RAMPAK rebana itu menggema memecah langit malam. Orang-orang tertunduk dan takdzim menyelam masuk ke dalam diri mereka sendiri. Membaca dan memeriksa ruang batin mereka sendiri. Adakah cinta kepada Nabi Muhammad masih tegas bersemayam di dalam hatinya. Tak sedikit pula pelan-pelan air matanya tampak menetes. Begitu salah satu pemandangan yang tertangkap oleh penulis belum lama ini di rumah salah satu sahabat saya, yang menggelar acara Maulid Nabi Muhammad Saw.

Dan pemandangan seperti itu, kembali akan banyak kita temui pada bulan-bulan Maulid ini. Gegap gempita perayaannya di sejumlah tempat, mulai dari masjid, rumah-rumah warga hingga ruang publik dan perkantoran lainnya pun menjadi sesuatu yang begitu lazim kita temukan.

Tak ayal, ritual pembacaan barsanji hingga sejumlah pernak pernik seperti barakka’ atau tiri’ ikut mewarnai setiap perayaan hari yang merefleksi kecintaan umat Islam kepada Nabi Muhammad Saw. Demikianlah maulid menjadi sebuah ritual dan peristiwa tahunan yang bisa diproyeksikan atau dipandang dalam berbagai spektrum. Tidak terkecuali dalam ranah tradisi dan budaya.

Bahkan perebutan tiri’ di penghujung acara maulid pun menjadi pemandangan yang begitu lazim kita temukan. Dan terkait dengan perebutan tiri’ inilah kemudian menjadi menarik, karena suatu waktu saya pernah mendapati statemen yang menyatakan, perebutan tiri’ adalah bentuk lain keserakahan.

Lantas dalam benak saya berpikir, bukankah sebagai masyarakat tradisional kita di Mandar-Sulbar ini memiliki keyakinan bahwa tiri’ adalah sebentuk berkah yang memang harus dikejar? Artinya mencari dan bahkan mengejar berkah justru adalah sebuah keniscayaan bagi orang Islam. Utamanya penulis yang hingga kini belum bisa menggaransi diri telah hidup dalam keberkahan-keberkahan.

Karena dalam tafsir dan sependek pemahaman penulis, berkah adalah kata kunci yang harus dicari dan dikejar. Sekaligus sebagai tujuan yang akan menjadi pelabuhan yang sedang kita tuju dalam kehidupan yang kian absurd bahkan banal ini.

Dan terlepas dari ihwal di atas, penulis hanya berpikir bahwa dalam tradisi maulid yang dirayakan oleh kita di Mandar-Sulbar ini, semuanya dihadirkan sebagai bentuk persembahan kepada Nabi Muhammad Saw. Semoga dengan itu semua, saya kami, dan kita semua berharap mampu membuat Rasulullah tersenyum kepada kita, umatnya yang sungguh dhoif ini.

Maka biarkanlah, rampak rebana itu tetap menggema memecah langit malam. Karena kecintaan para pecinta memang agak sulit didefenisi dalam nalar dan logika standar. Entahlah.


Catatan ini telah dimuat di Kolom Rinai Kata Koran Harian Sulbar Express Edisi Senin 25 Oktober 2021

MS TAJUDDIN

belajar membaca dan menulis juga pembelajar di kehidupan

Recent Posts

Manajemen Talenta Kemenag, Menag Tekankan Keadilan Bagi Perempuan

JAKARTA, Tayang9 — Menteri Agama (Menag), Prof. Nasaruddin Umar membuka kegiatan Rapat Koordinasi Implementasi Manajemen…

4 jam ago

Perpusip Sulbar Telusuri Naskah Kuno di Pamboang, Terkait Sejarah Awal Pitu Ba’bana Binanga

MAJENE, Tayang9 — Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Sulawesi Barat (Perpusip Sulbar) melaksanakan kegiatan identifikasi…

3 hari ago

Sat Samapta Polres Polman Gelar Patroli Perintis Presisi di Sejumlah Titik

POLMAN, Tayang9 — Satuan Samapta Polres Polewali Mandar melaksanakan Patroli Perintis Presisi di sejumlah wilayah hukum…

4 hari ago

Jam Pulang Sekolah, Sat Lantas Polres Polman Hadir Atur Arus Kendaraan di Pekkabata

POLMAN, Tayang9 — Satuan Lalu Lintas (Sat Lantas) Polres Polewali Mandar melakukan patroli dan pengaturan lalu…

4 hari ago

Upacara HUT ke-81 TNI Digelar Khidmat di Makodim 1402/Polman

POLMAN, Tayang9 — Upacara peringatan HUT ke-81 TNI di Makodim 1402/Polman berlangsung sederhana namun khidmat, Senin…

4 hari ago

Babinsa Koramil Tinambung Bersama Warga Gotong Royong Bersihkan Pantai Waitawar Polman

POLMAN, Tayang9 — Tumpukan sampah terlihat berserakan di pesisir Pantai Waitawar, Desa Tammangalle, Kecamatan Balanipa, Kabupaten…

4 hari ago