DI penghujung kegiatan Workshop Talenta Bahasa dan Sastra, suasana ruangan sebenarnya terlihat biasa saja. Para peserta sibuk menyimak pembacaan karya, beberapa berdiskusi kecil, sementara sebagian lainnya hanya duduk mendengarkan dengan tenang. Namun di tengah suasana yang tampak sederhana itu, terdengar sebuah percakapan yang menyentuh kesadaran tentang identitas dan asal-usul.
Percakapan itu datang dari diskusi kecil antara Ramli Rusli bersama beberapa ibu guru yang membahas tentang ke-Mandaran. Diskusi itu terdengar pelan, tetapi maknanya begitu dalam. Sesekali suara beliau terdengar jelas di telinga:
“Dite’e dzi’e mai’di sanna’i pa’da amandarang di alaweta…”
Artinya: “Sekarang ini sangat banyak yang hilang jati diri sebagai orang Mandar pada diri kita.”
Kalimat itu sederhana, tetapi menyimpan kegelisahan besar tentang masa depan budaya Mandar. Sebab identitas suatu bangsa atau suku tidak hanya hilang karena penjajahan atau perang, melainkan juga bisa perlahan memudar karena rasa malu terhadap asal-usul sendiri.
Dalam teori antropologi budaya, identitas etnis dibentuk oleh tiga unsur utama: bahasa, simbol budaya, dan memori kolektif leluhur. Ketika salah satu unsur itu mulai ditinggalkan, maka perlahan masyarakat akan mengalami krisis identitas budaya. Hal inilah yang sebenarnya sedang dikhawatirkan dalam diskusi tersebut.
Kemudian Ramli Rusli kembali memberikan contoh yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari: “Sangana nana’eke… atau ana’ta dite’e dzie, kurang sanna’i mappake sanga missanga Mandar.”
Artinya: “Nama anak-anak kita sekarang ini sudah sangat kurang memakai nama bercirikan Mandar.”
Ucapan itu langsung disambut anggukan beberapa ibu guru yang ikut berdiskusi. Dengan wajah heran sekaligus pasrah, mereka mengiyakan kenyataan tersebut.
“Iya re…, bassa siswau di passikolangan… mae’di tongani.”
Artinya: “Betul juga ya…, seperti di sekolah saya, memang sudah sangat banyak.”
Kenyataan ini bukan sekadar soal nama. Dalam kajian sosiolinguistik, nama adalah simbol identitas sosial dan budaya. Nama bukan hanya panggilan, tetapi jejak sejarah keluarga, penanda daerah asal, bahkan bentuk penghormatan kepada leluhur.
Dahulu masyarakat Mandar memiliki nama-nama khas yang sarat makna dan filosofi. Nama seperti Andri Piana (Bawalah menuju Kebaikan), Tammalele (Tidak Luntur), Cicci (Perempuan), Nyalla Bulang (Cahaya Bulan) atau nama lain bercorak Mandar mengandung kedekatan dengan adat, sejarah keluarga, dan bahasa ibu. Nama-nama itu lahir dari ruang budaya yang hidup.
Namun hari ini, pengaruh media sosial, budaya populer, film, dan dunia hiburan global perlahan mengubah cara pandang masyarakat terhadap identitas. Banyak orang tua lebih bangga memberi nama anak dengan nuansa asing atau mengikuti nama artis terkenal dibanding mempertahankan ciri khas budaya sendiri.
Secara ilmiah, fenomena ini disebut cultural homogenization, yaitu proses menyeragamkan budaya lokal akibat pengaruh globalisasi. Ketika masyarakat terus-menerus mengonsumsi budaya luar tanpa memperkuat akar budayanya sendiri, maka identitas lokal akan terkikis sedikit demi sedikit.
Lingkungan juga memberi pengaruh besar. Ketika masyarakat tinggal di wilayah perkotaan, mereka cenderung menyesuaikan diri dengan gaya hidup modern, termasuk dalam penggunaan bahasa dan pemberian nama. Tanpa disadari, rasa bangga terhadap budaya sendiri mulai memudar.
Padahal bangsa yang besar adalah bangsa yang mengenal asal-usulnya. Dalam ilmu psikologi sosial dijelaskan bahwa seseorang yang memahami identitas budayanya akan memiliki rasa percaya diri sosial yang lebih kuat dibanding mereka yang tercerabut dari akar budayanya.
Mandar bukan sekadar nama daerah. Mandar adalah peradaban.
Di dalamnya ada nilai sipamandar (saling menguatkan), ada sopan santun, ada adat, ada bahasa ibu, ada sejarah pelaut, ada sastra lisan, ada keberanian, dan ada kebijaksanaan leluhur yang diwariskan turun-temurun.
Karena itu, rasa bangga terhadap Kappung Pembolongan bukan berarti menolak kemajuan zaman. Kita tetap boleh modern, mengikuti perkembangan teknologi, dan hidup di tengah dunia digital. Tetapi kemajuan tidak boleh membuat kita lupa siapa diri kita sebenarnya.
Generasi hari ini justru harus lebih awal diperkenalkan pada adat, budaya, dan bahasa ibu.
Anak-anak perlu mengetahui dari mana mereka berasal, siapa leluhurnya, bagaimana bahasa daerahnya, dan apa nilai luhur yang diwariskan oleh nenek moyangnya.
Sebab ketika bahasa ibu hilang, maka cara pandang budaya juga ikut hilang. Ketika nama-nama khas daerah hilang, maka hilang pula penanda sejarah generasi. Dan ketika masyarakat tidak lagi bangga dengan identitasnya, maka budaya hanya akan tinggal cerita.
Maka tugas kita hari ini bukan hanya menjaga bangunan adat atau mengadakan festival budaya semata. Tugas terbesar kita adalah menanamkan rasa bangga menjadi orang Mandar sejak dari rumah, sekolah, dan lingkungan sosial.
Ajarkan anak-anak menyebut kampungnya dengan bangga. Ajarkan mereka bahasa ibunya dengan cinta. Ajarkan mereka bahwa menjadi orang Mandar bukan sesuatu yang kuno, melainkan kehormatan sejarah.
Karena sejatinya, manusia yang kehilangan asal-usulnya akan mudah kehilangan arah hidupnya.
Dan mungkin benar kegelisahan yang disampaikan dalam diskusi kecil itu bahwa yang paling berbahaya bukan hilangnya rumah adat, tetapi hilangnya rasa bangga terhadap tanah leluhur sendiri.
Maka mulai hari ini, mari kembali memperkenalkan Mandar kepada generasinya sendiri.
Bukan sekadar sebagai nama daerah, tetapi sebagai identitas, martabat, dan warisan peradaban.
Mandar, 22 Mei 2026
MATENG, Tayang9.com – Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Mamuju Tengah melalui Bidang Komunikasi terus…
PADA penghujung sebuah kegiatan Workshop Bahasa dan Sastra di Taman Budaya dan Museum UPT Taman…
UNGKAPAN “Asal sehat jiwa raga, faham, bisa dan mengerti baca tulis, menulislah” merupakan sebuah seruan…
TUTTU' rawana dalam masyarakat Mandar bukan sekadar bunyi pukulan rebana, melainkan jejak panjang peradaban spiritual…
JAKARTA, Tayang9 — Menteri Agama RI, Prof. Nasaruddin Umar mengingatkan ribuan pegawai negeri sipil (PNS)…
POLMAN, TAYANG9 – Upaya penguatan ekosistem seni rupa di Sulawesi Barat terus dilakukan melalui kegiatan…