PADA penghujung sebuah kegiatan Workshop Bahasa dan Sastra di Taman Budaya dan Museum UPT Taman Budaya di Buttu Cipping, di hadapan peserta, pemateri M. Syariat Tajuddin membacakan sebuah Kisah Cerita yang ditulis sendiri olehnya. Sebuah kisah sederhana, namun mengguncang batin saya yang mendengarnya dari kejauhan.
Ia membacakan cerita tentang seorang tua bernama Puayi Kaco.
Bukan tokoh besar.
Bukan bangsawan.
Bukan pula orang kaya.
Ia hanya seorang ayah yang sedang menunggu hari raya dalam keadaan paling sunyi dalam hidupnya.
Istrinya telah meninggal dunia. Anak-anaknya telah lama merantau ke negeri orang. Rumah yang dahulu penuh suara kini tinggal menyisakan bunyi riuh suara tetangga dan langkah kaki sendiri di lantai kayu. Tak ada lagi suara anak meminta baju baru. Tak ada lagi istri yang sibuk menyiapkan kue lebaran. Bahkan gema takbir yang biasanya menghadirkan bahagia, kini justru memantulkan kesedihan di dalam dadanya. Puayi Kaco merindukan masa-masa kumpul bersama keluarganya yang masih lengkap menemaninya.
Namun di tengah kesedihan itu, ada sesuatu yang perlahan tumbuh dalam dirinya. Ia mulai menyadari bahwa puasa tahun itu, berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Dahulu, empat hari sebelum lebaran, ia kini sibuk menjaga kesehatan, minum obat, memulihkan tubuh, sebab ibadah puasa sering terputus oleh sakit dan kesibukan dunia. Tetapi kali ini, dalam kesendirian yang panjang, Puayi Kaco justru mampu menyempurnakan banyak hal yang dahulu sering tertinggal.
Satu hari sebelum malam takbiran, ia telah mengkhatamkan Al-Qur’an. Sholat malam menjadi kebiasaan yang tak pernah absen. Kesunyian rumahnya berubah menjadi ruang ibadah yang tenang. Rindu kepada keluarga perlahan berubah menjadi jalan pulang kepada Tuhan.
Di situlah letak makna besar dari cerita itu.
Kesepian ternyata tidak selalu menghadirkan kehancuran. Kadang ia menjadi ruang perenungan yang mengantarkan manusia kembali memahami tujuan hidupnya. Dalam teori psikologi eksistensial, manusia sering, justru menemukan makna terdalam ketika kehilangan sesuatu yang paling dicintainya. Kesedihan dapat berubah menjadi kesadaran spiritual. Kesendirian dapat melahirkan kejernihan jiwa.
Cerita Puayi Kaco bukan sekadar kisah tentang seorang tua yang ditinggalkan keluarga. Ia adalah gambaran tentang zaman hari ini. Zaman ketika manusia semakin pandai pergi, tetapi mulai lupa cara pulang.
Pendidikan modern hari ini banyak mengajarkan “Ilmu Pergi”. Anak-anak diajarkan meraih cita-cita setinggi mungkin, keluar dari desa, meninggalkan kampung halaman, mencari universitas terbaik, bekerja di kota besar, bahkan menetap di luar negeri. Semua diarahkan kepada mobilitas sosial dan keberhasilan material.
Secara teoritis, hal ini memang sejalan dengan konsep modernisasi sosial yang menjelaskan bahwa kemajuan ekonomi sering ditandai oleh urbanisasi, migrasi tenaga kerja, dan perpindahan manusia dari desa menuju pusat industri dan pendidikan. Dunia global membentuk manusia menjadi kompetitif, individual, dan produktif.
Tetapi ada sesuatu yang perlahan hilang. Manusia menjadi hebat dalam mencari kehidupan, namun lemah dalam menjaga hubungan batin dengan asal-usulnya sendiri. Mereka tahu cara berangkat, tetapi tidak diajarkan cara kembali.
Padahal dalam banyak kebudayaan Nusantara, terutama budaya Mandar, “pulang” bukan hanya perpindahan fisik menuju rumah. Pulang adalah proses kembali kepada akar, kepada orang tua, kepada tanah kelahiran, kepada nilai-nilai kemanusiaan, dan kepada identitas budaya.
Karena itu, “ilmu pulang” sesungguhnya adalah pengetahuan batin. Ia bukan mata pelajaran resmi di sekolah, tetapi sangat menentukan arah kehidupan manusia. Ilmu Pulang mengajarkan bahwa sejauh apa pun seseorang merantau, kampung halaman tetap memiliki hak atas dirinya. Ada orang tua yang menunggu. Ada kuburan leluhur yang perlu diziarahi. Ada bahasa daerah yang perlu dijaga. Ada tanah yang membutuhkan pikiran dan tenaga anak-anaknya sendiri untuk berkembang.
Tanpa Ilmu Pulang, generasi akan tumbuh menjadi manusia asing di tanah kelahirannya sendiri.
Secara sosiologis, kondisi ini disebut alienasi budaya, yaitu keadaan ketika seseorang kehilangan kedekatan emosional dengan identitas sosial dan budayanya akibat terlalu lama hidup dalam sistem budaya lain. Akibatnya, banyak generasi muda pulang dengan membawa ilmu dan teknologi, tetapi kehilangan kelembutan adat dan rasa hormat terhadap tradisi kampungnya sendiri.
Mereka mulai menganggap kebiasaan masyarakat sebagai sesuatu yang kuno. Tradisi dilihat sebagai keterbelakangan. Bahkan tidak sedikit yang mudah menyalahkan budaya sendiri hanya karena berbeda dengan apa yang mereka lihat di negeri orang.
Padahal sejatinya, ilmu yang tinggi seharusnya membuat seseorang semakin bijaksana dalam memahami perbedaan budaya, bukan menjadikannya sombong terhadap akar kehidupannya sendiri.
Di sinilah pentingnya mengajarkan Ilmu Pulang kepada generasi. Bahwa merantau bukan berarti memutus hubungan dengan kampung halaman. Bahwa pendidikan bukan hanya tentang bagaimana keluar dari desa, tetapi juga bagaimana kembali membangun desa. Bahwa keberhasilan sejati bukan hanya ketika diterima bekerja di kota besar, tetapi ketika mampu menghadirkan manfaat bagi tanah tempat ia dilahirkan.
Puayi Kaco dalam cerita itu seakan sedang mengingatkan kita bahwa rumah tidak selalu menunggu dalam keadaan lengkap. Kadang ketika seseorang baru ingin pulang, ibunya sudah tiada. Ayahnya sudah renta. Rumahnya sudah sunyi. Kampungnya telah kehilangan banyak wajah lama yang dahulu membesarkannya.
Karena itu, Ilmu Pulang bukan hanya tentang perjalanan fisik, tetapi tentang kesadaran untuk tidak terlambat mencintai asal-usul sendiri.
Hari Raya Idul Fitri sendiri pada hakikatnya adalah momentum pulang. Dalam makna spiritual, manusia kembali kepada fitrah kesuciannya. Dalam makna sosial, manusia kembali menyambung silaturahmi. Dalam makna budaya, manusia kembali mengingat rumah dan keluarganya.Maka sesungguhnya, orang yang paling kaya bukanlah orang yang paling jauh pergi, melainkan orang yang tetap tahu jalan pulang.
Dan mungkin itulah pelajaran terbesar dari kisah Puayi Kaco yang dibacakan oleh M Syariat Tajuddin saat didaulat sebagai pemateri pada workshop bahasa dan sastra. Seorang penulis yang dikenal sebagai dosen ilmu sosial dan budaya serta sastrawan.
Bahwa pada akhirnya, manusia tidak hanya membutuhkan ilmu untuk meninggalkan kampung halaman, tetapi juga membutuhkan cahaya agar mampu kembali dengan hati yang utuh, dengan iman yang matang, dan dengan niat membangun tanah kelahirannya sendiri.
Mandar, 22 Mei 2026
MATENG, Tayang9.com – Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Mamuju Tengah melalui Bidang Komunikasi terus…
UNGKAPAN “Asal sehat jiwa raga, faham, bisa dan mengerti baca tulis, menulislah” merupakan sebuah seruan…
TUTTU' rawana dalam masyarakat Mandar bukan sekadar bunyi pukulan rebana, melainkan jejak panjang peradaban spiritual…
JAKARTA, Tayang9 — Menteri Agama RI, Prof. Nasaruddin Umar mengingatkan ribuan pegawai negeri sipil (PNS)…
POLMAN, TAYANG9 – Upaya penguatan ekosistem seni rupa di Sulawesi Barat terus dilakukan melalui kegiatan…
POLMAN, TAYANG9 — Peserta Latihan Pengembangan Kepemimpinan (LPK) Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Sulawesi Barat melakukan…