“Aku memang menangisi kepergianmu Annangguru, tapi aku lebih menangisi diriku yang tak bersungguh-sungguh menimba ilmu dan kearifan darimu”.
KEPERGIAN Annangguru Syibli meninggalkan duka dan perih di dalam hati jamaah dan orang-orang yang mencintainya. Beliau bukan hanyak sosok Annangguru tapi beliau bisa menempatkan diri sebagai sahabat, sebagai kakak dari yang lebih muda darinya, sebagai adik yang lebih tua darinya.
Meskipun penulis baru sekitar 3 tahun bergabung sebagai murid dari tarekat Qadiriyah beliau tetapi perasaan sebagai murid yang punya hati pasti akan terpukul dengan kepergiannya yang tiba-tiba. Sabtu malam tanggal 11 Oktober di saat sedang berada di rumah saya menerima telepon yang mengabarkan kabar duka, saya sepertinya tidak percaya dan langsung mengecek gawai di grup jamaah Qadiriyah wilayah Limboro memang sudah dikabarkan disitu oleh salah satu jamaah dan saya langsung menelpon kakak saya Saharuddin alias Papa Mona dan kebetulan ia lagi berada di Desa Lekopadis markas tempat jamaah Qadiriyah wilayah Lekopadis biasa berkumpul lalu saya hubungi Jamaah Palece untuk bergabung ke Lekopadis.
Alhasil malam itu kami yang berkumpul mengambil kesimpulan untuk ke lokasi pemakaman Annangguru Tomatindo di Lembang (Prof. KH. Sahabuddin) karena berdasarkan kesepakatan keluarga Annangguru Syibli akan dimakamkan di situ.
Sosok yang tak Tergantikan
Sosok Annangguru Syibli selaku Mursyid selama saya mengikuti beliau tidak pernah sekalipun ada amarah dalam ucapan dan perbuatannya, setahu saya untuk urusan ummat dan yang datang meminta tolong kepadanya selalu diterima tidak ada kata penolakan dan kalau urusan pribadi beliau tidak mau memberatkan siapapun.
“Kematian seorang alim ulama sama dengan matinya alam”, maksud ungkapan itu adalah kalau seorang alim sebagai penunjuk ke jalan yang benar dan tatakrama hidup meninggal dunia kita akan hidup seperti hewan dan itu sama saja dengan matinya alam.
Banyak legacy ilmu dan warisan pendidikan dari beliau yang semestinya terus dilanjutkan dan Istiqomah dilaksanakan oleh jamaah dan orang-orang yang mencintainya. Apa yang beliau rancang dan rencanakan bagi kemaslahatan ummat tapi belum sempat terwujud sebaiknya didata dan bersama keluarga besarnya dibicarakan bagaimana cara mewujudkannya.
Annangguru tak Pernah Mati ia Selalu Hidup di Hati Kita
Meskipun orang-orang menyebut beliau sudah mati tapi sebagai jamaah kita selalu diingatkan oleh Allah “jangan mengira orang-orang yang berjuang di jalan Allah itu mati tetapi mereka tetap hidup dan diberi rezeki oleh Allah”. Kematian itu tidak ada namun itu hanya proses perpindahan alam dari alam dunia ke alam barzakh.
Raga boleh mati tapi nyawa kita selalu hidup bahkan Annangguru masih hidup bersama kita dalam hati kita yang mencintainya. Seperti ulat yang berubah jadi kepompong dan akhirnya menjelma kupu-kupu yang indah, Annangguru sedang menunggu kita jamaahnya bergabung dalam barisan Islam bersama Syekh Sultan Auliya Abdul Qadir Jailani dan semua silsilah tarekat Qadiriyah hingga ke puncaknya berkumpul bersama Rasulullah SAW sebagai “kupu-kupu” yang indah dan bergembira berhari raya di Surga menatap keindahan wajah Allah Azza wa Jalla. Semoga. Aamiin.
Tinambung-Limboro, 13 Oktober 2026
*Penulis: Abd. Mubarak, santri yang masih setia menjadi santri, saat ini diamanahi tugas sebagai Kepala KUA Kecamatan Limboro Kabupaten Polman Sulbar
MAMUJU, Tayang9 – Upaya meningkatkan partisipasi masyarakat dalam Survei Tingkat Kegemaran Membaca (TGM) terus dilakukan di…
KABAR duka menyelimuti Sulawesi Barat. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. KH. Muhammad Syibli Sahabuddin, atau…
SULAWESI Barat kembali kehilangan salah seorang putra terbaiknya. Kiai Syibli Sahabuddin, atau yang akrab disapa…
SEKITAR Pukul 21.45 WITA, 11 Oktober 2026, kabar itu datang seperti angin senja yang membawa…
JAKARTA, Tayang9 — Menteri Agama (Menag), Prof. Nasaruddin Umar membuka kegiatan Rapat Koordinasi Implementasi Manajemen…
MAJENE, Tayang9 — Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Provinsi Sulawesi Barat (Perpusip Sulbar) melaksanakan kegiatan identifikasi…