Selasa , Juni 2 2020
Home / KOLOM / Saat Nonton Biduan (part 5)

Saat Nonton Biduan (part 5)

Di sudut panggung sebelahku, kerumunan penonton sepertinya sudah mulai tak sabaran, hasratnya sebagai penikmat panggung sudah berada di ubun-ubun, ingin melihat penampilan Biduan yang sedari tadi membikin mata dahaga tak ketulungan.

Sang MC trus saja bertingkah, dia benar-benar menjadi penguasa panggung malam ini. Apa yang diperintahkannya, baik Biduan atau “player” musik, akan patuh dan nurut dengan apa yang menjadi titahnya.

Malam terus bergerak semakin larut, tapi sang Biduan idola tak kunjung menyapa di pelupuk mata para penonton. “Praaakkkkk…”, suara lemparan kemasan air minum yang terisi setengah tiba-tiba saja mendarat di atas panggung. Beruntung tak ada yang cedera karena lemparan itu.



Melihat situasi itu, sang MC segera bertindak. “sabar… sabar… kawan-kawan yang budiman…!!”, suara dari sang MC. Seperti berusaha menenangkan situasi penonton yang sudah mulai mengganas.

Lalu sang MC kembali membesarkan suaranya,
“baiklah karena malam ini makin panas, yoookkk kita buat tambah panas lagi dengan penampilan Biduan yang sangat… sangat…. sangat… uuuuuuuhhhh,,, aaagghhhhkkkkk… setuju…???”.

Lalu serentak saja penonton di depan panggung yang sedari tadi membuka baju karena gerah dan berteriak. setujuuuuuu”.
Dan saya pun tak ketinggalan, tanpa sadar berteriak dengan kata yang sama “setujuuuuuuu”

Memang luar biasa, sang MC cukup lihai dan sukses memainkan emosi para penonton, seperti layangan yang ditarik kemudian diulur lagi tanpa sadar. Memainkan emosi penonton yang hanya dengan dasar nafsu tanpa memakai akal yang sehat, menjadi mudah mengendalikannya.

Kemudian si MC kembali seperti memompa hasrat penonton yang sudah menggebu,
“apa kalian kuat untuk digoyang” suara si MC seperti menggetarkan alas panggung.

Serentak, “masih kuaaaaattttttt”
teriak penonton. Atap-atap rumah disekitaran panggung seperti bergemuruh.



“Trimaaaaaa kaaassssihh” ucap si MC. Nadanya seperti mau berdamai dengan penonton yang sudah seperti macan kelaparan.

“Artis penyanyi kami yang akan tampil di hadapan sekalian malam hari ini, membawakan tembangnya dengan alunan dangdut koplo yang berjudulllllllll….. Jarang Goyang. Kita sambut dengan meriah penyanyi cantik seksi dan masih jomblohhhhhhhh looohhhhh… , Missss Shintaaaa”

Biduan yang akan tampil dipanggung itu benar-benar seksi dan cantik. Stelan rok pendek imut sejengkal diatas lutut, jika terkena angin sedikit saja rok mininya akan tersingkap, seolah-olah merayu mata penonton. Kulit putih nan mulus, memakai baju putih namun transparan, membuat lelaki didepan panggung seperti menggila. Di bibirnya berhias warna merah menantang yang tak lepas dengan senyum merekah dan kakinya dengan sepatu hak tinggi menampakkan betisnya bagai layang lewu.

Penonton langsung berhambur di depan panggung, seperti tumpahan air bah yang akan melumat apapun yang dilaluinya. Jalan sang Biduan sengaja dibuat dengan berlenggok, tingkat centil itu membuat dada serasa sesak. Tak ayal, penonton yang ada di depan menjadi salah fokus pada rok mini seksinya.

“Ayyyoooooo kita bergoyang sampai puas, Abang-abang yang di depan panggung siyappp untuk Shintaaaa goyang, mmaauuuuuu bang…??? ”



Biduan itu ketengah panggung, memberi salam kepada penonton yang benar-benar sangat dahaga akan goyangan patah-patah.

Lalu musik dangdut koplo pun dimulai, dengan satu aba-aba suara gendang. Penonton langsung bergoyang dengan riangnya. Banyak yang bertelanjang dada, ditangannya ada kaos oblong yang diputar-putar di atas kepala. Sungguh irama dangdut koplo itu menghipnotis mereka.

“Eee..eee..goyang bareng..asek-asekkkkk,”

…..berlanjut………

About SULHAN SAMMUANE

Selain Menulis dirinya juga dikenal aktif sebagai pemerhati pendidikan anak usia dini

Check Also

Jeritan Hati Anak Sekolah Alam Salule’bo Topoyo Mateng

Meski sekarang kami tak lagi di tempat asal. Meski kini kami telah terpisah dengan desa …

Carita Kaco Cicci 02 Ramadan

KACO jelang buka tiwikke’ tanditara-tara begitu membuka passambo kappar di pacekona ia lalu memanggil Cicci …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

KACO Siang itu, Kaco sala pa'dutang, tidak ada yang bisa dilakukan selain mamurrus. Dalam kecepatan 180 perjam, Kaco terpaksa ma'ondongngi appang bassi siola bala beke. Cicci yang menyaksikan itu hanya bisa tertawa terbahak. Belum selesai Cicci tertawa melihat kelakuan Kaco, Cicci juga kemudian mengangkat daster dan lari tunggang langgang. Jingkang dan meloncati petawung anna passukkeang. Cicci pikir Kaco lari karena dikejar anjing gila. Ternyata belakangan Cicci tahu kalau ternyata Kaco mamurrus karena hendak menuju pappelembangan karena nalulang setelah manggasa' kaweni pagi tadi.”.[yat teha]