Categories: BERITAFEATURE

Petikan Sayang-Sayang di Era Digital: Jejak Tradisi Mandar dari Jemari Muhammad Faisal

SEBUAH rumah sederhana di Jalan Andi Latanratu (Kappung pajala), Kelurahan Takatidung, Polewali Mandar, suara petikan halus terdengar menyusup ke telinga. Nada-nada itu bukan musik pop, bukan pula melodi dari aplikasi musik digital populer. Yang terdengar adalah padang pasir sayang-sayang, musik tradisional Mandar yang telah diwariskan turun-temurun.

Di balik petikan itu, duduk seorang pemuda bernama Muhammad Faisal. Di usianya yang masih muda, Faisal memilih jalur yang tidak biasa: melestarikan musik tradisional di tengah derasnya arus modern. Saat teman-teman sebayanya lebih banyak meniru gaya musik Barat atau mengikuti tren K-pop, Faisal justru terjun ke dalam pusaran nada-nada leluhur Mandar.

“Musik tradisi ini bukan hanya hiburan. Ada cerita, ada doa, ada nasihat yang terbungkus di dalamnya,” ucap Faisal sambil menatap instrumen di tangannya.

Keputusan Faisal merilis musik petikan padang pasir sayang-sayang Mandar ke platform digital adalah sebuah keberanian sekaligus langkah bersejarah. Baginya, digitalisasi bukan ancaman, melainkan jembatan untuk memperluas ruang hidup musik tradisi. Ia ingin generasi muda, baik di Mandar maupun di luar daerah, bisa mengenal dan merasakan keindahan musik sayang-sayang.

“Kalau musik ini hanya dimainkan di kampung, lama-lama akan hilang. Tapi kalau kita rekam, kita bagikan lewat platform digital, insyaallah bisa bertahan bahkan mendunia,” tuturnya penuh semangat.

Langkah Faisal mendapat banyak apresiasi. Beberapa seniornya di polewali melihat upaya ini sebagai tanda kebangkitan seni tradisi di kalangan anak muda. Tidak sedikit pula yang menaruh harapan agar inisiatif serupa bisa tumbuh dari generasi lain, sehingga musik sayang-sayang tidak hanya menjadi artefak budaya, tetapi tetap hidup dan berinteraksi dengan zaman.

Kini, lewat satu klik di platform musik digital, nada sayang-sayang Mandar bisa menemani siapa saja dari anak muda di Polewali hingga pendengar di kota-kota besar. Dari jemari Faisal, warisan budaya Mandar menemukan jalan baru menuju masa depan.(Bas)

ANDI BASO IAN

Santri Kehidupan yang Sedang Belajar Menulis

Recent Posts

Manajemen Talenta Kemenag, Menag Tekankan Keadilan Bagi Perempuan

JAKARTA, Tayang9 — Menteri Agama (Menag), Prof. Nasaruddin Umar membuka kegiatan Rapat Koordinasi Implementasi Manajemen…

3 jam ago

Perpusip Sulbar Telusuri Naskah Kuno di Pamboang, Terkait Sejarah Awal Pitu Ba’bana Binanga

MAJENE, Tayang9 — Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Sulawesi Barat (Perpusip Sulbar) melaksanakan kegiatan identifikasi…

3 hari ago

Sat Samapta Polres Polman Gelar Patroli Perintis Presisi di Sejumlah Titik

POLMAN, Tayang9 — Satuan Samapta Polres Polewali Mandar melaksanakan Patroli Perintis Presisi di sejumlah wilayah hukum…

4 hari ago

Jam Pulang Sekolah, Sat Lantas Polres Polman Hadir Atur Arus Kendaraan di Pekkabata

POLMAN, Tayang9 — Satuan Lalu Lintas (Sat Lantas) Polres Polewali Mandar melakukan patroli dan pengaturan lalu…

4 hari ago

Upacara HUT ke-81 TNI Digelar Khidmat di Makodim 1402/Polman

POLMAN, Tayang9 — Upacara peringatan HUT ke-81 TNI di Makodim 1402/Polman berlangsung sederhana namun khidmat, Senin…

4 hari ago

Babinsa Koramil Tinambung Bersama Warga Gotong Royong Bersihkan Pantai Waitawar Polman

POLMAN, Tayang9 — Tumpukan sampah terlihat berserakan di pesisir Pantai Waitawar, Desa Tammangalle, Kecamatan Balanipa, Kabupaten…

4 hari ago