SETIAP Minggu pagi, kawasan Stadion Prasamya berubah menjadi ruang hidup masyarakat. Orang-orang datang dari berbagai wilayah di Majene hingga daerah Tinambung untuk berjalan kaki, berlari kecil, senam, bercengkerama bersama keluarga, hingga menikmati jajanan kuliner dari pelaku UMKM. Aktivitas itu dikenal dengan istilah CFD atau Car Free Day hari dimana ruang jalan seharusnya dikembalikan kepada manusia, bukan kepada kendaraan.
Pemandangan ini sesungguhnya menjadi wajah yang indah bagi Majene sebagai Kota Pendidikan dan Kota Tua yang kaya nilai budaya. CFD bukan hanya tentang olahraga, tetapi tentang perubahan pola hidup masyarakat menuju budaya sehat. Dalam teori kesehatan modern, aktivitas fisik seperti berjalan kaki dan berlari terbukti meningkatkan kesehatan jantung, memperkuat otot, memperbaiki metabolisme tubuh, serta mengurangi risiko penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, dan obesitas. Bahkan secara psikologis, olahraga pagi mampu meningkatkan hormon endorfin yang membantu mengurangi stres dan tekanan mental akibat rutinitas pekerjaan.
Secara ilmiah, ruang publik seperti CFD juga memiliki fungsi sosial. Ahli sosiologi perkotaan menyebut ruang publik sebagai tempat terbentuknya interaksi sosial yang sehat. Ketika masyarakat berkumpul tanpa sekat status sosial, maka lahir rasa kebersamaan, empati, dan solidaritas. Anak-anak dapat bermain dengan aman, orang tua bisa berjalan santai, pedagang kecil memperoleh penghasilan, dan masyarakat memperoleh ruang rekreasi murah yang menyehatkan.
Namun di balik semangat sehat itu, terdapat kenyataan yang mengganjal pikiran dan nurani. Area yang seharusnya bebas kendaraan ternyata masih dipenuhi motor dan mobil yang melintas bebas. Bahkan ada pengendara yang melaju dengan kecepatan tinggi di tengah keramaian orang berjalan dan berlari. Ironisnya, jalan yang dinamakan Car Free Day justru kadang berubah menjadi ruang bebas kendaraan melintas tanpa kesadaran.
Fenomena ini menunjukkan adanya kontradiksi antara sehat raga dan sehat jiwa. Tubuh mungkin datang untuk olahraga, tetapi kesadaran sosial belum sepenuhnya hadir. Dalam psikologi sosial, perilaku seperti ini disebut sebagai ego centered behavior, yaitu tindakan yang lebih mengutamakan kepentingan pribadi dibanding keselamatan dan kenyamanan bersama. Orang ingin cepat lewat, ingin mudah mencapai tujuan, tetapi lupa bahwa di sekitarnya ada anak kecil, lansia, dan masyarakat yang sedang menikmati haknya atas ruang aman.
Lebih menyedihkan lagi, ketika terjadi potensi kecelakaan, pertanyaan tentang siapa yang salah menjadi kabur. Pengendara mungkin berdalih bahwa tidak ada papan penanda jelas, tidak ada penjagaan ketat, atau akses jalan masih terbuka. Alasan itu secara logika memang dapat dipahami. Tetapi pada titik ini, persoalannya bukan hanya tentang aturan, melainkan tentang kesadaran kemanusiaan.
Sebab manusia yang sehat bukan hanya manusia yang kuat raganya, tetapi juga sehat cara berpikirnya. Orang yang memiliki empati tidak akan tega memacu kendaraan di tengah kerumunan pejalan kaki. Orang yang waras secara sosial akan memahami bahwa keselamatan orang lain lebih penting daripada kepentingan pribadi sesaat.
Dalam teori etika sosial, ruang publik memerlukan tiga unsur penting: aturan, pengawasan, dan kesadaran masyarakat. Ketika salah satu unsur hilang, maka ketertiban akan mudah runtuh. Karena itu, Pemerintah Kabupaten Majene seharusnya melihat CFD bukan sekadar kegiatan mingguan biasa, melainkan investasi sosial dan kesehatan masyarakat. CFD memiliki dampak besar: masyarakat menjadi lebih sehat, hubungan sosial semakin erat, UMKM tumbuh, ekonomi rakyat bergerak, dan citra kota menjadi positif.
Karena itu, pengelolaan CFD harus dilakukan lebih serius. Penutupan jalan perlu jelas di semua titik masuk, papan penanda harus terlihat, pengawasan petugas mesti hadir, dan edukasi kepada masyarakat harus dilakukan terus-menerus. CFD tidak boleh hanya menjadi simbol acara, tetapi benar-benar menjadi kawasan aman bagi pejalan kaki dan pelari.
Namun di atas semua aturan itu, yang paling penting tetaplah kesadaran manusia. Sebab sebanyak apa pun papan larangan dipasang, jika ego lebih besar daripada rasa kemanusiaan, maka aturan akan selalu dilanggar.
Kita semua tentu ingin sehat raga. Tidak ada orang yang ingin sakit. Tetapi sehat raga tanpa sehat jiwa hanya akan melahirkan manusia yang kuat tubuhnya, namun lemah rasa pedulinya. Padahal hidup bermasyarakat membutuhkan saling menghargai, saling perhatian, dan saling menjaga keselamatan sesama.
CFD sesungguhnya bukan hanya tentang bebas kendaraan. CFD adalah latihan kecil tentang bagaimana manusia belajar hidup bersama dengan tertib, peduli, dan beradab. Karena pada akhirnya, kesehatan sejati bukan hanya ketika tubuh mampu berlari jauh, tetapi ketika hati dan pikiran mampu memahami bahwa ruang hidup ini juga milik orang lain.
Mandar, 24 Mei 2026
APA sebenarnya makna Hari Buku bagi generasi hari ini? Apakah ia hanya sebatas tanggal peringatan…
DI penghujung kegiatan Workshop Talenta Bahasa dan Sastra, suasana ruangan sebenarnya terlihat biasa saja. Para…
MATENG, Tayang9.com – Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Mamuju Tengah melalui Bidang Komunikasi terus…
PADA penghujung sebuah kegiatan Workshop Bahasa dan Sastra di Taman Budaya dan Museum UPT Taman…
UNGKAPAN “Asal sehat jiwa raga, faham, bisa dan mengerti baca tulis, menulislah” merupakan sebuah seruan…
TUTTU' rawana dalam masyarakat Mandar bukan sekadar bunyi pukulan rebana, melainkan jejak panjang peradaban spiritual…