Thursday , January 23 2020
Home / KOLOM / Saat Nonton Biduan (part 5)

Saat Nonton Biduan (part 5)

Di sudut panggung sebelahku, kerumunan penonton sepertinya sudah mulai tak sabaran, hasratnya sebagai penikmat panggung sudah berada di ubun-ubun, ingin melihat penampilan Biduan yang sedari tadi membikin mata dahaga tak ketulungan.

Sang MC trus saja bertingkah, dia benar-benar menjadi penguasa panggung malam ini. Apa yang diperintahkannya, baik Biduan atau “player” musik, akan patuh dan nurut dengan apa yang menjadi titahnya.

Malam terus bergerak semakin larut, tapi sang Biduan idola tak kunjung menyapa di pelupuk mata para penonton. “Praaakkkkk…”, suara lemparan kemasan air minum yang terisi setengah tiba-tiba saja mendarat di atas panggung. Beruntung tak ada yang cedera karena lemparan itu.

Melihat situasi itu, sang MC segera bertindak. “sabar… sabar… kawan-kawan yang budiman…!!”, suara dari sang MC. Seperti berusaha menenangkan situasi penonton yang sudah mulai mengganas.

Lalu sang MC kembali membesarkan suaranya,
“baiklah karena malam ini makin panas, yoookkk kita buat tambah panas lagi dengan penampilan Biduan yang sangat… sangat…. sangat… uuuuuuuhhhh,,, aaagghhhhkkkkk… setuju…???”.

Lalu serentak saja penonton di depan panggung yang sedari tadi membuka baju karena gerah dan berteriak. setujuuuuuu”.
Dan saya pun tak ketinggalan, tanpa sadar berteriak dengan kata yang sama “setujuuuuuuu”

Memang luar biasa, sang MC cukup lihai dan sukses memainkan emosi para penonton, seperti layangan yang ditarik kemudian diulur lagi tanpa sadar. Memainkan emosi penonton yang hanya dengan dasar nafsu tanpa memakai akal yang sehat, menjadi mudah mengendalikannya.

Kemudian si MC kembali seperti memompa hasrat penonton yang sudah menggebu,
“apa kalian kuat untuk digoyang” suara si MC seperti menggetarkan alas panggung.

Serentak, “masih kuaaaaattttttt”
teriak penonton. Atap-atap rumah disekitaran panggung seperti bergemuruh.

“Trimaaaaaa kaaassssihh” ucap si MC. Nadanya seperti mau berdamai dengan penonton yang sudah seperti macan kelaparan.

“Artis penyanyi kami yang akan tampil di hadapan sekalian malam hari ini, membawakan tembangnya dengan alunan dangdut koplo yang berjudulllllllll….. Jarang Goyang. Kita sambut dengan meriah penyanyi cantik seksi dan masih jomblohhhhhhhh looohhhhh… , Missss Shintaaaa”

Biduan yang akan tampil dipanggung itu benar-benar seksi dan cantik. Stelan rok pendek imut sejengkal diatas lutut, jika terkena angin sedikit saja rok mininya akan tersingkap, seolah-olah merayu mata penonton. Kulit putih nan mulus, memakai baju putih namun transparan, membuat lelaki didepan panggung seperti menggila. Di bibirnya berhias warna merah menantang yang tak lepas dengan senyum merekah dan kakinya dengan sepatu hak tinggi menampakkan betisnya bagai layang lewu.

Penonton langsung berhambur di depan panggung, seperti tumpahan air bah yang akan melumat apapun yang dilaluinya. Jalan sang Biduan sengaja dibuat dengan berlenggok, tingkat centil itu membuat dada serasa sesak. Tak ayal, penonton yang ada di depan menjadi salah fokus pada rok mini seksinya.

“Ayyyoooooo kita bergoyang sampai puas, Abang-abang yang di depan panggung siyappp untuk Shintaaaa goyang, mmaauuuuuu bang…??? ”

Biduan itu ketengah panggung, memberi salam kepada penonton yang benar-benar sangat dahaga akan goyangan patah-patah.

Lalu musik dangdut koplo pun dimulai, dengan satu aba-aba suara gendang. Penonton langsung bergoyang dengan riangnya. Banyak yang bertelanjang dada, ditangannya ada kaos oblong yang diputar-putar di atas kepala. Sungguh irama dangdut koplo itu menghipnotis mereka.

“Eee..eee..goyang bareng..asek-asekkkkk,”

…..berlanjut………

About SULHAN SAMMUANE

Selain Menulis dirinya juga dikenal aktif sebagai pemerhati pendidikan anak usia dini

Check Also

Saat Nonton Biduan (part 2)

BARU kali ini bisa melanjut cerita tentang bagaimana riuhnya hiburan ala-ala kampung ditempatku saat nonton …

Saat Nonton Biduan (part 1)

SEBAGAI orang yang tinggal di desa, hiburan tentu menjadi barang mewah dan dinanti. Orang-orang di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

KACO baru saja menaiki punggung kuda balibbinna, namun belum sempat ia keluar menuju jalan yang berkerikil depan rumahnya, mendadak ia disuguhi pemandangan segerombol anak-anak putih abu yang berkonvoi memacu sepeda motornya dengan suara knalpot yang memekik mengalahkan ringkik kudanya. Urung melangkahkan kaki kudanya, Kaco lalu berteriak dan bertanya kepada Cicci yang sedang membilas daster kenu’na di samping passauang, “allo apa dite’e di’e Kindo’na”. Cicci menjawab, “allo araba’ sippara hari pendidikan nasional”. Kaco membatin, “Oh, pantas anak-anak sekolah itu merayakannya dengan trek-trekan. Semoga kemajuan pendidikan tidak saja bergerak lamban, namun berlari kencang sekencang sepeda motor trek-trekan anak putih abu itu”.[yat teha]