KACO meppalingutti manduru’i tumayung ra’bas dio di boco’na. Cicci sejak tengah malam tadi, tampak masih duduk bersimpuh di atas sajadah. Air matanya tumpah membasahi cipo’ yang juga dikenakan di lima kali bulan ramadan yang lampau.
Dalam do’a ia menangis, bukan soal cipo’ panno tambal yang Kaco tak kunjung mampu membelikannya. Tapi ini soal ramadan dalam kegundahan hati. Tak ada ziarah dan tak ada kepulangan tetangganya.
Kali ini ramadan dan korona adalah dua hal yang harus dijalani Kaco dan Cicci sebagai ketetapan kuasa pungallahu ta’ala.
Kaco bangun, Cicci menyeka air matanya, doa ramadan pertama tuntas sudah, sejurus kemudian Cicci berkelebat menuju lapurang dan menit berikutnya keduanya sama duduk di atas latte’ mambaca pa’doangan di depan doayu woyo’ dan bau mara’e. Belum tuntas doanya, adzan subuh berkumandang, keduanya hanya bisa menatap hidangan di atas kappar bermotifkan kembang kuning merah dan biru.
Puasa pertama genap sudah, tanpa sahur dan dengan ketakutan korona. Namun terasa indah dengan doa-doa menuju langit yang melebihi asap bau mara’e sore jelang magrib sebelumnya. [mst]
ADA satu adegan yang terus terngiang setelah final Piala Dunia 2026 usai kemarin. Bukan gol…
POLMAN, TAYANG9 – Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Polewali Mandar bekerja sama dengan Institut Teknologi…
Jakarta,Tayang9—Kementerian Agama kembali menggelar rutinitas Breakfast Meeting. Kali ini mengulas tentang Persiapan Implementasi Manajemen Talenta,…
Mateng, Tayang9.com – Usai menuntaskan agenda pemerintahan di Jakarta, Bupati Mamuju Tengah, Arsal Aras, langsung…
Mateng, Tayang9.com – Pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah melalui Dinas Sosial menyalurkan bantuan kepada korban kebakaran…
MUSIK merupakan salah satu bentuk ekspresi manusia yang tidak hanya menghadirkan pengalaman estetis, tetapi juga…