KABAR duka menyelimuti Sulawesi Barat. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. KH. Muhammad Syibli Sahabuddin, atau yang acap disapa Annangguru Syibli, telah kembali ke pangkuan Ilahi. Beliau mengembuskan napas terakhir pada pukul 21.45 WITA di RS Wahidin Makassar. Sebuah kabar yang tidak hanya menghadirkan kesedihan, tetapi juga meninggalkan keheningan panjang di relung batin mereka yang pernah mengenal, mendengar nasihat, menimba ilmu, atau merasakan kesejukan spiritual dari perjalanan dakwah beliau. Kepergian seorang ulama selalu menyisakan kehilangan yang tidak mudah diukur dengan kata-kata. Sebab, yang berpulang bukan semata-mata seorang manusia, melainkan juga sosok yang selama hidupnya mengabdikan diri untuk menyampaikan pesan-pesan keilahian, menuntun hati manusia menuju jalan kebaikan, serta mengingatkan bahwa kehidupan dunia, dengan segala gemerlap dan kesibukannya, hanyalah persinggahan sementara sebelum setiap jiwa kembali menghadap Allah SWT.
Di tengah duka ini, kita kembali diingatkan pada sebuah kebenaran yang tidak dapat ditawar oleh siapa pun, bahwa setiap yang bernyawa akan merasakan kematian, setiap perjalanan akan menemukan batasnya, dan setiap manusia pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pemilik Kehidupan. Namun, tidak semua kepergian meninggalkan jejak yang sama. Ada manusia yang kepergiannya hanya menyisakan kenangan, tetapi ada pula yang meninggalkan cahaya penuntun bagi jiwa-jiwa yang masih melanjutkan perjalanan. Annangguru KH. Muhammad Syibli Sahabuddin, dalam pengabdian dakwah dan nasihat spiritualnya, telah menjadi bagian dari perjalanan batin banyak orang. Beliau mengingatkan kita bahwa mengenal agama tidak cukup hanya dengan mengumpulkan pengetahuan, bahwa beribadah tidak seharusnya berhenti pada gerakan dan ucapan, dan bahwa perjalanan menuju Allah SWT menuntut kesungguhan untuk membersihkan hati, memperbaiki akhlak, serta menundukkan ego di hadapan kebesaran-Nya.
Di antara pesan-pesan keilahian yang beliau sampaikan, terdapat ajakan yang begitu mendalam: hadirkanlah Rasulullah Muhammad SAW di dalam jiwa kita. Pesan ini bukanlah ajakan untuk sekadar menyebut nama Rasulullah di bibir, bukan pula sekadar mengulang ungkapan cinta dalam berbagai kesempatan. Lebih jauh daripada itu, menghadirkan Rasulullah SAW dalam jiwa berarti menjadikan cinta kepada beliau sebagai kesadaran batin yang terus hidup; menjadikan akhlaknya sebagai cermin untuk menilai diri; menjadikan sunnahnya sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan; dan menjadikan ajarannya sebagai cahaya yang menuntun langkah ketika kita berhadapan dengan gelapnya godaan dunia.
Sebab, mencintai Rasulullah SAW tidak cukup hanya dengan mengatakan bahwa kita merindukannya. Kerinduan itu harus menemukan bentuknya dalam kehidupan. Ia harus tumbuh menjadi kelembutan hati, kejujuran dalam perkataan, kesabaran ketika diuji, keikhlasan dalam beramal, kerendahan hati ketika memperoleh kemuliaan, serta kasih sayang ketika berhadapan dengan sesama manusia. Cinta yang sejati tidak berhenti pada rasa haru ketika nama Rasulullah disebut, tetapi bergerak menjadi kekuatan yang mengubah cara kita berpikir, berbicara, bersikap, dan memperlakukan kehidupan. Di situlah cinta kepada Nabi menemukan kedalaman maknanya: bukan sekadar sesuatu yang dirasakan oleh hati, melainkan sesuatu yang menjelma dalam akhlak dan perbuatan.
Bagi jiwa yang menempuh jalan spiritual, kerinduan kepada Rasulullah SAW merupakan panggilan batin yang senantiasa menghidupkan kesadaran akan teladan kenabian. Kerinduan itu menjadi semacam pakaian rohani yang menyertai perjalanan seorang hamba, bukan pakaian yang tampak oleh mata, melainkan pakaian batin yang membungkus hati dengan kecintaan, menjaga perilaku dengan keteladanan, dan memelihara kehidupan dengan kesadaran akan kehadiran Allah SWT. Pakaian itu dirajut melalui salawat yang dilantunkan dengan penuh cinta, sunnah yang dihidupkan dengan kesungguhan, akhlak yang diperbaiki tanpa henti, serta kerendahan hati untuk terus belajar menjadi manusia yang lebih baik.
Di dalam kehidupan seorang Muslim, salawat kepada Rasulullah SAW bukan sekadar rangkaian kalimat yang berulang di lisan. Salawat merupakan ibadah yang agung, bentuk ketaatan kepada perintah Allah SWT, sekaligus ungkapan penghormatan dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. Ketika salawat dilantunkan dengan kesadaran, hati diajak untuk mengingat kembali sosok Rasulullah yang membawa rahmat, menuntun manusia dari kegelapan menuju cahaya, serta mengajarkan bahwa kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh tingginya kedudukan, banyaknya harta, atau besarnya kekuasaan, melainkan oleh ketakwaan, akhlak, dan pengabdiannya kepada Allah SWT.
Salawat yang lahir dari hati yang rindu semestinya tidak berhenti sebagai bunyi yang menggetarkan udara. Ia harus menjadi getaran yang menggerakkan kesadaran. Ia harus menumbuhkan keinginan untuk mengenal Rasulullah lebih dalam, mempelajari perjalanan hidup beliau, memahami ajarannya, dan berusaha mengikuti keteladanannya. Sebab, semakin seseorang mengenal kemuliaan akhlak Rasulullah SAW, semestinya semakin ia menyadari betapa banyak bagian dari dirinya yang masih perlu diperbaiki. Semakin ia merindukan Rasulullah, semestinya semakin besar pula keinginannya untuk meninggalkan kebencian, mengendalikan amarah, menjauhi kesombongan, menjaga lisan, dan menebarkan kasih sayang.
Di sinilah kedalaman pesan spiritual yang perlu terus kita renungkan dari dakwah Annangguru Sybli. Kerinduan kepada Rasulullah SAW bukanlah pelarian dari kehidupan dunia, melainkan jalan untuk menjalani kehidupan dunia dengan tuntunan nilai-nilai Ilahi. Cinta kepada Nabi bukan alasan untuk menjauh dari sesama, melainkan dorongan untuk semakin dekat, semakin peduli, dan semakin bertanggung jawab terhadap kehidupan. Zikir bukan sekadar menjauhkan diri dari kebisingan dunia, tetapi juga membangun kekuatan batin agar kita tidak diperbudak oleh keserakahan. Salawat bukan sekadar penenang jiwa, tetapi juga pengingat agar jiwa yang tenang itu mampu menghadirkan kebaikan bagi orang lain.
Pesan tersebut sekaligus mengajarkan bahwa perjalanan spiritual tidak dapat dipisahkan dari pembentukan akhlak sosial. Seseorang tidak dapat mengaku mencintai Rasulullah SAW dengan sepenuh hati, sementara ia masih gemar menyakiti sesama, merendahkan orang lain, memutus tali persaudaraan, atau menggunakan agama untuk membenarkan kesombongan dirinya. Cinta kepada Rasulullah harus melahirkan kasih sayang kepada manusia. Kerinduan kepada beliau harus menumbuhkan kesediaan untuk menolong mereka yang lemah, menghormati orang tua dan guru, menjaga kehormatan sesama, membela kebenaran dengan kebijaksanaan, serta menghadirkan kedamaian di tengah masyarakat.
Bukankah salah satu ukuran keberhasilan pendidikan rohani adalah ketika hati menjadi lebih lembut, lisan menjadi lebih terjaga, dan perilaku menjadi lebih menenteramkan? Bukankah salah satu tanda ilmu yang bermanfaat adalah ketika pengetahuan membuat seseorang semakin rendah hati, bukan semakin merasa paling benar? Dan bukankah salah satu buah kecintaan kepada Rasulullah SAW adalah tumbuhnya keinginan untuk meneladani akhlak beliau dalam setiap ruang kehidupan? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang membuat nasihat seorang ulama tidak pernah benar-benar selesai ketika disampaikan. Ia terus bekerja di dalam hati, menggugat kesadaran, membongkar kesombongan, dan mengajak manusia untuk kembali memeriksa dirinya sendiri.
Dalam tradisi keilmuan Islam, ulama bukan sekadar penyampai pengetahuan agama. Ulama juga menjadi penjaga nilai, pembimbing rohani, pewaris amanah keilmuan, dan pengingat bagi masyarakat agar tidak kehilangan arah dalam menjalani kehidupan. Demikian pula kedudukan seorang Annangguru dalam tradisi masyarakat Mandar. Sebutan Annangguru bukan semata-mata panggilan kehormatan, tetapi juga mengandung harapan akan kehadiran sosok yang dapat diteladani ilmu, adab, kebijaksanaan, dan pengabdiannya. Di hadapan seorang Annangguru, manusia datang bukan hanya untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan keagamaan, tetapi juga untuk mencari ketenteraman, meminta nasihat, dan menemukan kembali arah ketika perjalanan hidup terasa berat.
Karena itu, ketika seorang Annangguru berpulang, yang terasa hilang bukan hanya kehadiran fisiknya. Ada suara nasihat yang tidak lagi terdengar seperti dahulu, ada perjumpaan yang tidak lagi dapat diulang, ada kesempatan untuk bertanya yang kini tinggal kenangan, dan ada kerinduan yang tidak lagi dapat dijawab melalui pertemuan di dunia. Kita mungkin akan merindukan cara beliau menyampaikan pesan, intonasi suaranya ketika mengingatkan tentang Allah SWT, atau kedalaman kalimatnya ketika berbicara mengenai Rasulullah SAW. Pada saat-saat tertentu, sebuah nasihat yang dahulu terdengar sederhana dapat tiba-tiba hadir kembali dalam ingatan, lalu membuat mata berkaca-kaca karena kita menyadari bahwa orang yang menyampaikannya telah lebih dahulu melangkah menuju keabadian.
Beliau senantiasa menaburkan lantunan pesan Ilahi, menuntun jiwa-jiwa yang haus akan penyucian. Nasihatnya mengingatkan manusia agar senantiasa dekat dengan Allah SWT, serta menumbuhkan cinta yang tulus kepada Rasulullah SAW dalam setiap denyut kehidupan.
Namun, kehilangan tidak seharusnya membuat kita berhenti pada kesedihan. Justru di hadapan kematian, kita perlu belajar memahami makna kehidupan dengan lebih jernih. Jasad manusia akan kembali menjadi tanah, tetapi ilmu yang bermanfaat dapat terus mengalir melalui orang-orang yang mengamalkannya. Suara seorang guru mungkin tidak lagi terdengar, tetapi kebenaran yang pernah diajarkannya dapat terus berbicara melalui perilaku murid-muridnya. Kehadiran fisik seorang ulama memang memiliki batas, tetapi pengaruh kebaikannya dapat melampaui batas usia apabila diwariskan dengan ketulusan dan kesungguhan.
Di sinilah kita menemukan makna penting dari warisan spiritual. Warisan seorang ulama tidak selalu berbentuk bangunan, lembaga, kitab, atau catatan sejarah. Ada warisan yang jauh lebih sunyi, tetapi begitu dalam: sebuah kesadaran yang tumbuh dalam hati seseorang setelah mendengar nasihatnya; sebuah kebiasaan bersalawat yang terus dipelihara; sebuah keputusan untuk memperbaiki diri; sebuah tangan yang tergerak menolong orang lain; atau sebuah hati yang akhirnya belajar memaafkan karena mengingat ajaran tentang kasih sayang. Hal-hal semacam itu mungkin tidak tercatat dalam dokumen sejarah, tetapi dapat menjadi bagian dari jejak kebaikan yang terus hidup dari satu jiwa ke jiwa lainnya.
Oleh karena itu, kepergian Annangguru Sybli semestinya menjadi momentum untuk merawat dan meneruskan nilai-nilai yang beliau ajarkan. Jangan sampai kita hanya pandai mengucapkan belasungkawa, tetapi lupa melanjutkan nasihatnya. Jangan sampai kita larut dalam kesedihan karena kehilangan sosoknya, tetapi tidak berusaha menjaga pesan-pesan yang pernah ditinggalkannya. Jangan sampai nama beliau terus disebut dalam berbagai kesempatan, sementara ajakan untuk mengingat Allah SWT, mencintai Rasulullah SAW, memperbanyak salawat, dan memperbaiki akhlak justru semakin jauh dari kehidupan kita.
Sebab, penghormatan yang paling bermakna kepada seorang guru bukanlah sekadar mengenang namanya, melainkan menghidupkan ajarannya. Cara terbaik untuk melanjutkan pengabdian seorang Annangguru adalah menjadikan nasihatnya sebagai bagian dari amal keseharian. Ketika kita memperbanyak salawat dengan penuh kesadaran, kita sedang merawat kecintaan kepada Rasulullah SAW. Ketika kita menjaga lisan agar tidak menyakiti orang lain, kita sedang berusaha meneladani akhlak kenabian. Ketika kita menolong sesama tanpa mengharapkan pujian, kita sedang belajar memurnikan niat. Dan ketika kita merendahkan hati di hadapan Allah SWT, kita sedang mengakui bahwa setinggi apa pun ilmu manusia, ia tetap terbatas di hadapan keluasan ilmu dan kebesaran-Nya.
Nasihat seperti ini semakin penting di tengah kehidupan modern yang bergerak begitu cepat. Manusia dapat terhubung dengan banyak orang, tetapi belum tentu merasa dekat dengan sesamanya. Kita dapat mengakses begitu banyak pengetahuan, tetapi belum tentu menemukan kebijaksanaan. Kita dapat berbicara tentang agama dengan fasih, tetapi terkadang kesulitan menjaga hati dari iri, dengki, kebencian, dan kesombongan. Dunia menawarkan begitu banyak hal untuk dikejar, hingga tanpa sadar kita lupa bertanya kepada diri sendiri: ke mana sebenarnya seluruh perjalanan ini akan bermuara?
Kita mengejar kedudukan, tetapi lupa merendahkan hati. Kita mengumpulkan harta, tetapi terkadang lupa berbagi. Kita ingin dihormati, tetapi belum tentu belajar menghormati. Kita ingin didengar, tetapi tidak selalu bersedia mendengarkan. Kita ingin dicintai, tetapi sering lupa menebarkan kasih sayang. Dalam keadaan seperti itulah, suara seorang ulama menjadi penting: mengingatkan manusia agar tidak kehilangan dirinya sendiri di tengah kesibukan dunia; mengajak manusia kembali kepada Allah SWT ketika hatinya mulai dikuasai kecemasan; dan menuntun manusia untuk menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan ketika perilakunya mulai menjauh dari nilai-nilai kemanusiaan yang luhur.
Maka, kepergian Annangguru Sybli bukan hanya menghadirkan pertanyaan tentang siapa yang kini akan menyampaikan nasihat-nasihat itu, tetapi juga tentang siapa yang bersedia meneruskannya. Siapa yang akan menjaga api kecintaan kepada Rasulullah SAW agar tetap menyala dalam keluarga, majelis ilmu, lingkungan masyarakat, dan kehidupan generasi muda? Siapa yang akan memastikan bahwa zikir tidak kehilangan makna, bahwa salawat tidak menjadi sekadar kebiasaan lisan, dan bahwa ilmu agama tidak berhenti sebagai pengetahuan, melainkan tumbuh menjadi akhlak dan pengabdian?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak boleh kita serahkan hanya kepada mereka yang disebut ulama, guru, atau pemuka agama. Setiap orang memiliki tanggung jawab untuk memelihara kebaikan sesuai dengan kemampuan dan kedudukannya. Orang tua dapat mewariskan kecintaan kepada Rasulullah melalui pendidikan keluarga. Guru dapat menanamkan nilai keteladanan melalui ilmu dan adab. Pemimpin dapat menghadirkan keadilan dan amanah dalam keputusan-keputusannya. Masyarakat dapat menjaga persaudaraan melalui sikap saling menghormati dan menolong. Sementara setiap pribadi dapat memulainya dari hal yang paling dekat: membersihkan niat, memperbaiki ibadah, menjaga lisan, memperbanyak salawat, dan berusaha menjadi manusia yang lebih bermanfaat.
Pada akhirnya, perjalanan menuju Allah SWT adalah perjalanan yang sangat pribadi, tetapi buahnya tidak pernah semestinya berhenti pada diri sendiri. Hati yang dekat kepada Allah diharapkan melahirkan perilaku yang membawa ketenteraman bagi sesama. Jiwa yang mencintai Rasulullah diharapkan memancarkan akhlak yang menebarkan rahmat. Dan ilmu yang diperoleh dari seorang guru semestinya mengantar manusia menjadi semakin bijaksana, bukan semakin tinggi hati. Inilah jalan pengabdian yang membuat ilmu memiliki kehidupan, nasihat memiliki daya ubah, dan kenangan memiliki makna yang melampaui waktu.
Kini, pada pukul 21.45 WITA di RS Wahidin Makassar, perjalanan duniawi Annangguru Sybli telah sampai pada batas yang ditetapkan oleh Allah SWT. Kita tidak lagi dapat mendengar suara beliau sebagaimana dahulu, tidak lagi dapat menyaksikan kehadiran fisiknya, dan tidak lagi dapat menjumpainya dalam pertemuan-pertemuan duniawi. Akan tetapi, di hadapan ketetapan Ilahi ini, kita diajak untuk menerima bahwa setiap kehidupan memiliki batas, sementara harapan kepada rahmat Allah SWT tidak pernah boleh padam. Kita melepas beliau dengan kesedihan, tetapi juga dengan doa. Kita mengenang beliau dengan kerinduan, tetapi juga dengan kesadaran bahwa setiap manusia pada akhirnya akan menempuh jalan kepulangan yang sama.
Semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf beliau, menerima amal ibadah dan pengabdian dakwahnya, melapangkan alam kuburnya, menerangi tempat peristirahatannya, serta menempatkan beliau di antara hamba-hamba-Nya yang memperoleh rahmat dan kemuliaan. Semoga segala ilmu yang bermanfaat, nasihat yang baik, dan kebaikan yang pernah beliau tanamkan menjadi amal jariyah yang terus mengalir melalui orang-orang yang mengamalkannya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, kekuatan, dan keikhlasan dalam menghadapi kehilangan ini. Dan semoga masyarakat Sulawesi Barat, khususnya keluarga besar umat yang pernah memperoleh bimbingan beliau, mampu menjadikan peristiwa duka ini sebagai pengingat untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Selamat jalan, Annangguru Sybli.
Hari ini, kami melepas kepergianmu dengan air mata, doa, dan kerinduan. Kami menyadari bahwa tidak ada perjumpaan duniawi yang abadi, bahwa setiap suara akan berhenti, setiap langkah akan terhenti, dan setiap jasad akan kembali kepada tanah. Namun, kami berharap nasihat-nasihatmu tidak berhenti bersama kepergianmu. Biarlah ajakanmu untuk mengingat Allah SWT tetap berdenyut di dalam hati kami. Biarlah kecintaanmu kepada Rasulullah SAW terus menjadi pelita bagi perjalanan rohani kami. Biarlah salawat yang dahulu engkau ajarkan terus dilantunkan, bukan hanya oleh lisan yang merindukan Nabi, tetapi juga oleh jiwa yang berusaha meneladani akhlaknya.
Jasadmu telah kembali kepada tanah, tetapi semoga ilmu dan kebaikanmu tetap tumbuh di dalam jiwa umat. Suaramu mungkin tidak lagi terdengar, tetapi semoga nasihatmu terus bergema dalam kesadaran kami. Kehadiranmu mungkin tidak lagi dapat kami jumpai di dunia, tetapi semoga keteladananmu tetap hadir dalam setiap usaha kami untuk memperbaiki diri, menjaga persaudaraan, dan mendekatkan hati kepada Allah SWT.
Dan apabila kelak kerinduan kepada Rasulullah SAW kembali memenuhi dada kami, semoga kami teringat pada pesan yang engkau tanamkan: bahwa cinta kepada Baginda Nabi Muhammad SAW harus dijaga, salawat harus diperbanyak, sunnah harus dihidupkan, dan akhlak harus terus diperbaiki. Semoga kerinduan itu menjadi jalan untuk memperhalus hati, memperteguh iman, dan memperbanyak amal kebaikan, hingga tiba saatnya kami pun dipanggil pulang oleh Allah SWT.
Sebab, pada akhirnya, bukan panjangnya usia yang menentukan kemuliaan perjalanan manusia, melainkan bagaimana ia mengisi kehidupannya dengan pengabdian, kebaikan, dan ketulusan. Bukan pula seberapa lama seseorang tinggal di dunia yang membuatnya terus dikenang, melainkan seberapa dalam nilai-nilai kebaikan yang ditinggalkannya berakar di dalam jiwa orang-orang yang pernah disentuhnya.
Ya Allah, Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, terimalah kepulangan hamba-Mu, Annangguru Sybli, dalam limpahan rahmat dan ampunan-Mu. Jika selama hidupnya beliau telah menuntun kami untuk mengingat-Mu, maka tuntunlah pula kami agar tetap berada di jalan-Mu setelah kepergiannya. Jika beliau telah mengajarkan kami untuk mencintai Rasul-Mu, maka suburkanlah kecintaan itu di dalam hati kami hingga akhir hayat. Jangan biarkan nasihat yang pernah kami dengar hanya menjadi kenangan, tetapi jadikanlah ia cahaya yang menuntun langkah kami menuju ridha-Mu.
Semoga Allah SWT mempertemukan kita kelak dalam keselamatan dan rahmat-Nya, menghimpun kita bersama orang-orang saleh, serta menganugerahkan kepada kita kesempatan memperoleh syafaat Rasulullah Muhammad SAW dengan izin-Nya.
Selamat jalan, Annangguru. Engkau telah menyelesaikan perjalananmu di dunia; kini kami melanjutkan perjalanan kami dengan doa, cinta kepada Rasulullah SAW, dan harapan akan rahmat Allah SWT. Semoga akhir perjalananmu adalah perjumpaan yang indah dengan kasih sayang-Nya. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita akan kembali.
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ
Semoga Allah SWT mengampuni segala khilaf beliau, menerima seluruh amal ibadah dan pengabdiannya, melapangkan tempat peristirahatannya, meninggikan derajatnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.
Al-Fatihah untuk Annangguru Sybli.
Mandar, 12 Oktober 2026
SULAWESI Barat kembali kehilangan salah seorang putra terbaiknya. Kiai Syibli Sahabuddin, atau yang akrab disapa…
SEKITAR Pukul 21.45 WITA, 11 Oktober 2026, kabar itu datang seperti angin senja yang membawa…
JAKARTA, Tayang9 — Menteri Agama (Menag), Prof. Nasaruddin Umar membuka kegiatan Rapat Koordinasi Implementasi Manajemen…
MAJENE, Tayang9 — Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Sulawesi Barat (Perpusip Sulbar) melaksanakan kegiatan identifikasi…
POLMAN, Tayang9 — Satuan Samapta Polres Polewali Mandar melaksanakan Patroli Perintis Presisi di sejumlah wilayah hukum…
POLMAN, Tayang9 — Satuan Lalu Lintas (Sat Lantas) Polres Polewali Mandar melakukan patroli dan pengaturan lalu…