POLMAN, TAYANG9 – Seminar bertajuk Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi yang digelar di Hotel Ratih menghadirkan gagasan segar tentang peran agama di tengah masyarakat, Sabtu (04/10/2025).
Sekretaris Jenderal Kementerian Agama (Kemenag) RI, Kamaruddin Amin, menekankan bahwa agama tidak cukup dipahami sebagai ritual, tetapi harus hadir dalam aksi nyata: memberdayakan masyarakat, menjaga lingkungan, dan mempererat kerukunan.
“Rumah ibadah tidak hanya sebagai tempat ibadah, tapi juga pusat musyawarah, pusat kepedulian sosial, bahkan pusat pemberdayaan,” ujar Kamaruddin.
Menurutnya, ukuran keberhasilan agama bukan sekadar ramainya jamaah di masjid atau gereja yang penuh pada hari ibadah, melainkan sejauh mana umatnya menumbuhkan kepedulian sosial.
“Jika tetangga kelaparan, anak putus sekolah, orang miskin tidak dipedulikan sementara orang kaya ada di sampingnya. Generasi tidak bisa baca-tulis Al-Qur’an, sementara di sebelahnya ada sarjana, semua itu adalah kegagalan memahami Agama,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa beragama memang bersifat individual, tetapi tanggung jawab sosial adalah bagian tak terpisahkan. Agama, katanya, harus mampu melahirkan solidaritas nyata, memberi bantuan finansial, meningkatkan literasi, hingga memastikan masyarakat sekitar bisa hidup bermartabat.
Kamaruddin juga mengaitkan visi beragama dengan ekoteologi, yakni kepekaan terhadap lingkungan. “Ekoteologi bukan sekadar filosofi. Sudah saatnya kita melangkah ke aksi nyata. Pengantin diajari menanam, anak-anak diperkenalkan cinta lingkungan sejak dini,” ujarnya.
Ia mencontohkan sistem pendidikan di Jepang, di mana siswa tidak hanya belajar teori, tetapi juga dilatih membersihkan kelas dan lingkungan sekolah tanpa bantuan petugas kebersihan.
“Mereka diajari moral education: mencintai diri sendiri, mencintai orang lain, dan mencintai lingkungan. Ini dampaknya luar biasa,” katanya.
Cinta, menurut Kamaruddin, adalah dasar dari seluruh nilai. Cinta pada diri sendiri berarti jujur, menjaga harga diri, disiplin, dan berprestasi. Cinta pada orang lain berarti menghormati, respek, dan mau membantu. Sementara cinta pada lingkungan berarti membersihkan, bukan mengotori.
“Konsep cinta ini jika ditanamkan sejak kecil, akan melahirkan generasi yang bukan hanya beriman, tapi juga peduli. Dari sinilah tumbuh cinta kepada Tuhan yang sejati,” ujarnya.
Selain itu, Kamaruddin menyoroti pentingnya pemberdayaan ekonomi umat. Kemenag punya 8 program, akan terus mendorong rumah ibadah menjadi lebih produktif, tidak hanya sebagai ruang ibadah, tetapi juga sebagai pusat penguatan ekonomi dan literasi umat***
POLMAN, TAYANG9 - Mandar Culture Festival 2026 resmi diluncurkan melalui press conference dan soft launching…
Mateng, Tayang9.com — Gubernur Sulawesi Barat, Suardi Duka, kembali melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Mamuju…
POLMAN, TAYANG9 — Pengecatan rumah ibadah menjadi salah satu sasaran tambahan dalam pelaksanaan program TNI…
SUMARORONG, TAYANG9 - SMKN 1 Sumarorong menggelar Seminar Hasil Praktik Kerja Lapangan (PKL) sebagai bagian…
POLMAN, TAYANG9 — Program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-127 Kodim 1402/Polman yang memasuki hari…
POLMAN, TAYANG9 — Memasuki hari ke-12 pelaksanaan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-127 Kodim 1402/Polman,…