Untuk Inge Suatu Ketika di Dondori Literasi

“Dalam keadaan sejarah sekarang, semua tulisan politik hanya bisa menegaskan suatu police universe, sama tulisan intelektual hanya bisa menghasilkan para literatur yang tidak berani lagi menyebutkan namanya” Roland Barthes

SIAPA Inge dan bagaimana dia, sering nama menjadi sangat dan teramat penting. Tetapi seringkali juga nama menjadi tidak penting. Itu biasanya terjadi tatkala kita diserang semesta wacana yang menenggelamkan sejumlah nama.

Dalam posisi ini, nama tertimbun oleh wacana dan diskursus. Ia meraib, dan yang tertinggal hanyalah catatan-catatan yang lebih banyak berisi tentang makna-makna yang lebih menyita ingatan. Sering kita membaca tulisan lepas di bak-bak damtruck terbuka, “lupa namanya tetapi ingat rasanya”.


Nama hilang, rasa yang tertinggal. Seperti kita menenggak kopi, di sebuah cafe atau warung kopi, kita lupa nama atau brand cafe dan warung kopinya, tetapi ingatan kita melekat pada nikmat dan rasa kopinya.

Begitulah sering nama begitu saja tidak memiliki makna, walau dalam dimensi yang lain nama menjadi doa. Nama menjadi harapan dan sudah pasti, nama memuat hikayat perjalanan sejarah atau sesuatu. Tetapi pertanyaannya kemudian adalah, apakah nama dan ataukah rasa yang paling penting.

Kembali tentang Inge, siapa dia, dia adalah nama yang tertinggal dan tercetak dalam buku Manusia Satu Dimensi yang ditulis oleh Herbert Marcuse dan terbaca oleh saya, sat menulis catatan ini. Atau tepatnya, tengah belajar menekuni kesendirian di sebuah cafe literasi yang bernama Dondori milik sahabat saya yang baik.


Kebaikannya otentik dan tak dibuat-buat atau sekedar dijadikan sampul dari tata laku pergaulannya. Ia baik karena ia tampak begitu sadar bahwa tugas kemanusiaan kita adalah berbuat baik. Tak ada pilihan lain dalam kehidupan selain berbuat baik.

Saat saya menuliskan catatan ini mendadak ponsel saya kemasukan pesan dari sahabat saya yang lain dan berada beratus-ratus kilo dari tempatku menulis ini, ia menanyakan posisiku. Dan saya katakan, saya tengah belajar menekuni kesendirian seraya mendekati dan hendak menemui surga yang ada di bawah telapak kaki ibuku.

Ibu bukanlah nama, ia adalah subtansi. Padanya surga diletakkan, bukan pula surga sekedar nama belaka. Tetapi surga yang memuat subtansi kebaikan dan kesedapan pula kedamaian.

Dan terakhir siapakah Inge? ia adalah nama yang terbaca dihalaman awal buku yang terbaca olehku di suatu setika di Dondori literasi. Milik sahabat saya yang baik. Seorang sahabat yang namanya, terasa tidaklah begitu penting untuk saya sebutkan. Karena intinya ia baik dan tidak seakan-akan baik. Dan itu yang saya cecap, selain kopi yang sedang saya seruput.

MS TAJUDDIN

belajar membaca dan menulis juga pembelajar di kehidupan

Recent Posts

Kembangkan Bakat Seni Anak, Badara School Buka Kelas Mewarnai dan Menggambar

POLMAN, TAYANG9 – Yayasan Badara melalui Badara School menghadirkan Kelas Mewarnai dan Menggambar sebagai salah…

1 hari ago

Perpusip Sulawesi Barat Terima Karya Penulis Lokal, Perkuat Gerakan Sulbar Mandarras

MAMUJU, TAYANG9 – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Perpusip) Provinsi Sulawesi Barat menerima karya tulis berjudul…

2 hari ago

5 Hektare Kebun Sawit Terbakar di Polman, Satgas Karhutla Bergerak Cepat

POLMAN, TAYANG9 - Kebakaran lahan kembali terjadi di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat. Sekitar…

3 hari ago

Pemdes Dilarang Legalkan Lahan dalam Kawasan Hutan, Jadi Kesepakatan Rakor di Karossa

MATENG, Tayang9.com – Pemerintah Kecamatan Karossa menggelar Rapat Koordinasi (Rakor) terkait permasalahan kawasan hutan dan…

3 hari ago

Ketua DWP Mamuju Tengah Kukuhkan Pengurus DWP Tingkat OPD, Tekankan Peran Strategis Istri ASN

MATENG, Tayang9.com – Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kabupaten Mamuju Tengah, Ny. Radia Setya Bero,…

3 hari ago

Kemarau Ekstrem, Babinsa Kodim Polman Gencar Sosialisasi Cegah Karhutla

POLMAN, TAYANG9 - Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat,…

3 hari ago