Turunkan Water Canon

POLMAN, TAYANG9 — Kebakaran hutan melanda Dusun Balla, Desa Pappandangan, Kecamatan Anreapi, Kabupaten Polewali Mandar,…

6 hari ago

Seorang IRT di Polman Tewas Diduga Tersengat Listrik, Polisi Lakukan Olah TKP

POLMAN, TAYANG9 — Gabungan Piket Fungsi Polres Polewali Mandar (Polman) bersama personel Polsek Campalagian mendatangi…

6 hari ago

Pemkab Mamuju Tengah Perkuat Digitalisasi Daerah, 70 Persen Pajak Telah Non-Tunai

Mateng, Tayang9.com – Pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah melalui Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD)…

7 hari ago

70 Persen Transaksi Pajak Mamuju Tengah Sudah Non-Tunai

Mateng, Tayang9.com — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mamuju Tengah terus memperkuat transformasi digital di sektor keuangan…

7 hari ago