Categories: KOLOMMUHAIMIN FAISAL

Integrasi Kebijakan: Sinergi BPK, Dinas Kebudayaan, dan Komunitas Adat

(bagian 8 dari 10 tulisan)

PENGELOLAAN kebudayaan di Sulawesi Barat membutuhkan model tata kelola yang berbasis sinergi kelembagaan, bukan kerja sektoral yang terpisah-pisah, apalagi berkompetisi untuk urusan proyek dan alokasi anggaran.

Dalam kerangka ini, BPK berperan sebagai penguat teknis dan penghubung kebijakan nasional, Dinas Kebudayaan Provinsi sebagai pengambil kebijakan dan pengelola sumber daya di tingkat daerah, sementara komunitas adat ditempatkan sebagai subjek utama kebudayaan, pemilik pengetahuan, praktik, dan ruang hidup kebudayaan itu sendiri. Tanpa kebesarah hati dalam pembagian peran yang jelas dan setara, kebijakan kebudayaan berisiko kehilangan daya transformasinya dan terjebak pada rutinitas administratif.

Pendekatan sinergis ini menuntut perubahan paradigma mendasar, kebudayaan tidak lagi diposisikan sebagai sektor pelengkap atau residu pembangunan, melainkan sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan yang menyangkut tata ruang, lingkungan hidup, ekonomi lokal, dan keadilan sosial.

Integrasi kebijakan kebudayaan ke dalam perencanaan pembangunan daerah menjadi keharusan, bukan pilihan, agar kebudayaan memiliki daya tawar dalam menghadapi tekanan pembangunan ekstraktif dan homogenisasi ekonomi.

Sejarah kebijakan menunjukkan bahwa nilai-nilai luhur seperti persatuan, musyawarah, dan legitimasi adat kerap berhenti pada tataran simbolik ketika tidak diterjemahkan ke dalam praktik kelembagaan yang responsif terhadap persoalan aktual.

Karena itu, perdebatan mengenai kebudayaan tidak seharusnya terjebak pada aspek simbolik semata -termasuk soal penempatan lokasi fisik kantor BPK- melainkan diarahkan pada pertanyaan yang lebih substantif: bagaimana institusi kebudayaan bekerja, nilai apa yang dijalankan, dan kepada siapa kebijakan kebudayaan dipertanggungjawabkan ?

Ketiadaan integrasi kelembagaan tersebut akan berimplikasi pada lemahnya posisi kebudayaan dalam arena pengambilan keputusan strategis, seperti yang terjadi selama ini, juga terjadi di daerah lain. Kebudayaan sering kali tidak hadir sejak awal dalam proses perencanaan tata ruang, kebijakan lingkungan hidup, maupun perizinan investasi, sehingga baru dipertimbangkan ketika konflik telah terjadi atau kerusakan sudah berlangsung.

Dalam kondisi seperti ini, lembaga kebudayaan dipaksa bekerja di hilir, sekadar merespons dampak, bukan mempengaruhi arah. Akibatnya, kebijakan kebudayaan kehilangan fungsi preventif dan korektifnya, serta gagal menjadi instrumen yang mampu menegosiasikan kepentingan kebudayaan dengan logika pembangunan yang dominan.

Dalam konteks kebudayaan Mandar ke depan, sinergi antara BPK, Dinas Kebudayaan (kalau ada), dan komunitas adat hanya akan memiliki makna substantif apabila diterjemahkan ke dalam mekanisme kerja yang kolaboratif, transparan, dan berpihak pada perlindungan ruang hidup serta pengetahuan lokal.

Integrasi kebijakan semacam ini bukan semata-mata ideal normatif, melainkan prasyarat struktural untuk memastikan bahwa kebudayaan tidak berhenti sebagai wacana dan simbol, sementara pada saat yang sama terdesak dan dilemahkan dalam praktik apa yang dipersepsikan sebagai pembangunan.

Disadari bahwa gambaran arah kebijakan ini dapat dinilai terlalu ideal dan jauh dari kondisi empiris yang ada, namun justru di situlah fungsi reflektif teori, menjadi penanda arah dan alat koreksi agar praktik kebijakan tidak sepenuhnya tercerabut dari nilai, keadilan, dan tujuan pemajuan kebudayaan itu sendiri.


Tulisan ini merupakan tulisan bersambung yang fokus melihat Penempatan Kantor Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Barat (BPK Sulbar) dalam Bayang-Bayang Krisis Ekologi dan Urgensi Pembentukan Dinas Kebudayaan Sulawesi Barat (Disbud Sulbar)

 

MUHAIMIN FAISAL

Selain aktivis sosial, seni dan budaya serta lingkungan. juga terlibat aktif dalam mendorong advokasi kebijakan publik serta kemandirian ekonomi rakyat

Recent Posts

Menteri Agama Lantik Lima Pejabat Ditjen Pesantren, Soroti Masa Depan 44.000 Pesantren

JAKARTA, Tayang9 — Menteri Agama Nasaruddin Umar melantik lima pejabat pimpinan manajerial di lingkungan Kementerian…

10 jam ago

Kemarau Panjang, Kodim 1402/Polman Distribusikan Air Bersih ke Desa Nepo

POLMAN, Tayang9 — Kemarau panjang mulai dirasakan warga di sejumlah wilayah Kabupaten Polewali Mandar. Persediaan air…

15 jam ago

Hadiah Lomba HUT RI Dipangkas, Pemuda Tallu Banua Pertanyakan Keputusan Kades

Majene, Tayang9 - Semarak perayaan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Tallu Banua…

6 hari ago

Malam Ramah Tamah Wisuda Sarjana ke-24 Unasman Berlangsung Guyub dan Meriah

POLMAN, TAYANG9 — Universitas Al Asyariah Mandar (Unasman) sukses menggelar acara graduate party (malam ramah…

1 minggu ago

Tim Ekspedisi Patriot UB Dorong Terciptanya Kawasan Transmigrasi Sehat Melalui Pelatihan 25 Kompetensi Kader Posyandu

SEMANGAT membangun Indonesia sehat kembali bergema di pelosok Sulawesi Barat. Tim Ekspedisi Patriot Universitas Brawijaya…

1 minggu ago

Dinas Pendidikan Mamuju Tengah Perkuat Kompetensi Kepala Sekolah untuk Capai SNP

MATENG, Tayang9.com – Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Mamuju Tengah, Marhudin, S.Pd., M.Pd., membuka kegiatan Sosialisasi…

1 minggu ago