Categories: GAGASANOPINI

Mengukuhkan Tradisi, Merayakan Otentisitas, Catatan Perjalanan Perayaan Bulan Bahasa MGMP Bahasa Indonesia SMK Polman 2026

*Oleh: Supriadi, S.Pd.

Nauwakke’ di’e tulisan e, dengan Bismillah.

SUPRIADI, Adi, Pak Sup, Pak Supri, atau Pak Guru Supriadi. Damo bata-bata banda, iyyamo sangau. Sebut saja apa yang paling mudah diingat. Sebab, dalam perjalanan mengajar dan belajar, nama hanyalah panggilan, sedangkan kerja dan pengabdianlah yang perlahan-lahan memberi makna.

Bismillah. Saya memulai tulisan ini dengan keyakinan sederhana, bahwa setiap perayaan literasi sesungguhnya menyimpan cerita yang lebih panjang daripada acara yang terlihat di atas panggung. Ada percakapan yang tidak tercatat dalam notulensi, kegelisahan yang tidak masuk dalam laporan kegiatan, pekerjaan kecil yang nyaris tak diketahui siapa pun, dan kebahagiaan yang justru tumbuh dari hal-hal sederhana. Perayaan Bulan Bahasa MGMP Bahasa Indonesia SMK Kabupaten Polewali Mandar 2026 adalah salah satu perjalanan itu.

Di tengah perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) yang kian masif, dunia kepenulisan menghadapi pertanyaan yang semakin penting, tatkala mesin mampu merangkai bait-bait puisi dalam hitungan detik, di manakah letak keistimewaan manusia sebagai pencipta karya?

Pertanyaan itu terasa dekat dengan generasi yang hari ini tumbuh bersama layar, algoritma, dan media sosial. Perkenalkan, saya juga bagian dari Generasi Z—Gen Z 99. Kami hidup dalam zaman ketika gagasan dapat dicari dengan mudah, kalimat bisa dirapikan oleh mesin, dan puisi dapat lahir dari sebuah perintah singkat. Namun, kemudahan itu sekaligus membawa tantangan sekaligus pertanyaan yang menohok. Adakah kini, kita telah memiliki kecakapan supersonik yang dalam menghasilkan teks jauh lebih cepat daripada kesanggupan merasakan kehidupan?

Puisi bukan sekadar susunan kata yang terdengar indah. Ia adalah pengalaman yang mencari bentuk, perasaan yang menemukan bahasa, dan ingatan yang berusaha bertahan dari waktu. Mesin mungkin membantu merangkai kalimat, tetapi pengalaman kehilangan, kegembiraan, kecemasan, cinta, dan kerinduan tetap membutuhkan manusia yang sungguh-sungguh menghayatinya. Di sanalah otentisitas menjadi amat teramat penting artinya, bukan semata-mata karena sebuah karya dibuat tanpa bantuan teknologi, melainkan karena karya itu memiliki kesadaran, pengalaman, dan tanggung jawab kreatif dari penciptanya.

Dari kegelisahan itulah semangat Perayaan Bulan Bahasa 2026 menemukan relevansinya. MGMP Bahasa Indonesia SMK Kabupaten Polewali Mandar mengusung tema “Mengukuhkan Bahasa, Membumikan Literasi, Menggerakkan Karya Siswa SMK Polewali Mandar.” Sebuah tema yang bagi saya bukan hanya kalimat untuk dicetak pada spanduk, melainkan pekerjaan panjang yang mesti dijalankan. Ya, mengukuhkan bahasa melalui praktik, membumikan literasi melalui kebiasaan, dan menggerakkan karya dengan menyediakan ruang bagi siswa untuk berani mencipta.

Di Balik Panggung, Ada Kerja yang Tak Selalu Terlihat

Sebuah kegiatan sering kali tampak sederhana ketika hari pelaksanaannya tiba. Orang datang, narasumber berbicara, peserta menyimak, pemenang diumumkan, foto bersama dilakukan, lalu semua pulang membawa sertifikat dan berlipat-lipat kenangan berupa foto dan video dalam memori ponsel atau media sosial masing-masing. Namun, jauh sebelum hari itu, ada banyak hal yang harus disiapkan agar seluruh rangkaian berjalan sebagaimana mestinya.

Perjalanan Perayaan Bulan Bahasa 2026 dimulai dari pembenahan administrasi, konsolidasi panitia di salah satu cafe di dekat Alun-alun Polewali, komunikasi dengan dewan juri, hingga upaya merangkul partisipasi sekolah-sekolah vokasi di Polewali Mandar. Sebanyak 27 sekolah menjadi bagian dari jejaring kegiatan ini, mulai dari SMKN 1 Polewali, SMKN Balanipa, hingga SMKN 1 Tutar.

Di balik angka 27 itu ada guru yang harus membagi waktu dengan kegiatan belajar-mengajar, siswa yang menyiapkan puisinya, pesan-pesan yang harus dibalas, data yang mesti diperiksa, dan keputusan-keputusan kecil yang menentukan kelancaran kegiatan.

Sebagai bagian dari panitia, saya ikut mengurus pekerjaan yang mungkin tidak banyak dibicarakan ketika acara telah selesai. Mulai dari merapikan basis data peserta, menyiapkan skema pembiayaan mandiri melalui kaus sablon dengan sistem pre-order, serta merancang administrasi berbasis teknologi digital.

Saya memanfaatkan google forms untuk menghimpun data pendaftaran dan autocrat untuk membantu otomatisasi dokumen, termasuk penerbitan sertifikat elektronik. Sistem tersebut dirancang agar pengelolaan data peserta lebih tertata dan proses penerbitan sertifikat bagi guru pendamping dapat berlangsung lebih efisien. Sertifikat kegiatan direncanakan memuat 36 Jam Pelajaran (JP), dengan harapan dapat dimanfaatkan sesuai ketentuan administrasi dan penilaian kinerja guru yang berlaku.

Di titik ini, saya menemukan bahwa literasi digital tidak harus selalu dibicarakan dalam forum besar. Ia bisa dimulai dari pekerjaan sederhana, atawa ini tentang, bagaimana mengelola data dengan rapi, bagaimana mengurangi pekerjaan berulang, bagaimana memastikan nama peserta tidak keliru, dan bagaimana teknologi digunakan untuk memudahkan kerja bersama.

Teknologi, dalam pengertian ini, bukan sekadar sesuatu yang dipamerkan. Ia menjadi alat untuk merawat ketertiban, menghemat tenaga, dan memberi lebih banyak ruang bagi manusia untuk mengerjakan hal-hal yang membutuhkan perhatian serta kepekaan.

Tetapi saya juga belajar bahwa secanggih apa pun sistem yang dirancang, kegiatan tidak akan berjalan hanya dengan formulir digital dan otomatisasi. Tetap dibutuhkan komunikasi, kesediaan saling membantu, kesabaran menghadapi perubahan, dan kepercayaan bahwa pekerjaan yang dilakukan bersama-sama akan menemukan jalannya.

Ketika Puisi Menemukan Rumahnya

Kamis, 22 Oktober 2026, UPTD Taman Budaya dan Museum Sulawesi Barat menjadi tempat bertemunya gagasan, pengalaman, dan karya. Hari itu, Perayaan Bulan Bahasa tidak berhenti sebagai agenda seremonial. Ia menjelma ruang percakapan tentang sastra, teknologi, bahasa, dan masa depan kreativitas siswa.

Rangkaian kegiatan diawali dengan lokakarya sastra yang dipandu Suhartini Yusuf, S.Pd. Tiga narasumber hadir membawa sudut pandang yang berbeda, tetapi saling melengkapi.

A’ba Tammalele membicarakan otentisitas dan budaya menulis Generasi Z di tengah disrupsi kecerdasan buatan. Dr. Sri Musdikawati, M.Si., menguraikan struktur dan estetika puisi berbasis kearifan lokal Mandar. Sementara itu, M. Syariat Tajuddin, S.H., M.H., memberikan evaluasi kritis terhadap karya-karya puisi siswa yang telah masuk ke meja panitia.

Bagi saya, pertemuan semacam ini penting karena siswa tidak hanya membutuhkan teori tentang puisi. Mereka juga perlu mendengar bagaimana sebuah karya dibaca, bagaimana pilihan kata dipertimbangkan, bagaimana kelemahan dapat dikenali tanpa harus merendahkan penciptanya, dan bagaimana kritik bisa menjadi pintu menuju pertumbuhan.

Puisi siswa tidak semestinya hanya hadir untuk diperlombakan, lalu dilupakan setelah pengumuman pemenang. Ia perlu dibaca, didiskusikan, ditafsirkan, dan diberi kesempatan untuk berkembang. Di hadapan karya-karya itu, guru tidak cukup menjadi orang yang memberi nilai. Guru juga perlu menjadi pembaca yang bersedia mendengarkan suara anak didiknya.

Terlebih ketika puisi bersentuhan dengan kearifan lokal Mandar. Bahasa, ingatan, tradisi, lanskap laut, kehidupan kampung, dan pengalaman keluarga merupakan sumber penciptaan yang tidak pernah benar-benar habis. Semua itu dapat menjadi bahan bagi siswa untuk menemukan suaranya sendiri, selama kebudayaan tidak sekadar ditempelkan sebagai hiasan, melainkan dihayati sebagai bagian dari pengalaman hidup.

Saya menangkap satu pesan penting dari workshop sehari itu, bahwa teknologi boleh berkembang, cara menulis boleh berubah, dan medium publikasi boleh berganti. Namun, kepekaan terhadap kehidupan harus tetap dirawat. Sebab, yang membuat puisi bertahan bukan semata-mata kecanggihan cara membuatnya, melainkan kemampuannya menyentuh sesuatu yang manusiawi.

Nama-Nama yang Dipanggil, Keberanian yang Dihargai

Setelah ruang diskusi melalui workshop, tibalah saat yang selalu menghadirkan ketegangan tersendiri dalam sebuah perlombaan: pengumuman pemenang Lomba Cipta Puisi Daring 2026.

Dari karya-karya yang dikirimkan siswa SMK se-Kabupaten Polewali Mandar, dewan juri menetapkan Andira Ramadhani dari UPTD SMKN Balanipa sebagai Juara I. Posisi Juara II diraih Rahma dari UPTD SMKN Labuang, sedangkan Juara III diraih Izmi Asmulyadi dari SMK Darul Hasanah.

Untuk kategori juara harapan, Dina dari UPTD SMKN Rea Timur memperoleh Harapan I, Annisa dari UPTD SMKN 1 Polewali memperoleh Harapan II, dan Ruslan dari UPTD SMKN 1 Limboro memperoleh Harapan III.

Di balik setiap nama yang diumumkan, ada keberanian untuk mengirimkan karya. Ada waktu yang diluangkan di antara kesibukan sekolah, ada kalimat yang dicoba dan diubah, ada kemungkinan untuk menyerah, dan ada keputusan untuk tetap menyelesaikan puisi.

Penghargaan tentu penting. Ia menjadi bentuk pengakuan atas usaha dan kualitas karya. Namun, dalam kegiatan pendidikan, makna perlombaan semestinya tidak berhenti pada siapa yang membawa pulang piala atau menempati urutan pertama. Lebih jauh dari itu, perlombaan menyediakan alasan bagi siswa untuk mulai menulis, kesempatan untuk mengenali kemampuannya, dan pengalaman untuk menerima bahwa karya dapat dibaca serta ditimbang oleh orang lain.

Ada siswa yang hari itu namanya dipanggil sebagai pemenang. Ada pula peserta yang belum memperoleh penghargaan. Namun, jika kegiatan ini dikelola dengan semangat pembinaan, semuanya tetap membawa pulang sesuatu: pengalaman mencipta, kesempatan belajar, dan pengetahuan bahwa karya mereka layak diberi ruang.

Dalam proses penilaian, Sahabuddin menjadi juri pertama yang mengirimkan hasil penilaian kepada saya. Setelah itu, nilai menyusul dari M. Syariat Tajuddin, kemudian Dr. Sri Musdikawati. Urutan itu mungkin tampak sebagai catatan administratif belaka, tetapi bagi saya, ia juga bagian dari cerita di balik layar. Tentang orang-orang yang serius dengan tekun meluangkan waktu, membaca karya satu per satu, dan ikut memikul tanggung jawab agar proses penilaian berjalan sebagaimana mestinya.

Saya menyadari, dewan juri bukan sekadar nama yang dicantumkan pada poster kegiatan. Mereka adalah pembaca yang harus menimbang karya dengan kecermatan, menjaga objektivitas, dan memahami bahwa di balik setiap puisi terdapat siswa yang sedang belajar menemukan dirinya.

Sebuah Kaos, Tinta Emas, dan Kenangan yang Ingin Dipakai

Ada satu bagian kecil dari kegiatan ini yang justru menyisakan kenangan paling personal bagi saya dan itu ada pada cinderamata untuk dewan juri sekaligus narasumber.

Saya memilih kaus sablon yang saya desain sendiri. Pada kaus tersebut, saya mencantumkan nama-nama dewan juri cipta puisi, lalu menambahkan tanda tangan menggunakan tinta emas. Sederhana, tetapi saya mengerjakannya dengan perasaan yang berbeda. Ada kebahagiaan ketika sesuatu yang dirancang sendiri akhirnya menjadi benda yang bisa diberikan kepada orang-orang yang saya hormati.

Gagasan itu bukan hal baru bagi saya. Pada Perayaan Bulan Bahasa tahun sebelumnya, saya juga membuat cinderamata dalam bentuk kaus. Alasannya sederhana adalah, bahwa sertifikat biasanya disimpan di map atau dipajang di ruang tamu, sementara kaus bisa dikenakan dalam keseharian. Ia bergerak bersama pemiliknya, ikut bepergian, dan mungkin suatu hari mengingatkan kembali pada sebuah peristiwa yang pernah dirayakan bersama. Termasuk digunakan tatkala pemiliknya beribadah dan atau tengah membangun dialog intim dalam doa dengan Tuhannya.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa kaus lebih berharga daripada sertifikat. Keduanya memiliki fungsi yang berbeda. Sertifikat mencatat pengakuan, sedangkan kaus yang saya rancang ingin membawa kenangan itu keluar dari lemari dokumen, masuk ke kehidupan sehari-hari.

Ketika Bang Syariat melihatnya, terlontar ungkapan yang membuat hati saya mengembang: “Macanga tongano kambe’.”

Bagi saya, pujian itu terasa lebih dari sekadar komentar terhadap sebuah desain. Ia datang dari seseorang yang telah saya tempatkan sebagai guru, tempat saya belajar melihat pekerjaan dengan lebih sungguh-sungguh. Tentu ada kebanggaan yang muncul seketika. Namun, saya menjawab dengan nada bercanda, “Pa’balu baju a, Annangguru.” Kira-kira, saya sedang menjual baju, Guru.

Jawaban itu membawa tawa kecil, tetapi juga menyimpan kenyataan yang sederhana, betapa kegiatan membutuhkan biaya, kreativitas membutuhkan keberanian untuk mencoba, dan kerja mandiri kadang mengharuskan kita menemukan cara-cara yang tidak selalu biasa.

Pujian senada, “macanga” kembali terdengar. Kali ini dari Tammalele, yang dengan gaya khasnya menyebut, “Deeee, tau tongammo o.”

Saya tidak tahu apakah ungkapan itu lebih tepat disebut pujian, gurauan, atau dorongan agar saya terus berproses. Yang jelas, saya menerimanya sebagai semacam tenaga tambahan untuk melanjutkan pekerjaan-pekerjaan kecil yang kadang tampak sepele, tetapi bagi saya memiliki arti.

Lalu datang pula tanggapan dari sosok yang saya sapa Bunda Sri Musdikawati. Semasa kuliah, beliau merupakan salah satu dosen favorit saya. Dukungan dan apresiasinya terasa seperti angin segar bagi seseorang yang masih terus belajar, mencoba, dan mencari bentuk terbaik dari pekerjaan yang dilakukannya.

Ada kebahagiaan tersendiri ketika orang-orang yang kita hormati bukan hanya hadir sebagai narasumber atau juri, tetapi juga bersedia melihat usaha kecil yang kita kerjakan. Mereka membuat saya merasa bahwa proses belajar tidak pernah benar-benar selesai. Bahkan ketika sudah berdiri sebagai guru dan menjadi bagian dari kepanitiaan, kita tetap membutuhkan teladan, teguran, dan penguatan dari orang-orang yang lebih dahulu menapaki jalan.

Di titik itu, kaus bertinta emas tersebut menjadi lebih dari cinderamata. Ia menjadi pengingat bahwa penghargaan tidak selalu harus mahal untuk meninggalkan kesan. Terkadang, yang membuatnya berharga justru perhatian, waktu, dan kesungguhan yang menyertainya.

Mengapa Harus Selalu Mendatangkan Orang Jauh?

Dari percakapan-percakapan sederhana bersama para narasumber dan juri, saya membawa pulang sebuah pertanyaan yang terus mengendap, apakah setiap kegiatan literasi harus selalu mendatangkan orang-orang dari tempat yang jauh agar terlihat bermutu?

Saya tentu tidak sedang menafikan pentingnya menghadirkan narasumber dari luar. Pertukaran pengalaman dan perjumpaan dengan pemikiran baru sangat diperlukan. Namun, kita juga perlu melihat sumber daya yang sudah tumbuh di sekitar kita.

Di sekolah-sekolah, ada siswa yang diam-diam menulis puisi di buku catatan bergaris rapi. Ada guru yang memiliki kemampuan membimbing karya sastra dengan totalitas hati dan pikirannya. Ada komunitas yang menyimpan pengetahuan kebudayaan. Ada orang-orang yang selama ini bekerja dalam kesunyian, tetapi belum mendapatkan kesempatan untuk berbagi.

Mengapa potensi itu tidak dirawat dengan lebih serius?

Kita dapat memulai dari ruang kelas, perpustakaan sekolah, kelompok belajar, komunitas sastra, dan forum guru. Kita dapat menyelenggarakan pembacaan puisi, lokakarya kecil, diskusi karya, penerbitan antologi, atau pendampingan menulis yang dilakukan secara rutin.

Tidak semua kegiatan harus besar. Tidak semua keberhasilan harus diukur dari kemegahan panggung. Terkadang, sebuah pertemuan sederhana yang membuat seorang siswa berani membaca puisinya di hadapan teman-teman sudah merupakan pencapaian yang layak dirawat.

Bagi saya, inilah salah satu makna penting Perayaan Bulan Bahasa. Menjadi momentum penting yang menyediakan wadah bagi siswa agar potensi yang semula tersembunyi memperoleh kesempatan untuk tumbuh.

Kita tidak boleh hanya sibuk mencari siapa yang akan diundang untuk berbicara, sementara lupa menyiapkan ruang bagi anak-anak kita sendiri untuk berbicara. Kita tidak boleh terlalu bersemangat menghadirkan karya orang lain, tetapi abai mendampingi lahirnya karya dari lingkungan pendidikan kita.

Tugas guru bukan hanya menyampaikan materi dan menuntaskan kurikulum. Guru juga perlu menciptakan suasana yang memungkinkan murid berani bertanya, mencoba, salah, memperbaiki, dan menemukan kemampuannya. Dalam sastra, keberanian itu sangat penting karena menulis berarti bersedia memperlihatkan sebagian dari cara kita memandang dunia.

Literasi Tidak Berakhir Ketika Acara Selesai

Ketika seluruh rangkaian kegiatan ditutup, pekerjaan panitia belum sepenuhnya selesai. Sertifikat elektronik dikirimkan kepada peserta, guru pendamping, dan panitia melalui sistem yang telah disiapkan. Cinderamata diserahkan kepada para juri dan narasumber. Dokumentasi dikumpulkan, data dirapikan, dan pengalaman perlahan-lahan berubah menjadi ingatan.

Namun, saya percaya bahwa ukuran keberhasilan kegiatan semacam ini tidak cukup dilihat dari tertibnya administrasi, lancarnya acara, atau lengkapnya dokumentasi.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: setelah kegiatan ini, apakah siswa akan terus menulis? Apakah guru akan melanjutkan pembinaan? Apakah sekolah menyediakan ruang untuk membaca dan mendiskusikan karya? Apakah puisi-puisi yang telah terkumpul akan dirawat agar tidak berhenti sebagai berkas yang tersimpan di folder digital? Jika jawabannya belum, berarti pekerjaan kita masih panjang.

Perayaan Bulan Bahasa memang dapat kembali digelar pada tahun berikutnya. Namanya mungkin tetap sama, tetapi pengalaman seharusnya membuat penyelenggaraannya semakin matang. Kita perlu belajar dari apa yang telah berjalan baik, memperbaiki kekurangan, memperluas jangkauan, dan memastikan manfaatnya tidak berhenti pada hari pelaksanaan.

Bagi MGMP Bahasa Indonesia SMK Polewali Mandar, kegiatan ini dapat menjadi pintu masuk menuju pembinaan literasi yang lebih berkelanjutan. Lomba cipta puisi dapat dilanjutkan dengan pendampingan karya. Lokakarya dapat dikembangkan menjadi ruang belajar berkala. Guru-guru dapat saling berbagi praktik baik, sementara siswa diberi kesempatan untuk menerbitkan, membacakan, dan mendiskusikan karya mereka. Dengan begitu, perayaan tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga bagian dari ekosistem literasi sekolah.

Membaca, Belajar, dan Terus Menjadi Guru

Pada akhirnya, perjalanan ini mengingatkan saya pada sesuatu yang sering terdengar sederhana, tetapi tidak selalu mudah dijalankan, membaca adalah cara untuk terus bergerak. Melalui membaca, kita berjumpa dengan pengalaman yang tidak kita alami sendiri, pemikiran yang berbeda dari keyakinan kita, dan kemungkinan-kemungkinan yang sebelumnya tidak pernah kita bayangkan. Membaca membuat kita memiliki bahan untuk bertanya, menulis, menimbang, dan memahami.

Kebiasaan membaca tidak tumbuh hanya karena kita mengetahui manfaatnya. Ia membutuhkan niat, kesempatan, dan pengulangan. Sedikit demi sedikit, membaca dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bukan kewajiban yang terasa berat, melainkan kebutuhan untuk memperluas diri.

Begitu pula dengan menulis puisi. Kita tidak bisa hanya menunggu inspirasi datang. Kita perlu membaca, mengamati, mendengar, merasakan, mencatat, lalu mencoba menyusun pengalaman menjadi bahasa. Kita perlu bersedia menerima kritik dan memperbaiki karya. Kita juga perlu memahami bahwa satu puisi yang belum berhasil bukanlah akhir dari perjalanan kepenyairan.

Sebagai guru, saya pun masih berada dalam proses yang sama. Saya belajar mengelola kegiatan, belajar memanfaatkan teknologi, belajar membaca karya siswa, belajar menerima masukan, dan belajar memahami bahwa pendidikan tidak selalu bergerak melalui hal-hal besar. Banyak perubahan justru dimulai dari tindakan-tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Saya teringat satu rumusan yang ingin terus saya pegang, bahwa belajar adalah prioritas, sedangkan mengajar merupakan rutinitas. Bukan untuk mempertentangkan keduanya, melainkan untuk mengingatkan diri sendiri bahwa seorang guru tidak boleh berhenti menjadi pembelajar.

Mengajar tanpa terus belajar berisiko menjadikan pengetahuan sebagai sesuatu yang beku. Sebaliknya, guru yang terus belajar memiliki kesempatan untuk memperbarui cara pandang, memperbaiki pendekatan, dan memahami perubahan zaman yang dihadapi murid-muridnya.

Maka, barangkali, belajar dan mengajar memang sebaiknya berjalan beriringan sebagai rutinitas yang dijalankan dengan kesadaran untuk terus bertumbuh.

Perayaan Bulan Bahasa 2026 telah memberi saya banyak pelajaran. Tentang kerja kolektif, teknologi, sastra, penghargaan, kebudayaan, dan pentingnya memberi ruang kepada siswa. Tentang kaus sederhana yang menyimpan kenangan, tentang pujian para guru yang menguatkan langkah, dan tentang puisi-puisi yang mungkin masih akan tumbuh jauh setelah lombanya selesai.

Saya ingin percaya bahwa suatu hari nanti, di antara siswa yang mengikuti kegiatan ini, akan ada yang kembali menulis ketika dewasa. Ada yang menjadi guru, penulis, seniman, atau sekadar pembaca yang setia. Ada pula yang mungkin tidak pernah memenangkan lomba, tetapi menemukan bahwa membaca dan menulis telah membantunya memahami kehidupan.

Jika itu terjadi, maka perayaan ini tidak benar-benar selesai pada 22 Oktober 2026. Ia akan terus hidup di dalam kebiasaan membaca, di dalam keberanian menulis, di dalam guru yang sabar membimbing, dan di dalam siswa yang akhirnya percaya bahwa suaranya layak didengar.

Sebab, mengukuhkan tradisi bukan berarti membekukan masa lalu. Merayakan otentisitas bukan berarti menolak teknologi. Keduanya justru mengajak kita menemukan cara agar pengetahuan, bahasa, dan kebudayaan tetap hidup di tengah perubahan.

Dan selama masih ada anak-anak yang ingin menulis, guru yang bersedia mendampingi, serta ruang yang terbuka untuk karya, saya percaya literasi akan selalu menemukan jalannya.

Nauwakke’ di’e tulisan e, dengan Bismillah. Tulisan ini saya tutup dengan Bismillah. Ya dengan menyebut nama Allah. Sebagai pengingat bahwa setiap pekerjaan, sekecil apa pun, patut dimulai dengan niat baik dan dilanjutkan dengan kesungguhan dan tetap ditutup dan disudahi dengan nama Sang Maha Baik.

Sebab, pada akhirnya, yang ingin kita wariskan bukan hanya sebuah perayaan, melainkan kebiasaan untuk terus belajar, keberanian untuk terus berkarya, dan keyakinan bahwa setiap anak memiliki kemungkinan untuk tumbuh menjadi dirinya sendiri.

Membaca adalah jalan untuk terus melangkah. Menulis adalah cara merawat pengalaman. Dan mengajar, pada hakikatnya, adalah kesediaan untuk terus belajar bersama kehidupan.


*Penulis: Supriadi, S.Pd., Guru SMKS Suparman Wonomulyo, Aktiv dalam Berbagai Forum Diksusi Pendidikan dan Pergerakan Sastra dan Literasi Budaya

REDAKSI

Koran Online TAYANG9.COM - "Menulis Gagasan, Mencatat Peristiwa" Boyang Nol Pitu Berkat Pesona Polewali Sulbar. Email: sureltayang9@gmail.com Gawai: +62 852-5395-5557

Recent Posts

KNTI dan ITBM Helat Pelatihan Pemasaran Produk Lokal Perempuan Nelayan di Desa Laliko

POLMAN, TAYANG9 — Produk lokal perempuan nelayan Desa Laliko, Polewali Mandar, didorong menembus pasar digital…

12 jam ago

Pemkab Mamuju Tengah Ajukan Dukungan Rp66,2 Miliar per Tahun untuk Percepatan Revitalisasi Sekolah

MATENG, Tayang9.com – Pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah mengajukan dukungan afirmasi kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan…

1 hari ago

Pembatasan BBM di Polewali Dievaluasi, Pengelola SPBU Diingatkan Patuhi Aturan

POLMAN, TAYANG9 – Kapolsek Polewali IPTU Syahrul, S.H., M.H., bersama Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan…

1 hari ago

103 Peserta Ikuti Pelatihan Disiplin dan Bela Negara di Kodim 1402/Polman

POLMAN, Tayang9 – Sebanyak 103 peserta dari lingkungan BUMN, BUMD, dan sejumlah lembaga di Kabupaten Polewali…

2 hari ago

Pemetaan Tenurial, Upaya Pemenuhan Hak Nelayan Tradisional

POLMAN, TAYANG9 – Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Kabupaten Polewali Mandar melaksanakan pemetaan partisipatif tenurial…

4 hari ago

Peduli Dampak Kabut Asap, Sat Lantas Polres Polman Bagikan Masker kepada Pengguna Jalan

POLMAN, Tayang9 – Satuan Lalu Lintas (Sat Lantas) Polres Polewali Mandar membagikan masker kepada pengguna jalan…

4 hari ago