Categories: GAGASANOPINI

Kearifan Lokal dan Pendidikan, Membangun Ruang Kebudayaan dalam Sistem Pendidikan Formal

*Oleh: Hakiki

KEBUDAYAAN merupakan bagian penting dari identitas dan kehidupan suatu masyarakat. Indonesia sebagai negara multikultural memiliki kekayaan bahasa, tradisi, kesenian, pengetahuan lokal, serta nilai-nilai sosial yang tumbuh dan diwariskan dari generasi ke generasi. Keberagaman tersebut seharusnya menjadi kekuatan dalam membangun karakter dan identitas bangsa. Namun, dalam praktiknya, pengakuan terhadap kebudayaan belum selalu berjalan seimbang. Sebagian kebudayaan memperoleh ruang representasi yang lebih luas, sementara kebudayaan lokal di berbagai daerah masih menghadapi keterbatasan dalam memperoleh tempat di ruang-ruang pendidikan dan pembangunan nasional.

Persoalan tersebut dapat dilihat dari bagaimana kebudayaan diperkenalkan kepada generasi muda. Selama ini, pengenalan kebudayaan lokal sering kali lebih banyak berlangsung melalui kegiatan masyarakat, upacara adat, festival, pertunjukan seni, dan berbagai aktivitas komunitas. Kegiatan tersebut tentu penting sebagai bentuk pelestarian budaya. Akan tetapi, pelestarian kebudayaan tidak cukup hanya dilakukan melalui kegiatan seremonial. Kebudayaan perlu hadir dalam proses pendidikan agar generasi muda tidak sekadar mengenal tradisinya sebagai sesuatu yang diwariskan, tetapi juga memahami makna, nilai, dan pengetahuan yang terkandung di dalamnya.

Dalam konteks Sulawesi Barat, khususnya Polewali Mandar, terdapat kekayaan kebudayaan yang dapat menjadi sumber pembelajaran. Masyarakat Mandar memiliki bahasa, tradisi, kesenian, sistem pengetahuan, serta nilai-nilai sosial yang membentuk cara pandang dan kehidupan masyarakat. Berbagai tradisi tersebut bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan mengandung pengetahuan yang relevan dengan kehidupan masa kini. Nilai-nilai seperti Metabe’, Mepuang, Sipakatau, dan Sipakainga mengajarkan penghormatan, keramahan, kemanusiaan, serta sikap saling mengingatkan. Nilai-nilai tersebut dapat menjadi sumber pembentukan karakter peserta didik apabila diperkenalkan secara tepat melalui proses pembelajaran.

Salah satu contoh pengetahuan lokal yang menarik untuk dibicarakan adalah Ussul dalam kehidupan masyarakat Mandar. Ussul dapat dipahami sebagai ungkapan harapan, doa, atau maksud baik yang disampaikan melalui simbol dan tanda tertentu. Dalam praktik kehidupan masyarakat, ussul tidak hanya berkaitan dengan kepercayaan terhadap suatu simbol, tetapi juga memperlihatkan bagaimana masyarakat membangun makna, menyampaikan harapan, dan memaknai hubungan antara manusia dengan lingkungan sekitarnya. Pemahaman mengenai ussul menunjukkan bahwa kebudayaan lokal sesungguhnya menyimpan sistem pengetahuan yang dapat dikaji melalui berbagai perspektif, baik sejarah, bahasa, sosial, maupun pendidikan.

Karena itu, kebudayaan lokal perlu ditempatkan sebagai sumber pengetahuan dalam sistem pendidikan formal. Sekolah tidak semestinya hanya menjadi tempat peserta didik mempelajari pengetahuan yang bersifat umum dan nasional, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenali lingkungan sosial dan kebudayaan tempat mereka tumbuh. Ketika peserta didik mempelajari bahasa, cerita rakyat, tradisi, kesenian, dan nilai-nilai masyarakatnya sendiri, mereka tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga membangun hubungan dengan identitas dan lingkungan kebudayaannya.

Integrasi kebudayaan dalam pendidikan dapat dilakukan melalui pengembangan bahan ajar, pemilihan teks bacaan, pembelajaran berbasis proyek, kegiatan literasi, serta pemanfaatan media pembelajaran digital. Guru dapat menghadirkan cerita rakyat Mandar sebagai bahan pembelajaran bahasa dan sastra, memperkenalkan tradisi lokal melalui kegiatan menulis, atau mengajak peserta didik mendokumentasikan pengetahuan masyarakat di lingkungan sekitarnya. Dengan demikian, kebudayaan tidak hanya menjadi materi tambahan dalam pembelajaran, tetapi menjadi bagian dari pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan peserta didik.

Meskipun demikian, upaya tersebut menghadapi sejumlah tantangan. Keterbatasan bahan ajar yang memuat kebudayaan lokal, belum optimalnya dokumentasi pengetahuan tradisional, kurangnya kolaborasi antara sekolah dan komunitas budaya, serta kecenderungan pembelajaran yang lebih berorientasi pada pencapaian materi kurikulum menjadi beberapa persoalan yang perlu diperhatikan. Di sisi lain, perkembangan teknologi dan arus informasi global juga menghadirkan tantangan tersendiri. Generasi muda semakin mudah mengakses kebudayaan dari berbagai belahan dunia, tetapi belum tentu memperoleh kesempatan yang sama untuk mengenali kebudayaan di lingkungan mereka sendiri.

Oleh sebab itu, diperlukan kerja sama antara pemerintah, satuan pendidikan, perguruan tinggi, budayawan, komunitas, dan masyarakat. Pemerintah daerah perlu memberikan perhatian terhadap pengembangan kebijakan pendidikan berbasis kebudayaan lokal. Sekolah perlu membuka ruang bagi pemanfaatan sumber belajar dari lingkungan sekitar. Perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui penelitian dan pengembangan bahan ajar, sedangkan budayawan dan komunitas budaya dapat menjadi mitra dalam memberikan pengetahuan yang bersumber dari pengalaman dan praktik kebudayaan masyarakat. Kolaborasi tersebut penting agar proses pewarisan kebudayaan tidak hanya bergantung pada satu pihak.

Pada akhirnya, membicarakan kebudayaan bukan hanya membicarakan masa lalu, melainkan juga membicarakan masa depan. Kebudayaan akan tetap hidup apabila generasi berikutnya memiliki kesempatan untuk mengenal, memahami, mengembangkan, dan mempraktikkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Pendidikan memiliki tanggung jawab besar dalam proses tersebut. Kita tidak ingin generasi muda Sulawesi Barat mengenal kebudayaan daerah lain dengan baik, tetapi justru merasa asing terhadap bahasa, tradisi, sejarah, dan pengetahuan masyarakatnya sendiri.

Dengan demikian, pendidikan dan kebudayaan tidak seharusnya ditempatkan sebagai dua hal yang terpisah. Keduanya harus saling menguatkan dalam membentuk manusia yang memiliki pengetahuan, karakter, dan kesadaran terhadap identitas budayanya. Sebab, kebudayaan yang tidak diwariskan melalui pengetahuan berisiko menjadi sekadar kenangan, bukan lagi bagian dari kehidupan.


*Penulis: Hakiki, Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta

REDAKSI

Koran Online TAYANG9.COM - "Menulis Gagasan, Mencatat Peristiwa" Boyang Nol Pitu Berkat Pesona Polewali Sulbar. Email: sureltayang9@gmail.com Gawai: +62 852-5395-5557

Recent Posts

SMP Negeri 1 Tinambung Gelar LDKS, Anggota Bawaslu Sulbar Berikan Motivasi Kepemimpinan

POLMAN, TAYANG9 - SMP Negeri 1 Tinambung menggelar kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa (LDKS) yang…

13 menit ago

Awasi Peredaran Rokok Ilegal, Satpol PP Sisir Sejumlah Toko di Pasar Sentral Pekkabata

POLMAN, Tayang9 – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Provinsi Sulawesi Barat bersama Satpol PP Kabupaten…

8 jam ago

Jumat Berkah, Sat Lantas Polres Polman Berbagi Makanan dan Sampaikan Edukasi Tertib Berlalu Lintas Kepada Masyarakat

POLMAN, Tayang9 – Sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat sekaligus mempererat hubungan antara Polri dan warga, personel…

9 jam ago

Sambut Pembangunan Jembatan Perintis Garuda, TNI dan Warga Tapango Gelar Doa Bersama

POLMAN, Tayang9 – Personel TNI Kodim 1402/Polman bersama masyarakat Desa Tapango dan Desa Tapango Barat, Kecamatan…

12 jam ago

Setelah Putus Sejak 2021, Jembatan Penghubung Tapango-Tapango Barat Segera Dibangun Kembali

POLMAN, Tayang9 - Harapan masyarakat Desa Tapango dan Desa Tapango Barat, Kecamatan Tapango, Kabupaten Polewali Mandar…

12 jam ago

Jembatan Tapango–Tapango Barat Putus Sejak 2021, Dandim Polman: “Mohon Doanya agar Kami Bisa Membangun Kembali Jembatan Perintis Garuda”

POLMAN, Tayang9 – Jembatan gantung yang menghubungkan Desa Tapango dengan Desa Tapango Barat, Kecamatan Tapango, Kabupaten…

1 hari ago