Categories: ABDUL MUTTALIBKOLOM

Agustusan

Anak-anak terlihat girang, para ibu justru terlihat gelisah dan bapak-bapak bisanya hanya senyum-senyum. Inilah gambaran singkat rumitnya menyiapkan riasan, kostum dan bekal makanan sesaat hendak mengikuti acara pawai dan ragam lomba tujuh belas di bulan Agustus.

Kemerdekaan ternyata tak hanya butuh disyukuri tapi harus dilanjutkan perjuangannya. Minimal berjuang agar riasan anak tidak sampai luntur saat pawai diarak keliling kampung, aneka kostum tidak boleh ada yang tertukar, harus lengkap dan cocok dengan hiasan becak, bentor dan mobil bak terbuka yang akan digunakan.

Keceriaan bulan Agustus isyaratkan bahwa kemerdekaan harus ditopang kreativitas. Minimal kreativitas yang tercermin atas ragam gelaran lomba tujuh belasan.

Lomba makan kerupuk misalnya, masih berada di posisi teratas. Mungkin karena lewat kerupuk, secara singkat-mengajari agar tidak sampai “bermental kerupuk.”

Kerupuk yang gampang dipecah dan mudah masuk angin alias melempem. Olehnya itu harus dilawan dengan kecepatan gigitan, meski dilemanya “kerupuk sangat rendah di gizi, tapi sangat ramai di mulut,” kata Prie GS. Beda lagi dengan lomba karung. Lomba yang mengutamakan kemampuan berlari tapi terkadang tak tentu arah.

Banyak yang bergegas tapi lupa jika kakinya dililit karung. Inilah dilema jika maunya terus berlari tapi lupa menetapkan tujuan. Karena bangsa yang besar tidak melulu harus berpacu, berlari dan mengejar impian yang tak jelas tujuannya.

Ingin cepat kaya, ingin cepat meraih jabatan sama artinya dengan kecepatan tanpa tujuan.

Bayangkan jika semua ingin jadi pemimpin, lalu siapa lagi yang mau dipimpin? Inilah dilema kecepatan.
Bukankah “kesadaran adalah matahari, kesabaran adalah bumi,” ujar WS Rendra. Kesabaran yang setidaknya dapat diraih dari lomba memasukkan pensil ke dalam botol.

Lomba memasukkan pensil adalah pelajaran melambat, tapi jelas tujuannya untuk memasukkan pensil ke dalam botol, meski dengan hanya membelakangi botol.
Sepertinya seremoni pawai dan ragam lomba tujuh belasan Agustus harus dirawat, dilestarikan bahkan kalau perlu terus ditradisikan di tiap tahunnya.

Dirawat dengan memantaskan diri di depan cermin, agar tidak melulu jadi bangsa pesolek sebatas seremoni pawai dan lomba Agustusan semata. Ragam lomba yang harus terus dilestarikan dan ditradisikan, karena tidak hanya mengajari soft skill, tapi ikut menawarkan nilai falsafi kehidupan bahwa “perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata,” lanjut WS Rendra.

Merdeka…

ABDUL MUTTALIB

pecinta perkutut, tinggal di Tinambung

Recent Posts

Antisipasi Gangguan Kamtibmas di Area Publik, Polisi Gelar Patroli di Pasar Campalagian

POLMAN, TAYANG9 – Personel Polsek Campalagian melaksanakan patroli siang dan monitoring di sejumlah tempat umum,…

2 jam ago

Bhabinkamtibmas Polewali Tindaklanjuti Aduan Warga Terkait Kebisingan Gedung Walet

POLMAN, TAYANG9 – Bhabinkamtibmas Kelurahan Polewali, Polsek Polewali, melaksanakan kegiatan sambang sekaligus menindaklanjuti aduan masyarakat…

3 jam ago

Patroli Siang Hari, Sat Lantas Polres Polman Sasar Titik Rawan Laka dan Balapan Liar

POLMAN, TAYANG9 — Satuan Lalu Lintas (Sat Lantas) Polres Polewali Mandar kembali menggelar patroli dan…

1 hari ago

Dua Rumah di Botto Campalagian Ludes Terbakar, Kerugian ditaksir Capai Rp850 Juta

POLMAN, TAYANG9 – Dua rumah di Dusun Botto, Desa Botto, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar,…

1 hari ago

Sambut Pembangunan Jembatan Garuda, Pelajar di Bulubawang Sampaikan Terima Kasih Ke Presiden

POLMAN, TAYANG9 – Rasa syukur dan harapan baru dirasakan para pelajar di Dusun Bulubawang, Desa…

1 hari ago

Gotong Royong TNI dan Warga, Pembangunan Jembatan Perintis Garuda di Bulubawang Terus Dikebut

POLMAN, TAYANG9 – Pembangunan Jembatan Perintis Garuda di Dusun Bulubawang, Desa Patampanua, Kecamatan Matakali, Kabupaten…

2 hari ago