KACO dan Cicci magiging anna lippu ilalang andang limbang, saat mendengar bunyi orkes caiyya caiyya pelloa popo la’dung lao di nawang marroyong banua di kappunna. Tak kenal siang dan malam hari di acara pambaca-baca tetangganya itu.
Bukan soal nada dan irama dangdutnya yang seperti biasa begitu Kaco dan Cicci gandrungi, tetapi ini soal empati ditengah bencana warga kampung sebelah yang masih merintih kesakitan dalam kedukaan di pengungsiannya.
Kaco Cicci akhirnya hanya bisa memilih untuk mendo’akan tetangganya itu, kiranya Tuhan memberi petunjuk kepada tetangganya agar bisa menyadari bahwa, tak begitu baik berbahagia ditengah suasana duka saudaranya yang lain.
“Issangi nawang, issang toi sussana luluare’ sallammu di lalang lino serta musik yang haram adalah bunyi garpu, sendok dan piring yang terdengar gemerincing dan beradu di saat ada tetangga sebelah rumah yang sedang merintih sakit menahan rasa laparnya”, begitu pesan leluhur dan pappasang waliyullah yang amat melekat baik dalam benak Kaco juga Cicci. [mst]
MAJENE hari ini dikenal sebagai kota yang tenang di pesisir barat Sulawesi. Namun di balik…
KEMARIN sore saya teringat sebuah percakapan sederhana bersama anak laki-laki saya, Made Ali Maulana M.…
MATENG, Tayang9.com – Pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah menggelar upacara peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026…
KETIKA Allah SWT pertama kali menurunkan wahyu kepada Nabi Besar Muhammad SAW di Gua Hira,…
POLMAN, TAYANG9 - Tahapan persiapan Musyawarah Cabang (Muscab) Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Polewali Mandar terus…
DI tengah arus perubahan zaman yang begitu cepat, masyarakat sering kali memahami adat hanya sebagai…