KACO di perjalanan dari umanna nalili-lili omas karae’ massoppo sappong ponna loka. Saat itu panas terik masih memanggang. Cicci di lapurang sibuk mappapia atupe’ nabi. Lagu dangdut koplo dari rumah tetangga memekik memekakkan gendang telinga Cicci, namun nada shalawat jauh di dalam dadanya bergetar dan berdenyar. Setiba di rumahnya, Kaco yang sappu omas menaiki anak tangga rumahnya mendekati Cicci di lapurang dan berbisik. “Jangan terganggu dengan pekik lagu dangdut koplo itu, tapi fokuslah pada atupe’ nabi dan shalawatmu itu. Biarlah lagu dangdut itu, saya saja yang menikmatinya kindo’na. tapi maloloi mua’a siola kopi”, ucap Kaco dalam nada pelan merajut minta dibuatkan kopi untuk menemaninya menyongsong acara maulid yang akan dilangsungkan keesokan harinya’ di masigi kappunna. [mst]
Majene, tayang9.com — Kartini Manakarra menggelar kegiatan nonton bareng dan bedah film Marlina Si Pembunuh…
DALAM sejarah perkembangan Islam di Tanah Mandar, nama To Salama' Syekh Abdul Mannan menempati posisi…
NOVEL Asmaraloka (1999) karya Danarto merupakan salah satu karya sastra Indonesia modern yang paling mengaburkan…
SALAH satu bagian paling problematis dalam rancangan perda ini adalah pembentukan Dewan Kebudayaan Daerah. Secara…
BEBERAPA hari yang lalu saya membaca sebuah unggahan di media sosial yang membahas tentang perbandingan…
PASCA Hiroshima dan Nagasaki, Jepang tidak hanya membangun kembali gedung-gedung yang hancur. Mereka juga membangun…