Categories: BERITAFEATURE

Bertandang ke Desa Adat Sade Lombok Tengah

SEBAGAI salah satu desa adat sekaligus bukti kekayaan nusantara, Desa Sade adalah desa yang dihuni oleh warga Suku Sasak. Desa Sade berada di Lombok Tengah Bagian Selatan ini, kini masih begitu setia bertahan kokoh di dalam belit pintal tradisinya di tengah gempuran kemoderenan.

Sade sendiri dalam bahasa Sasak artinya obat atau bisa juga kesadaran. Suku sasak hingga kini masih setia memegang erat sikap gotong royong. Termasuk saat ada acara adat atau warga mendirikan rumah mereka tak perlu mengeluarkan uang satu sen pun.

Dalam tradisi suku sasak di Desa Sadek melamar anak Gadis dianggap sebagai pelecehan atau tidak menghargai. Sebab adat Sasak bila ingin menikah anak gadis, maka para lelaki akan menculik atau melarikan anak gadis untuk kemudian dinikahkan.

Sedangkan anak gadis dianggap layak nikah apabila sudah mahir dalam memintal benang dan menenun kain.

Siang hari para lelaki, selain menjadi pemandu di perkampungan adat suku sasak di Desa Sadek juga sama halnya tempat lain mereka kembali berladan atau berkebun. Sementara para perempuan selain mengurus urusan dapur, mereka juga menghabiskan waktu menenun.

Di perkampungan adat Suku Sasak di Desa Sadek tinggal sekitar 150 kepala keluarga atau sekitar 700 jumlah jiwa dan mereka hanya akan menikah dengan keluarga terdekat dalam rumpun keluarganya. Para gadis atau laki tetap bisa menikah dengan orang dari luar adat dengan Mahar (sorong serah ajik rame) tiga ekor kerbau.

Untuk sampai ke desa ini, dari bandara Lombok hanya perlu menempuh jarak sejauh lima kilo meter atau sekitar tujuh hingga 10 menit jarak tempuh.

Uniknya masuk di perkampungan adat desa sadek para wisatawan tak dikenai tarif masuk. Wisatawan hanya perlu bayar tarif seikhlasnya untuk biaya pemeliharaan perkampungan adat yang telah berusia amat panjang itu.

Dan setiap wisatawan boleh menggunakan jasa pemandu ataupun tidak dan tarifnya juga seikhlasnya. Hanya saja pemandu sangat dibutuhkan untuk tahu setiap detail tentang desa sadek.

BASRI DIMO

Selain aktif menulis, anggota muda kelompok pecinta alam Kalpataru Sulbar yang alumnus Fisip Unasman ini juga gandrung pada kesusasteraan dan soal-soal kemanusiaan

Recent Posts

Spanyol “La Masia”  dan Taman Budaya Mandar dan Museum Sulawesi Barat

ADA satu adegan yang terus terngiang setelah final Piala Dunia 2026 usai kemarin. Bukan gol…

12 jam ago

Perkuat Ekonomi Nelayan dan Perempuan Pesisir Polman, KNTI dan ITBM Gelar FGD Peluang Bisnis Adaptif

POLMAN, TAYANG9 – Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Polewali Mandar bekerja sama dengan Institut Teknologi…

13 jam ago

Menag Perkuat Sistem Merit, Manajemen Talenta Jadi Kunci Pengembangan SDM Kemenag

Jakarta,Tayang9—Kementerian Agama kembali menggelar rutinitas Breakfast Meeting. Kali ini mengulas tentang Persiapan Implementasi Manajemen Talenta,…

16 jam ago

Usai Tugas di Jakarta, Bupati Arsal Aras Kembali ke Mamuju Tengah dan Nobar Final Piala Dunia Bersama Ribuan Warga

Mateng, Tayang9.com – Usai menuntaskan agenda pemerintahan di Jakarta, Bupati Mamuju Tengah, Arsal Aras, langsung…

2 hari ago

Pemkab Mamuju Tengah Salurkan Bantuan bagi Korban Kebakaran di Desa Kabubu

Mateng, Tayang9.com – Pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah melalui Dinas Sosial menyalurkan bantuan kepada korban kebakaran…

2 hari ago

Musik dan Psikologi dalam Pengembangan Kognitif Talenta Muda

MUSIK merupakan salah satu bentuk ekspresi manusia yang tidak hanya menghadirkan pengalaman estetis, tetapi juga…

3 hari ago