Categories: KOLOMMURSYID SYUKRI

Masara’baca

Tradisi Pemantapan Bacaan dalam Pendidikan Al-Qur’an Masyarakat Mandar

DALAM tradisi pendidikan keagamaan masyarakat Mandar, proses belajar membaca Al-Qur’an tidak berlangsung secara instan. Seorang anak yang mangayi atau menuntut ilmu membaca Al-Qur’an menjalani tahapan pembelajaran yang bertahap, berulang, dan terukur. Di dalam proses tersebut terdapat beberapa istilah penting yang memiliki makna dan fungsi berbeda, antara lain Mange’ja, Mandarras, Massara’baca, hingga akhirnya mencapai tahap Mappatamma’ Pangayian atau penamatan pengajian.

Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Mandar sejak dahulu telah memiliki pola pendidikan yang menekankan pengenalan, latihan, pengulangan, pemantapan, dan evaluasi. Dengan demikian, tradisi pengajian Al-Qur’an bukan hanya proses transfer kemampuan membaca, tetapi juga merupakan sistem pembentukan ketekunan, kesabaran, kedisiplinan, dan tanggung jawab dalam menuntut ilmu.

Mange’ja: Tahap Pengenalan dan Pembentukan Dasar

Tahap awal seorang anak dalam belajar membaca Al-Qur’an dikenal dengan istilah Mange’ja. Pada tahap ini, anak mulai mengenal huruf-huruf Al-Qur’an, tanda baca, serta cara menghubungkan huruf menjadi suku kata dan kata.

Secara pedagogis, Mange’ja dapat dipahami sebagai tahap pengenalan dan pembentukan kompetensi dasar. Anak belum dituntut untuk memiliki kelancaran sempurna, tetapi diarahkan agar mampu mengenali simbol, membedakan huruf, memahami tanda baca, dan mulai menghasilkan bunyi bacaan secara benar.

Tahapan ini sangat penting karena menjadi fondasi bagi kemampuan membaca pada tahap berikutnya. Kesalahan pada tahap dasar dapat terbawa ke proses pembelajaran selanjutnya sehingga membutuhkan perhatian, bimbingan, dan koreksi dari guru mengaji.

Mandarras: Proses Pengulangan untuk Menguatkan Kemampuan

Setelah seorang anak mulai mampu membaca, proses pembelajaran tidak langsung berpindah begitu saja ke halaman berikutnya. Bacaan yang telah dipelajari akan diulang-ulang agar semakin lancar dan tidak mudah terlupakan. Dalam tradisi Mandar, proses ini dikenal sebagai Mandarras.

Mandarras pada hakikatnya merupakan proses pengulangan atau latihan kembali terhadap bacaan yang telah pernah dipelajari. Dalam perspektif pendidikan, pengulangan merupakan bagian penting dalam proses pembentukan keterampilan karena kemampuan yang telah diperoleh perlu diperkuat melalui latihan secara terus-menerus.

Oleh karena itu, Mandarras tidak sama dengan Massara’baca. Mandarras merupakan proses mengulang kembali sesuatu yang telah dibaca agar semakin melekat dalam ingatan dan semakin lancar ketika dilafalkan.

Dengan kata lain, apabila Mange’ja merupakan proses mengenal dan mulai membaca, maka Mandarras merupakan proses mengulang dan memperkuat.

Massara’baca: Tahap Pemantapan dan Penyempurnaan Bacaan

Setelah seorang anak mampu membaca secara keseluruhan dengan lebih lancar dan tidak lagi sering tersendat, terdapat satu tahapan penting sebelum penamatan pengajian, yaitu Massara’baca.

Secara makna, Massara’baca dapat dipahami sebagai memantapkan cara, teknik, dan kelancaran bacaan. Pada tahap ini, anak tidak lagi sekadar dituntut untuk mampu membaca, tetapi mulai diarahkan untuk memastikan bahwa bacaannya benar-benar mantap, lancar, tidak banyak terlupa, serta tidak lagi mengalami kesendatan yang berarti.

Massara’baca merupakan tahap pemantapan kompetensi sebelum evaluasi akhir. Karena itu, kedudukannya berbeda dengan Mandarras. Jika Mandarras berorientasi pada pengulangan bacaan yang telah dipelajari, maka Massara’baca berorientasi pada kesiapan akhir untuk menunjukkan bahwa kemampuan membaca telah dikuasai.

Dalam konteks tersebut, Massara’baca dapat dipandang sebagai bentuk evaluasi formatif menuju evaluasi akhir. Anak mempersiapkan dirinya agar ketika dilakukan penilaian atau Mappatamma’ Pangayian, kemampuan membaca yang dimilikinya sudah berada pada tingkat yang dianggap layak untuk ditamatkan.

Perbedaan Mandarras dan Massara’baca

Perbedaan kedua istilah tersebut penting untuk dipahami oleh generasi sekarang karena keduanya memiliki fungsi yang tidak sama.

Mandarras adalah proses mengulang-ulang bacaan yang telah dipelajari agar semakin kuat dalam ingatan dan semakin lancar ketika dibaca kembali.

Sementara itu, Massara’baca merupakan proses pemantapan akhir terhadap cara dan teknik membaca, dengan tujuan memastikan bahwa bacaan sudah lancar, tidak banyak terlupa, tidak tersendat, dan siap untuk memasuki tahap evaluasi atau penamatan.

Dengan demikian, secara sederhana dapat dirumuskan:

Mange’ja → mengenal dan mulai membaca.
Mandarras → mengulang dan memperkuat bacaan.
Massara’baca → memantapkan dan menyempurnakan bacaan.
Mappatamma’ Pangayian → evaluasi/penamatan proses pengajian.

Rangkaian tersebut memperlihatkan adanya struktur pembelajaran yang sangat sistematis dalam tradisi pendidikan masyarakat Mandar.

Massara’baca sebagai Tradisi Evaluasi Pengetahuan

Makna Massara’baca sesungguhnya dapat diperluas melampaui konteks pembelajaran Al-Qur’an. Ia mengandung filosofi pendidikan bahwa seseorang tidak cukup hanya pernah mempelajari sesuatu, tetapi harus memastikan bahwa pengetahuan tersebut benar-benar dikuasai sebelum dinyatakan selesai.

Dalam sistem pendidikan modern, prinsip tersebut memiliki kemiripan dengan proses penguatan kompetensi, uji kemampuan, evaluasi akhir, dan sertifikasi atau yudisium. Seorang peserta didik tidak serta-merta dinyatakan kompeten hanya karena telah mengikuti proses pembelajaran. Ia harus mampu menunjukkan bahwa pengetahuan dan keterampilan yang diperolehnya telah mencapai standar tertentu.

Dalam pengertian inilah Massara’baca dapat dipandang sebagai sebuah konsep pendidikan lokal yang mengandung nilai mastery learning, yaitu pembelajaran yang menempatkan penguasaan kompetensi sebagai syarat penting sebelum seseorang melangkah ke tahap berikutnya.

Filosofi tersebut sebenarnya sangat relevan dengan pendidikan masa kini. Seorang calon ahli dalam bidang tertentu seharusnya tidak hanya mengetahui teori, tetapi juga mampu menerapkan, menjelaskan, mempertanggungjawabkan, dan menunjukkan penguasaan terhadap bidang yang dipelajarinya.

“Tiapai Bacamu, Kabe’?”

Dalam kehidupan keluarga masyarakat Mandar dahulu, proses pendidikan seorang anak juga menjadi bagian dari komunikasi antara anak dan orang tua. Ketika seorang anak sedang belajar mengaji, orang tua atau keluarganya dapat bertanya:

“Tiapai bacamu, kabe’?”

yang secara sederhana bermakna, “Bagaimana bacaanmu, wahai anakku?”

Pertanyaan tersebut bukan sekadar pertanyaan mengenai sudah sampai halaman berapa seorang anak membaca Al-Qur’an. Di dalamnya terdapat perhatian, kasih sayang, pengawasan, sekaligus kebanggaan orang tua terhadap perkembangan pendidikan anak.

Ketika anak menjawab:

“Massara’baca ma, Pua’.”

maka jawaban tersebut menjadi tanda bahwa ia telah memasuki tahapan pemantapan bacaan dan sedang mempersiapkan diri menuju penamatan pengajian.

Bagi orang tua, kabar bahwa anaknya telah berada pada tahap Massara’baca merupakan sesuatu yang membanggakan. Hal itu menandakan bahwa perjalanan panjang belajar membaca Al-Qur’an hampir mencapai puncaknya. Anak bukan lagi berada pada tahap mengenal huruf atau sekadar mengulang bacaan, tetapi telah sampai pada tahap memantapkan kemampuan sebelum menyelesaikan proses pengajiannya.

Massara’baca sebagai Nilai Pendidikan bagi Generasi Masa Kini

Tradisi Massara’baca penting untuk diperkenalkan kembali kepada generasi muda karena di dalamnya terkandung filosofi pendidikan yang sangat relevan dengan perkembangan ilmu pengetahuan saat ini.

Pesan utamanya adalah bahwa belajar bukan hanya tentang memulai, tetapi juga tentang menguasai; bukan hanya tentang mengetahui, tetapi juga tentang memastikan; bukan hanya tentang mengulang, tetapi tentang memantapkan kemampuan sebelum seseorang dinyatakan selesai.

Dalam konteks pendidikan modern, filosofi Massara’baca dapat diterapkan pada berbagai bidang keilmuan. Seorang siswa, mahasiswa, guru, peneliti, maupun seseorang yang sedang mempelajari keterampilan tertentu seyogianya melewati proses penguasaan yang bertahap: mempelajari dasar, berlatih, mengulang, memperbaiki kesalahan, memantapkan kemampuan, kemudian mengikuti evaluasi akhir.

Dengan demikian, Massara’baca dapat menjadi metafora pendidikan tentang kesiapan kompetensi. Seseorang belum dapat disebut ahli hanya karena pernah belajar. Keahlian membutuhkan proses panjang berupa latihan, pengulangan, koreksi, pemantapan, dan pembuktian kemampuan.

Menjaga Istilah sebagai Pengetahuan Budaya

Di tengah perubahan zaman, istilah-istilah lokal seperti Mange’ja, Mandarras, Massara’baca, dan Mappatamma’ Pangayian perlu didokumentasikan dan diperkenalkan kepada generasi muda. Istilah tersebut bukan sekadar kosakata dalam bahasa Mandar, melainkan bagian dari pengetahuan tradisional mengenai proses pendidikan keagamaan yang pernah hidup dan dipraktikkan dalam masyarakat.

Ketika sebuah istilah kehilangan maknanya, yang hilang bukan hanya sebuah kata, tetapi juga konsep, pengalaman, dan cara pandang masyarakat yang melahirkan istilah tersebut.

Oleh karena itu, Massara’baca layak dipahami sebagai salah satu warisan pengetahuan lokal masyarakat Mandar dalam bidang pendidikan. Ia memperlihatkan bagaimana masyarakat dahulu membangun mekanisme pembelajaran yang berbasis pada tahapan, pengulangan, penguasaan, pemantapan, dan evaluasi.

Penutup

Massara’baca bukan Mandarras. Keduanya memiliki hubungan dalam satu rangkaian proses pembelajaran, tetapi mempunyai fungsi yang berbeda. Mandarras adalah proses mengulang-ulang bacaan yang telah dipelajari, sedangkan Massara’baca adalah proses memantapkan bacaan sebelum seseorang memasuki evaluasi akhir dan penamatan pengajian.

Dari perspektif pendidikan, Massara’baca mengandung prinsip yang sangat kuat: sebelum seseorang dinyatakan selesai, ia harus memastikan bahwa apa yang dipelajarinya benar-benar telah dikuasai.

Karena itu, ungkapan “Massara’baca ma, Pua’” pada masa lalu bukan sekadar jawaban seorang anak kepada orang tuanya. Ungkapan tersebut merupakan penanda bahwa sang anak telah sampai pada sebuah tahapan penting dalam perjalanan menuntut ilmu tahapan ketika pengetahuan yang telah dipelajari mulai dimantapkan agar dapat dipertanggungjawabkan.

Jika nilai tersebut diwariskan kepada generasi sekarang, maka Massara’baca dapat menjadi sebuah filosofi pendidikan Mandar: belajar dengan sungguh-sungguh, mengulang dengan tekun, memperbaiki kesalahan, memantapkan kemampuan, kemudian membuktikan penguasaan sebelum menyatakan diri telah selesai.

 

MURSYID SYUKRI

Aktif dalam pergerakan seni budaya Mandar dan serius menghibahkan waktunya sebagai Ketua Sekolah Adat Adolang Pamboang

Recent Posts

Bhabinkamtibmas Bersama TNI, Pemerintah dan Masyarakat Gotong Royong Tangani Abrasi Pantai di Desa Tammangalle

POLMAN, Tayang9 – Bhabinkamtibmas Desa Tammangalle, Polsek Tinambung, Polres Polewali Mandar, Brigpol Patahuddin, bersama TNI, pemerintah…

12 jam ago

Kunjungi Kodim 1402/Polman, Kasdam XXIII/Palaka Wira Tekankan Disiplin dan Integritas Prajurit

POLMAN, Tayang9 – Kepala Staf Kodam (Kasdam) XXIII/Palaka Wira Brigjen TNI Agus Sasmita, S.I.P., memberikan pengarahan…

13 jam ago

Annangguru Tidak Mati, tapi Hidup di Hati Kita

"Aku memang menangisi kepergianmu Annangguru, tapi aku lebih menangisi diriku yang tak bersungguh-sungguh menimba ilmu…

1 hari ago

100 Siswa SMKN 1 Rangas Jadi Sampel Survei Kegemaran Membaca, Perpusip Sulbar dan Mamuju Turun Langsung

MAMUJU, Tayang9 – Upaya meningkatkan partisipasi masyarakat dalam Survei Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) terus dilakukan di…

2 hari ago

Selamat Jalan, Annangguru Syibli: Ketika Jasad Berpulang, Cahaya Makrifat Tetap Menyala

KABAR duka menyelimuti Sulawesi Barat. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. KH. Muhammad Syibli Sahabuddin, atau…

2 hari ago

In Memoriam Kiai Syibli Sahabuddin: Kiai Yang Komunikatif

SULAWESI Barat kembali kehilangan salah seorang putra terbaiknya. Kiai Syibli Sahabuddin, atau yang akrab disapa…

2 hari ago