Categories: GAGASANOPINI

Jangan Permalukan Kiyaiku, Ya Allah…

Penulis: Hamzah Ismail

MENJELANG hari ‘H’ pelaksanaan gawean MTQ XI Polewali Mandar 2026, langit di atas Kecamatan Tinambung seperti punya kehendak sendiri. Hari-hari sebelumnya, hujan turun hampir tanpa jeda, kadang rintik yang lembut, kadang deras yang seolah ingin menguji kesiapan siapa saja yang sedang menata panggung perhelatan akbar itu.

Tim Kerja Tuan Rumah MTQ XI, mulai diliputi kegelisahan. Bukan karena mereka tidak siap secara teknis, tenda telah berdiri, panggung utama—Panggung Loka Tira’ telah dihias, sound system telah diuji berkali-kali, tetapi karena satu hal yang tak bisa ditaklukkan oleh manusia: cuaca.

Kadang, hujan tidak mau kompromi.

Dalam kegelisahan itu, dua hari sebelum pembukaan, beberapa orang dari tim tuan rumah, dipimpin oleh Camat Tinambung, Rifai Husain, mengambil jalan yang tidak biasa, tapi justru paling mereka yakini: mendatangi seorang ulama. Seorang tokoh spiritual yang namanya tidak asing di tanah Mandar. Seorang yang dikenal bukan hanya karena ilmunya, tapi juga karena kedalaman batinnya, ia seorang sufi.

Mereka datang ke Kiyai-nya bukan membawa proposal, bukan pula membawa permohonan administratif. Mereka datang membawa harap.

Pada hari Jumat siang, tepat sebelum pembukaan, sang Kiyai hadir langsung di area venue. Tidak banyak kata yang diucapkan. Tidak ada ritual yang berisik. Doa-doa dilantunkan dalam diam, seperti percakapan sunyi antara hamba dan Tuhannya.

Dan memang benar…

Malam pembukaan berlangsung aman. Langit seperti menahan dirinya. Tidak ada hujan. Tidak ada angin kencang. Semua berjalan sebagaimana mestinya. Panitia mulai bernapas lega. Keyakinan mereka bertambah, bahwa doa sang Kiyai telah mengetuk sesuatu yang tak kasatmata.

Masuk malam kedua, suasana semakin hidup. Pengunjung memadati area venue utama. Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an menggema, bersahut-sahutan dengan tepuk tangan yang penuh takzim. Hingga pukul sembilan malam, langit masih bersahabat. Namun, seperti kisah yang selalu menyimpan ujian di tengah keyakinan, tepat sekira pukul sepuluh malam, hujan mulai turun. Awalnya rintik. Lalu perlahan menjadi lebih deras.

Sebagian panitia saling berpandangan. Ada yang menarik napas panjang. Ada yang menengadah, seolah ingin memastikan–benarkah ini hujan, atau hanya kekhawatiran yang menjelma nyata?

Namun yang terjadi di luar dugaan: pengunjung tidak bergeming. Mereka tetap duduk di bawah tenda. Sebagian merapatkan jaket, sebagian lagi hanya menengadah sesaat lalu kembali fokus ke panggung. Seolah-olah hujan bukan gangguan, melainkan bagian dari suasana. Lantunan ayat suci tetap mengalir, bahkan terasa lebih syahdu, seperti diselimuti irama air yang jatuh dari langit.

Pada malam ketiga kegiatan perlombaan di area Panggung Loka Tira’, angin berembus agak kencang, membawa dingin yang menusuk kulit, seakan menjadi isyarat bahwa hujan akan turun. Di tengah suasana itu, di sudut yang tak banyak diperhatikan orang, seorang dari tim tuan rumah duduk sendiri di bawah tenda. Ia adalah murid dari sang Kiyai. Tak seorang pun tahu apa yang berkecamuk di dalam hatinya. Ia menunduk, matanya terpejam, hatinya bergetar.

Lalu, pelan-pelan, dalam sunyi yang hanya ia dan Tuhannya yang tahu, ia berdoa (membatin):

“Ya Allah… mohon jangan permalukan Kiyaiku…
Jangan Engkau biarkan doa-doanya seolah tak didengar…
Jika hujan ini adalah kehendak-Mu, aku ridha…
Tapi jika Engkau berkenan…
Tahanlah ia…
Tunda ia…
Sampai malam terakhir perhelatan ini selesai…
Demi menjaga kehormatan seorang guru yang telah mengajarkan kami berharap hanya kepada-Mu…”

Dan memang benar, pada malam ketiga itu, langit yang gelap, disertai embusan angin dingin yang menusuk. Namun: hujan benar-benar tidak turun. Kegiatan perlombaan malam ketiga kembali lebih hidup. Semoga, sampai pada malam penutupan (15/4), hujan mau berdamai.

Tinambung, 14 April 2026

REDAKSI

Koran Online TAYANG9.COM - "Menulis Gagasan, Mencatat Peristiwa" Boyang Nol Pitu Berkat Pesona Polewali Sulbar. Email: sureltayang9@gmail.com Gawai: +62 852-5395-5557

Recent Posts

Balap Motor Taksi di Desa Tumpiling Resmi Dibuka, Polisi Siaga Amankan Jalannya Lomba

POLMAN, TAYANG9 – Personel Polsek Urban Wonomulyo melaksanakan pengamanan pada pembukaan perlombaan balap motor taksi…

10 jam ago

ASN Lapas Kelas IIB Polewali, Muh. Fadhil Taswin Raih Juara Harapan II MTQ KORPRI Nasional 2026

POLMAN, TAYANG9 - Kafilah Sulawesi Barat, Muh. Fadhil Taswin, menorehkan prestasi pada Musabaqah Tilawatil Quran…

11 jam ago

Kapolsek Tinambung Pimpin Pengamanan Pembukaan Turnamen Sepak Bola Piala Ketua DPRD Polman

POLMAN, TAYANG9 – Kapolsek Tinambung AKP Ramli, S.Sos., M.Si. memimpin langsung pengamanan pembukaan Turnamen Sepak…

12 jam ago

Kebakaran Lahan di Desa Beroangin, Damkar dan Satgas Karhutla Terkendala Medan

POLMAN, TAYANG9 - Kebakaran melanda lahan perkebunan kakao milik warga di Desa Beroangin, Kecamatan Mapilli,…

12 jam ago

Pertama di Luar Sulsel, Browcyl Buka Outlet di Polman, 900 Produk Ludes dalam Hitungan Jam

POLMAN, TAYANG9 – Browcyl resmi membuka outlet pertamanya di luar Sulawesi Selatan yang berlokasi di…

20 jam ago

Karhutla Jadi Perhatian, Pemkab Polman Bersama TNI-Polri Tingkatkan Kesiapsiagaan

POLMAN, TAYANG9 - Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar bersama TNI, Polri dan sejumlah instansi terkait memperkuat…

2 hari ago