Sunday , November 17 2019
Home / BERITA / Wiranto Ditikam, MUI Sulbar : Itu Tidak Dibenarkan Dalam Islam
Abdul Mannan Musa.

Wiranto Ditikam, MUI Sulbar : Itu Tidak Dibenarkan Dalam Islam

Mamuju – Tayang9 – Menanggapi peristiwa penikaman terhadap Menkopolhukam Wiranto, yang terjadi beberapa waktu lalu, menuai komentar dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sulawesi Barat.

Salah seorang unsur Ketua MUI Sulawesi Barat Drs. H. Abdul Mannan Musa mengatakan, penyerangan pada Wiranto tersebut, dalam sangat tidak dibenarkan dalam prinsip ajaran Islam.

“Apalagi Pak Wiranto itu, adalah seorang pejabat atau pemimpin yang harus kita taati. Jadi penyerangan itu tidak beralasan, itu namanya main hakim sendiri, itu tidak dibenarkan dalam Islam. Kalau ada permasalahan, silahkan diselesaikan melalui hukum atau aturan yang ada, jangan diselesaikan dengan kekerasan yang membabi buta,” ucap Abdul Mannan Musa, Jum’at,10/10/19.

Selain itu juga menambahkan, bahwa secara internal kelembagaan MUI Sulawesi Barat, mengecam tindakan tersebut, dan ia juga meminta pada aparat kepolisian agar menyelesaikan masalah tersebut sesuai aturan hukum.

“Maka kami, dari MUI Provinsi Sulbar mengecam tindakan brutal seperti itu, dan diminta kepada aparat yang berwewenang, menyelesaikan persoalan itu sesuai hukum yang berlaku,” tutupnya.(*/FM)

About MASDAR

lahir dari keluarga petani, dan kini tengah serius menjadi seorang jurnalis dan penulis baik.

Check Also

Tiga Parpol Koalisi Potensi Tinggalkan Habsi – Irwan, Jayadi : PBB dan PKS Kita Akan Ajak

Mamuju – Tayang9 – Menanggapi adanya Tiga (3) Partai Politik (Parpol) koalisi yakni Demokrat, PBB …

Habsi Kembalikan Formulir Pendaftaran ke Gerindra

Mamuju – Tayang9 – Bakal calon petahana Bupati Kabupaten Mamuju Habsi Wahid, secara resmi mengembalikan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KACO baru saja menaiki punggung kuda balibbinna, namun belum sempat ia keluar menuju jalan yang berkerikil depan rumahnya, mendadak ia disuguhi pemandangan segerombol anak-anak putih abu yang berkonvoi memacu sepeda motornya dengan suara knalpot yang memekik mengalahkan ringkik kudanya. Urung melangkahkan kaki kudanya, Kaco lalu berteriak dan bertanya kepada Cicci yang sedang membilas daster kenu’na di samping passauang, “allo apa dite’e di’e Kindo’na”. Cicci menjawab, “allo araba’ sippara hari pendidikan nasional”. Kaco membatin, “Oh, pantas anak-anak sekolah itu merayakannya dengan trek-trekan. Semoga kemajuan pendidikan tidak saja bergerak lamban, namun berlari kencang sekencang sepeda motor trek-trekan anak putih abu itu”.[yat teha]