TUTTU’ rawana dalam masyarakat Mandar bukan sekadar bunyi pukulan rebana, melainkan jejak panjang peradaban spiritual yang hidup dalam tradisi lisan masyarakat pesisir Sulawesi Barat.
Dalam bahasa Mandar, tuttu berarti pukulan atau rempakan, sedangkan rawana adalah sebutan lokal untuk rebana. Akan tetapi, Rawana dalam kebudayaan Mandar memiliki ciri yang berbeda dengan rebana pada umumnya. Ukurannya lebih besar, berdiameter sekitar 60 hingga 80 sentimeter, berbentuk bulat pipih, dibuat dari kayu pilihan dan dibalut kulit sapi atau kambing yang menghasilkan resonansi suara yang dalam, berat, dan menggema.
Dalam perspektif antropologi budaya, alat musik tradisional tidak pernah lahir hanya sebagai instrumen hiburan. Ia selalu memiliki hubungan dengan nilai sosial, religius, dan pandangan hidup masyarakat pemiliknya. Demikian pula Rawana dalam tradisi Mandar. Musik ini sejak dahulu lebih dekat dengan media dzikir, penyampaian pesan moral, serta penguatan hubungan spiritual masyarakat kepada Tuhan.
Menurut cerita tutur para maestro Parrawana yakni para pemain dan penjaga tradisi Rawana nama “Rawana” diyakini berasal dari bunyi “Rabbana… Rabbana… Rabbana…” yang keluar dari rebana dalam sebuah kisah spiritual pada masa sahabat Nabi.
Dalam cerita tersebut dikisahkan bahwa setelah Nabi Muhammad SAW pulang dari medan perang, para sahabat hendak menyambut kedatangannya dengan rempakan rebana sebagai bentuk kegembiraan dan penghormatan. Namun salah seorang sahabat menganggap penyambutan dengan musik sebagai sesuatu yang haram dan bid’ah. Karena kemarahannya, ia menendang salah satu rebana yang berada di barisan penyambut.
Menurut hikayat itu, rebana yang ditendang justru melayang tinggi ke angkasa sambil mengeluarkan suara “Rabbana… Rabbana… Rabbana…”. Peristiwa tersebut membuat para sahabat terheran-heran, sebab bunyi yang keluar bukan sekadar dentuman alat musik, melainkan lafaz dzikir yang memuji Tuhan.
Dari cerita itulah kemudian masyarakat Mandar meyakini bahwa Rawana bukan sekadar alat bunyi, melainkan media spiritual yang mengandung nilai dzikir dan penghormatan kepada Sang Pencipta.
Secara ilmiah, cerita tersebut memang berada dalam ranah folklor atau sastra tutur yang tidak dapat diverifikasi secara historis sebagaimana fakta sejarah akademik. Namun dalam kajian budaya, mitos dan cerita tutur memiliki fungsi penting sebagai pengikat identitas kolektif masyarakat.
Cerita seperti ini bukan dipahami semata-mata benar atau salah secara sejarah, tetapi dipandang sebagai simbol nilai yang diwariskan turun-temurun. Dalam konteks Mandar, kisah Rabbana menjadi simbol bahwa bunyi Rawana harus dijaga kesuciannya karena berhubungan dengan nilai religius dan adab budaya.
Oleh sebab itu, orang tua Mandar dahulu tidak memahami Marrawana hanya sebagai aktivitas memainkan alat musik. Marrawana adalah bentuk dzikir bersama di tengah masyarakat. Rempakan rebana dilakukan sambil melafalkan puji-pujian, shalawat, dan doa. Bunyi Rawana tidak berdiri sendiri, tetapi menyatu dengan irama dzikir yang menghadirkan suasana sakral dan kebersamaan sosial.
Dalam tradisi lama Mandar, setiap pukulan Rawana memiliki pola dan makna tersendiri. Para maestro mengenal sedikitnya empat belas jenis rempakan atau pukulan, yang masing-masing mempunyai nama, fungsi, dan karakter bunyi berbeda. Di antaranya dikenal Tuttu Kanjar, Tuttu Petindor, dan berbagai pola lainnya yang diwariskan secara turun-temurun melalui proses belajar langsung dari guru kepada murid.
Hal ini menunjukkan bahwa seni Rawana sebenarnya memiliki sistem musikal yang kompleks dan terstruktur, bukan sekadar pukulan spontan tanpa makna.
Dari sudut etnomusikologi, pola-pola rempakan tersebut dapat dipahami sebagai bentuk komunikasi budaya. Irama tertentu dipakai untuk mengiringi pengantin, menyambut tamu, mengantar jamaah haji, hingga ritual sosial masyarakat. Dengan demikian, Rawana bukan hanya alat musik, tetapi juga bahasa sosial dan spiritual masyarakat Mandar.
Namun dalam perkembangan zaman modern, terjadi pergeseran fungsi dan makna Rawana. Arus hiburan populer, pengaruh musik dangdut, disko, dan budaya pertunjukan modern menyebabkan banyak kelompok Parrawana lebih menonjolkan unsur hiburan daripada nilai dzikir. Rempakan yang dahulu penuh makna spiritual perlahan berubah menjadi irama pengiring pesta semata.
Fenomena ini sebenarnya dapat dipahami sebagai proses perubahan budaya. Dalam teori sosiologi budaya, setiap tradisi akan mengalami transformasi ketika bertemu dengan modernitas. Akan tetapi, perubahan menjadi persoalan ketika masyarakat mulai kehilangan makna dasar atau marwah budaya itu sendiri. Banyak generasi muda mampu memainkan Rawana, tetapi tidak lagi memahami filosofi pukulannya, nama-nama rempaknya, maupun nilai dzikir yang dahulu melekat di dalamnya.
Padahal jika ditelusuri dari akar makna “Rawana” yang diyakini berasal dari lafaz “Rabbana”, maka setiap rempakan seharusnya mengandung kesadaran spiritual, bukan sekadar bunyi hiburan. Dalam pandangan para tetua Mandar, memukul Rawana tidak boleh dilakukan sembarangan, sebab setiap dentumannya adalah simbol pujian kepada Tuhan dan penghormatan terhadap warisan leluhur.
Karena itu, pelestarian tradisi Rawana hari ini tidak cukup hanya menjaga bentuk alat musiknya, tetapi juga menjaga ruh budaya yang terkandung di dalamnya. Generasi muda Mandar perlu diperkenalkan kembali pada filosofi Tuttu Rawana sebagai rempak dzikir, bukan sekadar pertunjukan musik. Sebab ketika nilai spiritual hilang dari sebuah tradisi, maka yang tersisa hanyalah bunyi tanpa makna.
Pada akhirnya, Tuttu Rawana adalah cermin hubungan harmonis antara seni, agama, dan budaya dalam masyarakat Mandar. Ia membuktikan bahwa leluhur Mandar tidak memisahkan hiburan dengan nilai ketuhanan. Dalam setiap rempakan Rawana, tersimpan pesan bahwa bunyi yang paling indah bukanlah bunyi yang sekadar menghibur telinga, melainkan bunyi yang mampu mengingatkan manusia kepada Tuhan, kepada adab, dan kepada akar budayanya sendiri.
Mandar, 19 Mei 2026
MATENG, Tayang9.com – Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Mamuju Tengah melalui Bidang Komunikasi terus…
PADA penghujung sebuah kegiatan Workshop Bahasa dan Sastra di Taman Budaya dan Museum UPT Taman…
UNGKAPAN “Asal sehat jiwa raga, faham, bisa dan mengerti baca tulis, menulislah” merupakan sebuah seruan…
JAKARTA, Tayang9 — Menteri Agama RI, Prof. Nasaruddin Umar mengingatkan ribuan pegawai negeri sipil (PNS)…
POLMAN, TAYANG9 – Upaya penguatan ekosistem seni rupa di Sulawesi Barat terus dilakukan melalui kegiatan…
POLMAN, TAYANG9 — Peserta Latihan Pengembangan Kepemimpinan (LPK) Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Sulawesi Barat melakukan…