ILUSTRASI AI
KEMARIN sore saya teringat sebuah percakapan sederhana bersama anak laki-laki saya, Made Ali Maulana M. Dengan wajah polos ia berkata, “Besok saya tidak ke sekolah.”
Saya pun menjawab, “Kenapa besok tidak pergi sekolah? Bukankah besok hari Senin?”
Dengan penuh keyakinan ia langsung menyahut, “Besok libur…, tanggal merah…!”
Karena merasa kurang percaya, saya segera memeriksa kalender. Ternyata benar, Senin tanggal 1 Juni ditandai sebagai hari libur nasional. Di sana tertulis jelas: “Hari Lahir Pancasila.”
Dengan nada agak keras karena baru menyadarinya saya membaca tulisan itu, lalu Ali Maulana kembali bertanya, “Apa itu Hari Lahir Pancasila?”
Pertanyaan sederhana itu ternyata membuat saya terdiam sejenak. Saya mencoba mencari jawaban yang mudah dipahami oleh seorang anak.
Saya menjawab, “Hari Lahir Pancasila adalah hari lahirnya lima dasar negara yang menjadi pedoman kehidupan bangsa Indonesia.”
Jawaban itu mungkin cukup bagi seorang anak. Namun bagi saya sendiri, pertanyaan tersebut justru membuka ruang perenungan yang lebih dalam mengenai makna Hari Lahir Pancasila.
Secara historis, tanggal 1 Juni diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila karena pada tanggal tersebut tahun 1945, Soekarno menyampaikan pidato di sidang BPUPKI yang memperkenalkan konsep dasar negara yang kemudian dikenal sebagai Pancasila. Peristiwa tersebut menjadi salah satu tonggak penting dalam proses lahirnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Jika kita renungkan, istilah “hari lahir” selalu berkaitan dengan awal sebuah kehidupan. Sama seperti manusia yang lahir dari rahim ibunya untuk kemudian tumbuh, berkembang, belajar, dan menjalani kehidupan di bumi, maka Pancasila pun memiliki hari kelahiran yang menandai awal perjalanan sebuah gagasan besar yang menjadi dasar berdirinya bangsa Indonesia.
Setiap tahun kita merayakan hari kelahiran diri kita melalui ulang tahun. Ada yang merayakannya secara sederhana, ada pula yang merayakannya bersama keluarga dan sahabat. Namun hakikat ulang tahun bukanlah sekadar pesta atau perayaan, melainkan momentum untuk mengingat kembali nilai-nilai kehidupan yang telah dijalani dan memperbaiki diri di masa yang akan datang.
Demikian pula dengan Hari Lahir Pancasila. Pada tanggal 1 Juni, berbagai instansi pemerintah, sekolah, perguruan tinggi, dan lembaga masyarakat melaksanakan upacara peringatan. Akan tetapi makna peringatan tersebut tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata. Yang lebih penting adalah memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila.
Kelima sila dalam Pancasila sesungguhnya merupakan rangkaian nilai yang saling berkaitan:
Dari perspektif ilmu sosial dan kebangsaan, Pancasila merupakan hasil sintesis nilai-nilai agama, budaya, adat istiadat, dan pengalaman historis bangsa Indonesia. Para pendiri bangsa menyadari bahwa Indonesia terdiri atas ribuan pulau, ratusan kelompok etnis, berbagai bahasa daerah, serta beragam agama dan kepercayaan. Oleh karena itu dibutuhkan suatu dasar negara yang mampu menjadi titik temu seluruh perbedaan tersebut.
Karena itulah pada lambang Garuda Pancasila terdapat pita bertuliskan “Bhinneka Tunggal Ika”, yang berarti berbeda-beda tetapi tetap satu jua. Kalimat ini bukan sekadar semboyan, melainkan filosofi yang menjelaskan bahwa keberagaman bukanlah ancaman, melainkan kekuatan bangsa.
Di Indonesia, perbedaan agama, suku, adat, budaya, bahasa, profesi, dan latar belakang sosial merupakan kenyataan yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan berbangsa. Namun seluruh keberagaman itu dipersatukan oleh nilai-nilai Pancasila.
Oleh sebab itu, sebagai warga negara Indonesia, kita tidak cukup hanya memperingati Hari Lahir Pancasila setiap tanggal 1 Juni. Yang jauh lebih penting adalah “melahirkan kembali” Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Seorang siswa melahirkan Pancasila melalui kejujuran dan semangat belajar.
Seorang guru melahirkan Pancasila melalui keteladanan dan pendidikan karakter.
Seorang dokter melahirkan Pancasila melalui pelayanan kemanusiaan.
Seorang petani melahirkan Pancasila melalui kerja keras menyediakan pangan.
Seorang nelayan melahirkan Pancasila melalui pengabdian menjaga sumber kehidupan bangsa.
Seorang pemimpin dan penyelenggara negara melahirkan Pancasila melalui kebijakan yang berpihak kepada rakyat, menjunjung keadilan, dan menjauhkan diri dari penyalahgunaan kekuasaan.
Dalam perspektif pembangunan modern, kemajuan suatu bangsa tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, gedung-gedung tinggi, jalan raya, pelabuhan, atau pusat industri. Ilmu pembangunan kontemporer menegaskan bahwa keberhasilan sebuah negara juga ditentukan oleh kualitas moral, integritas, keadilan sosial, serta tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah dan sesama warga negara.
Karena itu, pembangunan Indonesia tidak boleh hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi dan bisnis semata. Pembangunan harus tetap berpijak pada nilai-nilai Pancasila agar kemajuan yang dicapai tidak menghilangkan kemanusiaan, persatuan, keadilan, dan moralitas bangsa.
Hari Lahir Pancasila sesungguhnya mengingatkan kita bahwa Indonesia tidak dibangun hanya oleh beton, baja, dan angka-angka pertumbuhan ekonomi. Indonesia dibangun oleh nilai-nilai yang hidup dalam hati rakyatnya.
Maka pada setiap tanggal 1 Juni, mari kita tidak hanya memperingati kelahiran Pancasila, tetapi juga bertanya kepada diri sendiri:
“Sudahkah saya melahirkan Pancasila dalam sikap, ucapan, dan tindakan saya hari ini?”
Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang menghafal Pancasila, melainkan bangsa yang mampu menghadirkan Pancasila dalam kehidupan nyata.
Selamat Hari Lahir Pancasila.
Mari kita terus menjaga Indonesia dengan menumbuhkan dan melahirkan nilai-nilai Pancasila dalam setiap langkah kehidupan, demi Indonesia yang berkeadilan, beradab, bersatu, dan bermartabat.
Mandar, 1 Juni 2026
MAJENE hari ini dikenal sebagai kota yang tenang di pesisir barat Sulawesi. Namun di balik…
MATENG, Tayang9.com – Pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah menggelar upacara peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026…
KETIKA Allah SWT pertama kali menurunkan wahyu kepada Nabi Besar Muhammad SAW di Gua Hira,…
POLMAN, TAYANG9 - Tahapan persiapan Musyawarah Cabang (Muscab) Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Polewali Mandar terus…
DI tengah arus perubahan zaman yang begitu cepat, masyarakat sering kali memahami adat hanya sebagai…
SORE itu langit Tinambung mulai meredup. Angin dari arah laut perlahan masuk melalui sela-sela pepohonan…