Categories: GAGASANOPINI

Analisis Interseksionialitas Tokoh Puang Cadzia dalam Cerita Mandar I Kauseng: Kajian Lapisan Makro, Meso, dan Mikro

Oleh: Humaerah Nur’izzatinnisa*

Sinopsis Cerita Lokal Tragedi I Kauseng

Puang Cadzia adalah istri Pa’bicara Balanipa bernama Puang Gamma’. Dalam kesehariaannya Puang Cadzia akrab dipanggil Pa’bicara Towaine. Pasangan Pa’bicara Puang Gamma’ – Puang Cadzia memiliki anak bernama I Kauseng. Puang Gamma sendiri menjabat sebagai Pa’bicara Kayyang Balanipa sekitar tahun 1885.

Suatu ketika, Kauseng terjerumus dalam perkara pembunuhan terhadap seorang pemuda yang menjadi sumber kecemburuannya. Perempuan yang dicintainya ternyata memilih pemuda tersebut, membuat Kauseng larut dalam gelapnya cinta yang tak terkendali hingga merenggut nyawa orang lain. Peristiwa itu segera diketahui warga. Kauseng pun diburu dan diancam hukuman mati. Dalam pelariannya, ia berhasil lolos karena memasuki wilayah rumah pemangku adat.

Dalam hukum adat Balanipa, siapa pun, bahkan pelaku pembunuhan yang telah berada di lingkungan rumah pemangku adat memperoleh perlindungan hukum, terlebih jika berkaitan dengan kedudukan Pa’bicara Kayyang. Hal ini sejalan dengan pappasang: Mua muitami balimbunganna ada’, tuomo tammate (Jika engkau telah melihat bubungan rumah adat, engkau hidup dan terbebas dari hukuman mati).

Karena itu, warga yang mengejar Kauseng terpaksa menerima kenyataan bahwa perkaranya dapat dideponir berdasarkan kesepakatan Odi Ada’ Odi Beasa. Kauseng dianggap telah memasuki wilayah pengampunan adat, zona yang menjamin keselamatan siapa pun tanpa kecuali, sehingga tak ada lagi dasar bagi warga maupun adat untuk menjatuhkan hukuman.

Dalam posisi tersebut, nyawa Kauseng seharusnya terselamatkan. Puang Gamma’ sebagai Pa’bicara Kayyang, bersama warga, terikat untuk tunduk pada hukum adat yang telah berlaku sejak masa Todilaling. Namun, takdir berkata lain. Puang Cadzia, ibu Kauseng, tampil menyampaikan pernyataan tegas dan mengguncang: putranya tidak berada dalam zona pengampunan adat, melainkan di rumah orang tuanya sendiri. Kauseng tidak mencari perlindungan ke rumah adat, tetapi pulang ke rumah ayah dan ibunya.

Atas dasar itu, Puang Cadzia menolak segala bentuk deponir perkara. Baginya, menegakkan hukum jauh lebih utama daripada mempertahankan nyawa seorang anak. Lebih baik kehilangan putra daripada meruntuhkan kepastian dan kewibawaan hukum adat. Keputusan tersebut membuat Puang Gamma’ dan warga tak mampu membantah. Puang Cadzia lalu merangkul Kauseng, membaringkan tubuh anaknya di pangkuannya, dan demi tegaknya hukum, mengeksekusi putra kandungnya sendiri. Kauseng menghembuskan napas terakhir dalam pelukan ibunya.

Kisah tragis ini kerap diceritakan oleh Baharuddin Lopa (Barlop) dalam berbagai kesempatan. Tragedi Kauseng dan keteguhan Puang Cadzia diyakini menjadi salah satu sumber inspirasi yang menempa Barlop sebagai pendekar hukum di negeri ini. Selain itu, pada era 1990-an, Amru Sadong, salah satu pendiri Teater Flamboyan Mandar mengangkat kisah ini ke dalam naskah teater berjudul I Kauseng yang dipentaskan di berbagai forum, baik di Mandar maupun di luar daerah.

Puang Cadzia tidak berdiri semata sebagai figur penegak hukum adat, melainkan sebagai ibu yang menanggung pertarungan batin paling sunyi dan paling berat. Dalam dirinya, cinta keibuan dan kewajiban moral tidak saling meniadakan, tetapi justru bertemu dalam bentuk pengorbanan tertinggi. Keputusan menolak deponir perkara Kauseng bukanlah ketiadaan rasa, melainkan puncak kesadaran etis yang lahir dari ruang batin yang telah ditempa oleh nilai adat Mandar.

Sebagai perempuan Mandar, yang dalam tradisi tidak hanya berfungsi domestik, tetapi juga penjaga keseimbangan nilai –Puang Cadzia memikul mandat kultural yang melampaui peran biologis sebagai ibu. Ia memahami bahwa hukum adat bukan sekadar aturan eksternal, melainkan penyangga martabat kolektif. Dalam kesadarannya, membiarkan hukum runtuh demi menyelamatkan anak justru berarti menghancurkan masa depan banyak anak lain.

Puang Cadzia telah berhasil menerapkan pranata adat, pesan dari leluhurnya terkait supremasi hukum:

tammaeloq pai di passosoq (tidak tergiur sogokan); tattitonggang pai lembarna (tidak memihak); takkeindo pai takkeama (tidak beribu tidak berayah); takkelulluareq pai (tidak mempunyai saudara);

takkesola takkebali pai (tidak mempunyai sahabat dan tidak pula mempunyai musuh);

Dengan demikian, Puang Cadzia menghadirkan gambaran perempuan Mandar yang utuh: ia tidak tunduk pada sentimentalitas, namun juga tidak kehilangan rasa. Supremasi hukum yang ditegakkannya lahir dari ruang batin yang jernih, ruang di mana cinta, duka, dan keadilan bertaut dalam satu keputusan tragis namun bermartabat. Ruang batin Puang Cadzia adalah ruang kesadaran ganda: ia merasakan duka sebagai ibu, sekaligus tanggung jawab sebagai bagian dari pranata adat. Pelukan terakhirnya kepada Kauseng bukan sekadar gestur kasih, melainkan ritus batin, penanda bahwa cinta seorang ibu tidak selalu bermuara pada penyelamatan fisik, tetapi pada peneguhan nilai yang lebih abadi. Di titik inilah, kekuatan perempuan Mandar tampil bukan sebagai kelembutan semata, melainkan sebagai ketegasan moral yang berani menanggung luka demi keadilan.

Pendahuluan

Karya sastra kerap menjadi ruang representasi bagi relasi kuasa, nilai budaya, dan pergulatan identitas sosial. Dalam sastra yang berakar pada tradisi lokal, tokoh perempuan sering kali

tidak hanya hadir sebagai unsur naratif, melainkan juga sebagai medium untuk membaca struktur sosial yang melingkupinya. Hal tersebut tampak jelas dalam kisah Puang Cadzia, seorang perempuan Mandar yang berada dalam posisi strategis sekaligus tragis: sebagai ibu, istri pemangku adat, dan subjek moral yang harus memilih antara cinta keluarga dan supremasi hukum adat.

Pendekatan interseksionalitas relevan untuk membaca tokoh ini karena identitas dan pengalaman Puang Cadzia dibentuk oleh pertautan berbagai kategori sosial, seperti gender, status kekerabatan, kedudukan adat, dan tanggung jawab moral. Interseksionalitas, sebagaimana diperkenalkan Kimberle Crenshaw, menekankan bahwa penindasan dan kerentanan tidak bekerja melalui satu sumbu tunggal, melainkan melalui persilangan berbagai struktur kuasa. Dengan demikian, analisis terhadap Puang Cadzia tidak cukup dilakukan sebagai pembacaan tokoh ibu yang berduka, melainkan harus ditempatkan dalam konteks sosial-budaya yang lebih luas.

Tulisan ini bertujuan menjelaskan kisah Puang Cadzia melalui tiga lapisan pembacaan, yaitu makro, meso, dan mikro. Lapisan makro memeriksa struktur sosial dan ideologis yang melingkupi cerita, lapisan meso menelaah institusi keluarga dan adat sebagai ruang negosiasi kuasa, sedangkan lapisan mikro mengamati tindakan, simbol, dan bahasa yang membangun tragedi naratif.

Lapisan Makro

Pada lapisan makro, kisah Puang Cadzia dapat dipahami sebagai representasi tata sosial masyarakat Mandar yang menjunjung tinggi hukum adat, martabat kolektif, dan prinsip keadilan tanpa memandang hubungan personal. Cerita ini menampilkan adat Kerajaan Balanipa dengan seperangkat norma seperti Tattiongang, Tammaeloq, Takkeindo, dan Takkeama yang menuntut penegakan hukum secara objektif, jujur, dan tidak memihak. Prinsip-prinsip tersebut menunjukkan bahwa hukum adat tidak berdiri semata sebagai instrument penghukuman, tetapi sebagai perangkat untuk menjaga keseimbangan sosial.

Dalam kerangka ini, tindakan Puang Cadzia yang menolak perlindungan terhadap anaknya tidak dapat dibaca sebagai pengingkaran terhadap kasih keibuan, tetapi sebagai bentuk loyalitas terhadap tatanan nilai yang lebih besar. Ia menempatkan hukum adat di atas kepentingan pribadi, termasuk ikatan darah. Keputusan ini memperlihatkan bahwa dalam masyarakat adat, individu tidak berdiri sebagai entitas otonom yang bebas dari komunitas, melainkan sebagai bagian dari struktur kolektif yang mengatur kewajiban moral dan sosial. Oleh sebab itu, tragedy yang dialami Puang Cadzia bukan hanya tragedi keluarga, melainkan juga tragedy etis yang menguji legitimasi hukum adat itu sendiri.

Pada tingkatan makro, Puang Cadzia juga dapat dipahami sebagai figure yang melampaui stereotip perempuan dalam tradisi patriarkal. Cerita ini menunjukkan bahwa perempuan Mandar bukan sekadar pelengkap domestic, namun juga menjadi pilar penjaga keseimbangan

spiritual dan etis masyarakat. Dengan demikian, tokoh Puang Cadzia menghadirkan pembalikan penting terhadap pandangan yang menempatkan perempuan hanya sebagai pihak subordinat. Ia justru tampil sebagai penentu akhir dari sebuah keputusan moral yang menentukan hidup-matinya seorang anak.

Lapisan Meso

Jika lapisan makro menyoroti struktur besar masyarakat, maka lapisan meso berfokus pada institusi yang lebih dekat dengan tokoh, yaitu keluarga, adat, dan komunitas kampung. Konflik utama dalam cerita bermula dari tindakan I Kauseng yang terlibat dalam pembunuhan akibat cinta, kecemburuan, dan tekanan batin yang tak tersalurkan. Peristiwa tersebut kemudian memicu reaksi sosial yang sangat kuat, berupa pengejaran warga dan tuntutan pertanggungjawaban hukum. Pada titik ini, cerita memperlihatkan bagaimana masyarakat adat bekerja sebagai sistem yang tidak mengatur norma, tetapi juga mengelola rasa takut, malu, dan kehormatan bersama.

Mekanisme deponir perkara yang disebut dalam cerita menunjukkan adanya ruang perlindungan adat bagi pelaku yang memasuki wilayah rumah pemangku adat. Secara sosial, mekanisme ini menandakan bahwa adat tidak hanya bersifat represif, tetapi juga menyediakan jalan bagi penyelesaian konflik yang mempertimbangkan kehormatan institusi. Akan tetapi, Puang Cadzia membatalkan kemungkinan itu dengan menyatakan bahwa Kauseng tidak berada di rumah adat, melainkan di rumah orang tuanya sendiri. Dengan pernyataan tersebut, ia meruntuhkan dasar legal yang bisa menyelamatkan anaknya.

Keputusan itu menandai posisi Puang Cadzia sebagai subjek yang sadar sepenuhnya akan konsekuensi sosial dari tindakannya. Ia tidak bertindak dalam ketidaktahuan, tetapi dalam pengetahuan penuh mengenai struktur hukum adat yang berlaku. Karena itu, tindakan tersebut menunjukkan adanya ketegangan antara peran keibuan dan tanggung jawab kelembagaan. Sebagai ibu, ia memiliki dorongan untuk melindungi anak; sebagai bagian dari keluarga adat, ia terikat pada kewajiban menjaga martabat hukum; dan sebagai perempuan Mandar, ia memikul mandat moral yang jauh lebih luas. Di sinilah interseksionalitas bekerja bersilang.

Pada lapisan meso, konflik juga memperlihatkan bagaimana otoritas adat hanya dapat dipertahankan apabila dijalnkan dengan integritas. Sekiranya Puang Cadzia memilih menyelamatkan anaknya melalui manipulasi status perlindungan adat, maka hukum adat akan berubah menjadi alat kepentingan keluarga. Dengan menolak hal itu, ia justru menegaskan bahwa hukum harus berlaku setara bagi semua. Maka, tindakannya dapat dimaknai sebagai bentuk etika publik yang melampaui emosi privat.

Lapisan Makro

Pada lapisan mikro, pembacaan difokuskan pada detail naratif yang membangun daya tragedy cerita, seperti gestur, dialog, simbol, dan diksi yang digunakan. Salah satu momen paling penting adalah ketika Puang Cadzia merangkul Kausengl alu membaringkannya di pangkuannya sebelum melaksanakan hukuman. Adegan ini sangat kuat secara simbolik karena pangkuan ibu, yang lazimnya diasosiasikan dengan perlindungan dan kehangatan, justru menjadi ruang bagi kematian. Perpaduan makna ini menghadirkan ironi yang mendalam. Kasih sayang mencapai bentuk paling tragis ketika ia diwujudkan sebagai pengorbanan.

Simbol rumah adat juga memainkan peran penting dalam lapisan mikro. Rumah adat bukan sekadar ruang fisik, tetapi arena penentuan status hukum. Ketika Kauseng tidak diakui berada dalam wilayah perlindungan adat, makna rumah berubah menjadi penanda batas antara keselamatan dan penghukuman. Dengan demikian, simbol ruang dalam cerita tidak netral, melainkan berfungsi sebagai perangkat naratif untuk menegaskan perbedaan antara legitimasi dan pelanggaran.

Di tingkat mikro pula, pilihan bahasa menampilkan penekanan pada kata-kata seperti “supremasi hukum”, tanpa pandang bulu, “martabat”, dan “pengorbanan”. Istilah-istilah tersebut bukan hanya deskriptif, tetapi juga normative. Bahasa itu menegaskan bahwa tindakan Puang Cadzia dilandasi oleh kesadaran etis, bukan sekadar reaksi emosional. Dengan kata lain, mikrostruktur cerita membangun citra tokoh sebagai sosok yang tragis sekaligus berwibawa.

Adegan eksekusi Kauseng di pangkuan ibunya menjadi puncak dramatic cerita. Secara mikro, peristiwa itu dapat dibaca sebagai tindakan paling ekstream dari penegakan hukum adat. Secara estetis, ia menghadirkan ketegangan antara cinta dan kewajiban. Secara simbolik, ia menandai bahwa hukum adat dalam cerita ini hanya dapat ditegakkan melalui kehilangan yang sangat menyakitkan. Karena itu, tragedi yang dialami Puang Cadzia tidak hanya menimbulkan kesedihan, tetapi juga mengukuhkan nilai moral yang hendak dipertahankan oleh komunitasnya.

Puang Cadzia dan Interseksionalitas

Melalui pembacaan interseksional, Puang Cadzia dapat dipahami sebagai sunjek yang mengalami berbagai posisi sosial secara serentak. Ia adalah perempuan, ibu, istri pemangku adat, dan penjaga nilai komunitas. Setiap posisi tersebut membawa tuntutan dan tekanan yang berbeda. Sebagai perempuan, ia hidup dalam struktur budaya yang secara historis memberi ruang terbatas; sebagai ibu, ia memiliki tanggung jawab afektif untuk melindungi anak; sebagai bagian dari keluarga adat, ia harus menjaga kehormatan institusi; dan sebagai subjek moral, ia dituntut untuk menegakkan keadilan secara tidak memihak.

Dengan demikian, Puang Cadzia tidak dapat diposisikan sebagai korban pasif. Ia adalah agen moral yang sadar dan aktif dalam menentukan arah tragedy. Pilihannya memang menyakitkan, tetapi sekaligus menunjukkan kemampuan perempuan untuk mengambil keputusan etis yang

 

kompleks. Dalam perspektif ini, tokoh Puang Cadzia merepresentasikan kekuatan perempuan Mandar yang tidak hanya bersandar pada peran domestic, namun juga pada ototritas budaya dan spiritual.

Penutup

Kisah Puang Cadzia menghadirkan tragedy yang kaya makna karena mempertemukan konflik keluarga, adat, dan keadilan dalam satu rangkaian naratif. Pada lapisan makro, cerita menegaskan pentingnya supremasi hukum adat dalam menjaga tatanan sosial. Pada lapisan meso, cerita menunjukkan bagaimana keluarga dan institusi adat saling berhadapan dalam menentukan legitimasi hukum. Pada lapisan mikro, simbol-simbol seperti pangkuan ibu, rumah adat, dan penolakan deponir memperdalam dimensi tragedy tokoh.

Melalui pendekatan interseksionalitas, Puang Cadzia tampak sebagai figure perempuan yang memikul berlapis-lapis identitas dan tanggung jawab. Ia bukan sekadar ibu yang kehilangan anak, melainkan subjek etis yang menegakkan hukum dengan harga yang sangat mahal. Karena itu, cerita ini tidak hanya penting sebagai narasi adat, tetapi juga sebagai refleksi kritis mengenai relasi antara gender, kuasa, hukum, dan pengorbanan dalam masyarakat tradisional.


*) Penulis: Humaerah Nur’izzatinnisa adalah Mahasiswa Sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

REDAKSI

Koran Online TAYANG9.COM - "Menulis Gagasan, Mencatat Peristiwa" Boyang Nol Pitu Berkat Pesona Polewali Sulbar. Email: sureltayang9@gmail.com Gawai: +62 852-5395-5557

Recent Posts

Menanamkan Nilai Luhur Mala’bi’

SALAH satu kekayaan terbesar yang diwariskan oleh para leluhur Mandar kepada generasi penerus bukanlah harta…

2 jam ago

Bedah Film Marlina, Kartini Manakarra Soroti Kekerasan Gender

Majene, tayang9.com — Kartini Manakarra menggelar kegiatan nonton bareng dan bedah film Marlina Si Pembunuh…

2 hari ago

Syekh Abdul Mannan

DALAM sejarah perkembangan Islam di Tanah Mandar, nama To Salama' Syekh Abdul Mannan menempati posisi…

2 hari ago

Analisis Objektif Novel Asmaraloka Karya Danarto, Melalui Pendekatan Semiotika Rolland Barthes

NOVEL Asmaraloka (1999) karya Danarto merupakan salah satu karya sastra Indonesia modern yang paling mengaburkan…

2 hari ago

Dewan Kebudayaan atau Dewan Kekuasaan?

SALAH satu bagian paling problematis dalam rancangan perda ini adalah pembentukan Dewan Kebudayaan Daerah. Secara…

2 hari ago

Guru Mengajar Indonesia,  Siapa Mengajar Kesejahteraan Guru

BEBERAPA hari yang lalu saya membaca sebuah unggahan di media sosial yang membahas tentang perbandingan…

4 hari ago